Minggu, 30 Desember 2018

Radikalisme Muncul Karena Lemahnya Pemahaman Agama


Radikalisme Muncul Karena Lemahnya Pemahaman Agama
Halaqoh Kebangsaan

Forum MuslimGerakan radikalisme sesungguhnya telah berlangsung sejak lama dan  bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja, akan tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong. Radikalisme di kalangan masyarakat bisa muncul karena banyak hal. Salah satunya adalah karena lemahnya pemahaman agama. 

Demikian disampaikan oleh KH Dian Nafi, Pengasuh Pondok Pesantren Windan Surakarta dalam kegiatan Halaqoh Kebangsaan bagi Mubaligh dan Pengasuh Pondok Pesantren di Ponpes Darul Falah, Jekulo Kudus Jateng, Selasa (7/7) yang digagas oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Umat yang lemah dari segi pemahaman agama biasanya mudah tergiur dengan bujukan material untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama,” jelasnya di hadapan 265 peserta halaqoh dari wilayah eks Karsidenan Pati.

Disinilah, tambah Kiai Nafi, peran mubaligh dan pondok pesantren sangat strategis dalam pencegahan merebaknya ajaran radikal di kalangan masyarakat.

Lebih lanjut, Dian Nafi menjelaskan pondok pesantren memiliki daya dukung kesejarahan untuk mengamalkan dan mengembangkan visi moderatisme Islam di Indonesia. Pola sikap toleran menjadi nafas pondok pesantren sehari-hari. Visi moderatisme dan toleransi itu terutama berteladankan pada Walisongo di dalam menyebarkan dakwah di kalangan masyarakat Nusantara. Visi moderatisme dan toleransi pondok pesantren juga didorong oleh mandatnya untuk menyiapkan para santri agar dapat hidup bermartabat di ruang publik tempat hidup masyarakat majemuk. 

Untuk itu menurut Dian Nafi pondok pesantren sejak awal berbagi ranah dengan masyarakat adat, masyarakat pekerja, dan masyarakat yang mengelola urusan publik untuk bersama-sama memajukan kehidupan rakyat. Dalam pilihan itu peran-peran pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan, keilmuan, kepelatihan, pemberdayaan masyarakat, bimbingan keagamaan dan simpul budaya memberinya kekuatan untuk membantu masyarakat agar mudah menyerap prinsip Islam rahmatan li al-‘âlamîn. 

“Krisis pendidikan di dunia sekarang ini sebagian besar berakar pada cara kita mengajar anak-anak. Dengan potensi yang sangat besar ini, pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tersebar merata dan luas di seluruh pelosok tanah air memiliki peran yang amat penting dan strategis dalam pencegahan terorisme. Fakta sejarah yang tidak terbantahkan dalam perjalanan bangsa ini, pesantren memiliki fungsi tidak hanya sebagai lembaga pendidikan tetapi juga sebagai lembaga pencerahan yang menjaga kedamaian dan kerukunan umat,” ungkapnya.

Sementara itu Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Sodaqoh yang juga menjadi narasumber mengingatkan pentingnya memahami sejarah masuknya Islam di tanah air. Termasuk memahami cara Walisongo dalam mengislamkan masyarakat Jawa. Walisongo menyampaikan ajaran Islam melakukannya dengan beragam cara bagaimana supaya ajaran Islam di terima di tengah-tengah  masyarakat. 

“Walisongo  dalam berdakwah  banyak banyak melakukan kompromi-kompromi. Tentu dengan model temporer, bukan paten, dan bisa di sesuaikan dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Sehingga tujuan mengajarkan dan mengamalkan Islam yang yang rahmatan lil alamin dapat tercapai,” ujarnya.

Halaqoh yang mengambil tema Reaktualisasi Dakwah Walisongo Menuju Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamain juga menghadirkan narasumber lain yakni Dr H Muhayya akademisi UIN Walisongo, Ustadz Abdurrahman Ayyub, mantan anggota Jamaah Islamiyah dan Kepala Kemenag Provinsi Jateng Drs H Ahmadi. (Muslihudin/Fathoni/NU-Online)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini