Selasa, 25 Desember 2018

Lailatul Qadar



Ilustrasi Lailatul Qadar
Oleh Toriq Hadad

 

Sepuluh hari terakhir bulan puasa, banyak orang mencari malam Lailatul Qadar. Dul Simo termasuk salah satunya. Berdoa pada malam turunnya Al-Quran itu dipercayai lebih baik daripada seribu bulan. Kami bertemu di jalan, ketika dia baru pulang iktikaf dari masjid. Setiap kali ketemu Dul, ada saja "kejutan" yang dia sampaikan.

 

"Mas, saya mengejar Lailatul Qadar untuk berdoa supaya bangsa kita dibebaskan dari empat lupa," katanya membuka percakapan. Saya hanya tersenyum. Apalagi ini?

 

"Lupa yang pertama, tentu Mas sudah bisa menebak. Bebas dari lupa memberantas korupsi. Doa ini yang saya utamakan. Begitu banyak orang penting di negeri kita yang lupa menyejahterakan rakyat, tapi tak pernah lupa memakmurkan diri sendiri lewat korupsi. Nah, penegak hukum kita pun lupa memberantasnya, malah ikut dalam kemeriahan korupsi itu. Mereka yang berjuang melawan korupsi malah dikriminalkan. Penyidik KPK diteror terus. Komisi yang mengawasi putusan hakim malah dilaporkan mencemarkan nama baik. Karena rakyat kebanyakan diam, saya melawannya dengan doa."

 

Saya tercenung, mencoba mengendapkan kata-katanya. Dul semakin bersemangat.

 

"Yang kedua, bebas dari lupa merombak kabinet. Doa ini sifatnya khusus, untuk Pak Jokowi, supaya lebih berani dan tegas. Banyak menteri pintar, tapi salah tempat. Ada yang kurang pintar, juga salah posisi. Akibatnya, pemerintahan seakan berjalan di tempat. Mau bangun lebih banyak jalan tol, tak ada terobosan membebaskan lahan. Mau mempercepat bongkar-muat barang di pelabuhan, para pembantu presiden saling lempar tanggung jawab. Nakhoda tim ekonomi seperti tak bisa mengendalikan kapalnya. Padahal semua orang merasakan ekonomi merosot. Tukang gorengan di pinggir jalan saja mengeluh dagangannya tak selaris bulan puasa tahun lalu."

 

"Tapi hati-hati dengan pergantian kabinet. Nanti proyek-proyek pemerintah malah tertunda-tunda lagi, Dul. Kalau ganti menteri cepat-cepat, malah proyek tak kunjung mengucur, tak ada dana pemerintah yang mengucur. Ekonomi rakyat bisa lebih runyam," komentar saya.

 

"Oke, oke, kalau begitu doa kedua ini saya minta dikabulkan Tuhan tahun depan," jawab Dul.

 

"Doa ketiga, supaya kita tak lupa memberantas politik dinasti. Sudah banyak contoh daerah yang subur tapi ekonominya tak menyejahterakan rakyat karena pemerintah daerah dikuasai anak-bapak-istri-mantu dan sekitarnya saja. Saya kira para hakim Mahkamah Konstitusi, yang mengabulkan anggota keluarga pejabat inkumben mencalonkan diri, lupa mengingat sudah beberapa kepala daerah penghayat politik dinasti masuk penjara karena korupsi," kata Dul lagi.

 

"Wah, wah, ini namanya doa-doa politik, Dul," ujar saya sekenanya.

 

Dul tangkas menjawab, "Lo, apa masalahnya, Mas? Ini doa yang membumi, meng-Indonesia, me-Nusantara. Kan sekarang lagi musim Qiraah Nusantara, membaca Quran saja ditembangkan ala macapat."

 

"Baru tiga doa penangkal lupa, apa yang keempat, Dul?"

 

"Saya ingin para pemimpin organisasi Islam dibebaskan dari lupa bahwa kita pernah bersatu merayakan Lebaran. Masing-masing memang punya cara menetapkan Idul Fitri, yang satu lewat kalkulasi derajat perputaran bumi, yang satu lewat teropong mencari hilal. Tapi semogalah mereka dibebaskan dari lupa tentang betapa indahnya merayakan Lebaran bersama." [FM]

 

Sumber : TEMPO, 12 Juli 2015

Toriq Hadad Pengarang, Wartawan Senior Tempo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini