Selasa, 18 Desember 2018

Jangan Remehkan Negara Yang Produkifitasnya Merosot


Oleh : Hendrajit

Jangan remehkan negara yang produkifitasnya merosot sementara anggaran negara tersedot untuk membiayai pejabat pejabat birokrasi tingkat tinggi yang tidak produktif. Penglaman Turki Utsmani yang bermuara pada keruntuhan bukan karena kalah secara militer tapi karena penetrasi ekonomi asing melalui perdagangan. 


Kedatangan orang2 Eropa ke Turki sejak 1600 telah mengacaukan tatanan ekonomi yang dibentengi oleh komunitas yang berbasis tarekat tarekat sufi dan para ulama. Melalui komunitas berbasis persaudaraan tarekat ini hajat hidup orang banyak dilindungi dengan menerapkan monopoli produksi yang jadi kebutuhan masyarakat. Srhingga produsen dan konsumen tidak jadi obyek pasar bebas dan persaingan bebas ala kapitalisme. 


Negarapun kemudian melindungi tatanan ini dengan menetapkan harga yang tidak merugikan konsumen. Jadi adil. Negara melindungi rakyat yang jadi konsumen. Komunitas persaudaraan tarekat melindungi para anggotanya sebagai produsen sehingga tidak jadi korban persaingan bebas. 


Alhasil. Produsen termotivasi untuk berproduksi sedangkan masyarakat punya daya beli. 


Namun ketika pedagang datang ke Turki kemudian para pedagang Eropa itu memasuki sistem itu dan mengacak acaknya. Metodenya bukan dengan menyaingi komunitas akar rumput Turki itu. Tapi dengan membeli produk produk komunitas dengan harga yang menggiurkan. 


Masalahnya kemudian. Persaingan yang tercipta bukan antara produsen versus konsumen. Tapi antara konsumen dalam negri yang diproteksi negara versus konsumen eropa yang pedagang itu. Sialnya konsumen dalam negri kalah karena hanya bisa membeli barang dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Sementara para pedagang eropa punya emas banyak hasil menjarah benua Eropa menyusul temuan Columbus terhadap benua Amerika. 


Tragisnya. Persaingan kedua konsumen itu malah berakibat buruk bagi produsen. Sebab ketika permintaan meningkat si produsen tidaj menguasai akses kepemilikan bahan baku untuk meningkatkan produksi. 


Alhasil produksi anjlok. Ketika produksi anjlok dan kekhalifahan Turki melarang barang barang dari industri strategis  itu dijual ke asing demi memenuhi kebutuhan konsumen dalam negri.   Yang terjadi malah muncul perdagangan pasar gelap.


Ketika muncul perdagangan pasar gelap maka lahirlah kasta baru. Orang orang kaya baru yang terdiri dari para pedagang yang bermain di pasar gelap dan para pejabat negara pemakan suap. 


Akibatnya amat merusak dan jadi prakondisi menuju keruntuhan dinasti Utsmani. Sebab dari praktek baru itu lahirlah kepemilikan uang ilegal yang bukan berasal dari peningkatan produktifitas ekonomi. 


Inilah pengalaman pahit Turki yang harus jadi pelajaran kita. Sebab cerita tentang Turki tadi mengandung pesan betapa berbahayanya sistem ekonomi persaingan bebas ketika membunuh hasrat produsen berproduksi. Mematikan hasrat berswasembada. 


Sebab hasrat berproduksi dan berswasembada sejatinya bukan perkara ekonomi saja. Melainkan juga budaya. 


Di beberapa daerah yang masih berakar adat istiadat maupun budaya lokal. Hasrat berproduksi bukan sekadar demi keuntungan bisnis tapi juga ibadah dan ritual. 


Orang Bali di Karang Asem ketika membuat kain geringsing atau orang Lampung bikin kain Tapis secara ritual puasa atau doa khusus dulu karena hal itu ddipandang sebagai hajatan sehingga memohon ridho Tuhan yang maha kuasa. 


Betapa pentingnya mempersenyawakan ekonomi dan sosial-budaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini