Rabu, 10 Oktober 2018

Kepingan Neraka di Surga

KH Ahmad Syafii Maarif


Oleh: Ahmad Syafii Maarif


Karena perhatian disedot oleh masalah dalam negeri, nasib rakyat di beberapa negeri Arab yang dilanda krisis berat, agak terlupakan. Artikel Bassel Oudat dari Damaskus di bawah judul "Syria's Impasse" dalam harian Al-Ahram, 25 Agustus 2015, telah memukul batin saya tentang betapa parahnya krisis yang melanda Suria ini. Seakan-akan sebuah kepingan neraka sedang diciptakan di sana oleh para aktornya: lokal, regional, dan global. Pada tingkat lokal melibatkan rezim al-Assad, kelompok Negara Islam (ISIS), dan kelompok Islamis lainnya yang baku hantam berebut pengaruh di negara gagal itu. Islam sebagai agama perdamaian telah berhenti jadi rujukan dalam penyelesaian konflik, dibuang jauh entah ke mana. Para elite yang terlibat dalam konflik berdarah-darah ini semuanya memahami dan bercakap dalam Bahasa Arab, Bahasa Alquran, tetapi nurani mereka telah tersumbat untuk menerima petunjuk.


Pada tataran regional, Iran terus saja memasok senjata dan bantuan lainnya kepada rezim al-Assad dengan tujuan memperkuat pengaruhnya dengan mengorbankan bangsa yang oleng itu. Tentu saja Iran dalam berebut hegemoni politik dengan Saudi Arabia di kawasan kacau itu ingin memperagakan taringnya dengan menguasai Suria sejauh mungkin. Perkara rakyat Suria bermain dengan maut setiap saat tidak perlu dipertimbangkan. Inilah corak kekuasaan biadab atas nama agama. Oudat menulis: "Ia [Iran] menyebut Suria sebagai perluasan dari tanahnya sendiri dan sekaligus memanfaatkan konflik itu untuk mendorong posisi tawar yang keras dalam pembicaraan nuklirnya dengan pihak Barat."


Di sini definisi kepentingan nasional tidak ada lagi kaitannya dengan prinsip-prinsip moral Islam. Pada kutup lain Saudi Arabia merasa ringan saja bekerja sama dengan Israel dalam menghadapi Iran. Teologi sunni-syi'ah sama-sama dieksploitasi semata-mata bagi tujuan kekuasaan duniawi. Apa yang disebut bangunan solidaritas Arab sudah lama runtuh. Rezim al-Assad yang Arab, tetapi brutal itu, merasa lebih nyaman berdampingan dengan Iran, demi kelangsungan kekuasaannya. Pergolakan rakyat yang semula damai untuk menuntut kebebasan telah berubah menjadi konflik bersenjata yang tidak jelas ujung-pangkalnya. Kota-kota di seluruh negeri yang nahas itu telah hampir rata dengan tanah.


Di awal kolomnya, Oudat  menulis: "Meskipun merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terburuk di abad ini, krisis Suria tampaknya telah terjerembab melalui keretakan diplomasi internasional. Dielakkan oleh Amerika, disabotase oleh Rusia, dan dizalimi oleh Iran, negeri itu telah jadi korban rezim brutal, milisia sektarian, pasukan upahan dan kelompok jihadis dalam berbagai aliran, dan menjadi mangsa diplomasi pura-pura tetapi tidak ada pengaruhnya…Ia [krisis Suria] telah jadi sumber keuntungan bagi kelompok jihad global, peluang politik bagi Teheran dan Moskow, dan kutukan bagi rakyat jelata." Perang saudara selama empat setengah tahun ini telah merenggut ratusan ribu nyawa, ratusan ribu jadi pengungsi dengan segala penderitaan dalam perjalanan ke berbagai negara. Presiden Bashar al-Assad dengan dukungan Tehran dan Moskwa tampaknya rela melihat Suria jadi puing perang daripada berdamai dengan lawan-lawan politik domestiknya.


Omar Kosh, peneliti oposisi Suria berkata: "Tampaknya Amerika, Rusia, dan Iran punya satu persamaan: syahwat untuk menghancurkan Suria." Tambahan lagi bagi Amerika, dengan hancurnya Suria, Israel pasti akan mendapatkan keuntungan yang besar. Saya hampir kehabisan kosa-kata untuk menggambarkan tentang betapa moral internasional, termasuk dunia Islam, telah tiarap dalam mengatasi krisis kemanusiaan yang sedang diderita rakyat Suria. Memang Amerika masih mengirim bom untuk menghancurkan kekuatan ISIS, tetapi tidak berbuat apa-apa untuk menurunkan rezim brutal al-Assad yang telah membawa negeri itu bertekuk lutut k epadanya yang dulu telah dimulai oleh bapaknya Hafez al-Assad yang sama kejamnya dengan menggunakan Partai Baath Suria sebagai kekuatan penindas.


Sekarang seluruh kota Suria telah binasa, masa depan rakyatnya gelap-gulita, sementara dunia membisu membiarkan drama maut ini berlangsung terus. Ya, Allah, mohon tampakkan keberpihakan Engkau untuk menolong hamba-hambaMu yang menjadi korban para elite yang mabuk dunia dan gila kekuasaan. Rakyat Suria dibiarkan sendiri menanggulangi nasibnya dalam kepungan penderitaan yang nyaris tanpa batas. Oleh sebab itu, ya Allah, dengarlah jeritan tangis mereka, karena Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui! []



Sumber : REPUBLIKA, 08 September 2015
Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini