Jumat, 04 Mei 2018

Paradoks Senjata Nuklir

Parade Nuklir Korea Utara


Forum Muslim - Medio 50-an, Mao Zedong, pemimpin China, memutuskan untuk membuat senjata nuklir. 

Ironinya, keputusan itu dibuat saat kondisi ekonomi China saat itu sudah sedemikian parah, selain karena penerapan reformasi agraria yang tanpa kendali, namun juga embargo perdagangan yang diterapkan AS.

Problemnya sama, dengan dalih komunisme, Washington menganggap aspirasi China untuk bebas dari pengaruh asing, adalah "ancaman bagi kemanusiaan di bumi," seperti diucapkan John F. Kennedy.

Washington bahkan sempat berencana untuk mengulangi kekejiannya di Hiroshima dan Nagasaki beberapa tahun sebelumnya, dengan argumen pre-emptive strike untuk menghujani China dengan bom atom. Menyelamatkan manusia, dengan memusnahkannya.

Namun sejatinya, Mao sangat membenci senjata nuklir. Betapapun ia membenci Jepang, efek kehancuran yang disaksikannya membuatnya yakin bahwa bom atom, adalah strategi terkeji dalam dunia kemiliteran.

Namun di saat yang sama, dalam China yang baru mulai berbenah dan compang-camping dihantam embargo, Mao menyadari bahwa ia kehabisan pilihan.

Korea Utara, dalam dekade ini, mengalami deja vu dengan apa yang dialami China dalam masa Mao. Ideologi negara pilihan mereka disuarakan sebagai sebuah keburukan, dan sudah tentu, program misil nuklir yang mereka kembangkan, adalah 'ancaman bagi kemanusiaan.'

Ekonomi mereka yang morat-marit dan embargo yang mencekik, seolah menjadi harga yang harus mereka tebus untuk mempertahankan ideologi yang dianggap usang dan tiran itu.

Namun banyak yang terlepas dari ingatan, adalah bahwa Kim Jong Un sedang melakukan hal yang persis sama, seperti yang dilakukan Mao. Lagipula, bagi warga Korea Utara yang sudah khatam perihal komunisme, hanya tiga manusia yang layak menjadi idola mereka: Stalin, Mao dan tentu, ayah Kim Jong Un.

Seperti halnya China di masa Mao, Kim tidak membuat senjata nuklir dengan tujuan utama untuk menghabisi manusia di belahan bumi yang lain. Senjata nuklir yang mereka miliki adalah bentuk pertahanan dan alat diplomasi dari agresi Washington.

Akhirnya jelas. Senjata nuklir China membawa Mao untuk duduk setara berunding dengan Nixon. Sebelumnya, AS hanya menganggap China sebagai negara satelit Soviet, dan seperti halnya dengan Korea Utara sebelum program nuklir mereka terverifikasi, bahasa diplomasi Washington adalah ancaman dan ultimatum.

Tak perlu digambarkan bahwa metode bullying ini masih ampuh dilakukan AS kepada negara-negara yang tidak bersekutu dengannya, namun tidak memiliki senjata nuklir. Dalam masa kontemporer, sebut saja Syria, dan Iran, serta Iraq beberapa dekade lalu.

Penekanan leverage politik melalui nuklir ini begitu kentara saat Rusia memutuskan untuk berdiri di belakang Syria, dan membuat rencana neocon untuk mengulang kisah Khadaffi dengan Assad, hancur.

Syria, tidak memiliki senjata nuklir. Namun dengan kehadiran Rusia, sudah cukup untuk memberi Syria ruang bernafas, bermanuver dan berunding - bahkan menendang Washington dari perundingan vital seperti Astana dan Sochi.

Dalam kasus lain seperti Iran, meski tidak memiliki senjata nuklir, namun level teknologi nuklir yang mereka miliki saja, sudah mampu menciptakan deterrent yang cukup kuat untuk membawa Tehran maju di meja perundingan sebagai pihak yang setara.

Memang, bahasa intimidasi, ultimatum dan ancaman masih menjadi hiasan Washington terhadap Tehran, namun leverage politik yang dimiliki Tehran setelah menguasai teknologi nuklir begitu mengkhawatirkan, hingga neocon ketakutan kalau teknologi ini diadopsi oleh banyak negara-negara lain.

Amerika dan rombongan negara satelitnya, bersama dengan israel, sedang memperagakan manuver usang ala Perang Dunia II yang terus diulang, karena selalu berhasil. Ketika Iran membuktikan bahwa metode tersebut tidak lagi efektif dan bisa diredam, status hegemon yang diusung Washington, semakin tergerus dengan berjalannya waktu.

Yang mengejutkan, Kim Jong Un, dalam usianya yang ke-36, telah membuktikan diri sebagai tactician handal. Sejak ayahnya mangkat, ia telah menghembuskan aroma modernisasi - dalam makna sesungguhnya - dan keterbukaan ekonomi dalam Korea Utara.

Saat AS mengancam karena kepanikan akan kemungkinan kehilangan kendali militer di semenanjung Korea, Kim tak bergeming, dan mengaktifkan kembali rumus Mao yang jitu tersebut. Beberapa uji balistik misil nuklir yang dilakukan Korea Utara, telah memberinya kesempatan untuk berhadapan dengan Washington dengan kepala tegak.

Kunjungannya ke China dan janji rekonsiliasi dengan Korea Selatan membuat Washington kehabisan pilihan, selain menurunkan metode ultimatum dan ancaman, menjadi perundingan.

Perundingan ini akan menjadi jalan bagi Kim untuk memangkas anggaran militer yang memakan sebagian besar APBN Korea Utara, untuk kemudian membuka diri terhadap dunia luar - berdagang dan berdiplomasi - dengan tetap mengusung jati diri.

Paradoks, melihat bagaimana senjata nuklir yang diperkenalkan untuk memusnahkan manusia, juga bisa menyelamatkan manusia - meski tidak digunakan sama sekali.

Hanya saja, semoga Korea Utara mengambil pelajaran dari perundingan historis Iran dengan Sekutu beberapa tahun lalu. Ada yang menjadikan ingkar janji, sebagai bagian dari jati diri. (Helmi Aditya)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini