Selasa, 03 April 2018

Polemik Tujuh Huruf dalam al-Qur'an

Prolog
Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad Shallallâhu 'alaihi wasallam ternyata bagaikan magnet yang selalu menarik minat manusia untuk mengkaji dan meneliti kandungan makna dan kebenarannya. al-Qur'an yang diturunkan atas 'tujuh huruf'(sab'atu ahruf) menjadi polemik di kalangan ulama. Polemik ini bermuara pada pengertian sab'ah dan ahruf itu sendiri.
Kalau ditelusuri, akar polemik ini bermula dari Hadis Nabi Muhammad Shallallâhu 'alaihi wasallam yang berbunyi :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِصلى الله عليه وسلمقَالَ « أَقْرَأَنِى جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ ، فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ »

"Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda : " Jibril membacakan al-Qur'an kepadaku dengan satu huruf kemudian aku mengulanginya (setelah itu) senantiasa aku meminta tambah sehingga menambahiku sampai dengan tujuh huruf. " (HR. Bukhari)1
Perbedaan Pendapat
Al-Ahruf adalah bentuk jamak dari harf. Kata harf ini mempunyai makna yang banyak; Harf bisa berarti ujung atau tepi, harf / al-Ahruf berarti huruf dalam istilah Ilmu Nahwu,2 harf yang bermakna puncak seperti diartikan puncak gunung,3 harf juga diartikan sebagai salah satu huruf hijaiyah.
Tidak terdapat nash sharih yang menjelaskan maksud dari sab'ah ahruf. Sehingga menjadi hal yang lumrah kalau para ulama, berdasarkan ijtihadnya masing-masing, berbeda pendapat dalam menafsirkan pengertiannya. Ibnu Hibban al-Busti (w. 354 H) sebagaimana dikutip Al-Suyuti mengatakan bahwa perbedaan ulama dalam masalah ini sampai tiga puluh lima pendapat. Sementara al-Zarqani dalam kitabnya hanya menampilkan sebelas pendapat secara detail dari perbedaan-perbedaan ulama tersebut.
Perbedaan ini muncul dari lafal sab'ah dan ahruf yang masuk kategori lafal-lafal musytarak, yaitu lafal-lafal yang mempunyai banyak kemungkinan arti, sehingga memungkinkan dan mengakomodasi segala jenis penafsiran. Selain itu juga disebabkan adanya fenomena historis tentang periwayatan bacaan al-Qur'an yang memang beragam.
Di sini banyak sekali pertentangan dan perselisihkan pendapat. Berikut ini akan dikemukan sebagiannya seperti yang telah dijelaskan Dr. Syaikh Ali Husain dalam kitabnya Madkhal al-Dirâsat al-Qur'âniyah, sebagai beikut :
1.     Sebagian Ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari kalangan orang Arab dalam pengertian yang sama. Dengan pengertian bahwa dialek orang-orang Arab dalam mengungkapkan suatu maksud itu berbeda-beda, sedangkan al-Qur'an datang dengan menggunakan lafal-lafal menurut dialek tersebut. Kalau saja terdapat perbedaan, niscaya, al-Qur'an akan diturunkan dalam suatu lafal saja. Adapun yang dimaksud tujuh bahasa menurut pendapat tersebut adalah bahasa: Quraisy, Saqif, Hawazan, Kinanah, Tamim, dan Yaman.
2.     Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa, yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh bahasa dari orang-orang Arab yang menjadi tempat al-Qur'an diturunkan. Dengan pengertian bahwa al-Qur'an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh bahasa tadi, yaitu yang paling baik di kalangan Arab. Kebanyakan bahasa yang dipakai oleh al-Qur'an adalah bahasa Quraisy, adapula yang Huzail, Saqîf, Kinanah, Tamim dan Yaman.
3.     Yang dimaksud dengan Tujuh Huruf adalah tujuh 'macam' di dalam al-Qur'an. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menentukan macam dan uslub pengungkapannya. Di antara mereka ada yang manyatakan bahwa bagian yang dimaksud adalah: Amar, nahî, halal, haram, muhkam, mutashabih dan 'amal. Sementara itu, ulama lainnya mengatakan: Wa'd, Wa'îd, Halal, Haram, Mawa'id, Amtsal, dan Ihtijaj. Pendapat lainnya mengatakan: Muhkam, Mutasyâbih, Nâsikh, Mansûkh, Khusus, Umum dan Qashash.
4.     Tujuh huruf juga diartikan beberapa segi lafal yang berbeda dalam satu kalimat dan satu arti, seperti lafal: Halumma, Aqbil, Ta'âl, Ajjil, Asri', ilayya, qurbi dan lain-lain. Lafal yang tujuh tersebut memiliki satu pengertian yaitu perintah "Datanglah".
5.     Ada juga yang mengartikan tujuh huruf dengan perbedaan dalam tujuh hal:
a.     Perbedaan nama-nama dalam bentuk mufrad, mudzakkar, dan cabang-cabangnya.
b.    Perbedaan dalam tashrifanya, dari bentuk Madhi, Mudhari', dan Amar.
c.     Perbedaan dalam ibdâl (pergantian), baik berupa pergantian huruf dengan huruf, atau lafal dengan lafal.
d.    Perbedaan dalam taqdîm dan ta'khîr yang adakalanya bentuk huruf, dan adakalanya bentuk kalimat.
e.     Perbedaan dari segi I'râb.
f.     Perbedaan dari segi penambahan dan pengurangan.
g.    Perbedaan lahjah yang cenderung ke bacaan tafkhîm (tebal) dan tarqîq (tipis), perbedaan yang terakhir ini dikemukakan oleh imam ar-Razi dan didukung oleh Ibnu Qatabah, Ibnu Jazari dan Ibnu Thayyib.5
Analisa
Menurut mayoritas ulama, pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat ke-empat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa, seperti: Aqbil, ta'âl, halumma, ajjil, dan asri', ilayya, qurbi dan lain-lain. Lafal-lafal tersebut berbeda tapi tunggal semakna. Pendapat ini didukung oleh Sufyan bin 'Uyaynah, Ibnu Jarir, Ibnu Wahab dan masih banyak ulama lainnya. [12]
Pendapat ini juga didukung dengan Hadis yang artinya:
 "Diriwayatkan dari Abi Bakrah: " Jibril 'Alaihissalâm Berkata : Hai Muhammad aku akan bacakan al-Qur'an dengan satu huruf. Lalu Mikail 'Alaihissalâm berkata: "Tambahkan lagi untuknya. Jibril 'Alaihissalâm berkata: "Aku akan menambahkannya dua huruf lagi". Kemudian Mikail 'Alaihissalâm berkata: "Tambah lagi". Akhirnya Jibril 'Alaihissalâm menambahnya sampai dengan tujuh huruf. Rasulullah 'Alaihissalâm bersabda : "Sesungguhnya al-Qur'an ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah semampunya dan tidak berdosa. Tetapi jangan sekali-kali mengakhiri zikir rahmat dengan 'adzab atau zikir 'adzab dengan rahmat, seperti ucapanmu: Ta'âl, aqbil, halumma, idzhab, asri' dan a'jil." (HR. Ahmad)6
Epilog
Bangsa Arab mempunyai aneka ragam dialek (lahjah) yang timbul dari fitrah mereka. Setiap suku mempunyai format dialek yang tipikal dan berbeda dengan suku-suku lain. Perbedaan dialek itu tentunya sesuai dengan letak geografis dan sosio-kultural dari masing-masing suku. Salah satu hikmah dari tujuh huruf itu adalah memberi kelegaan kepada umat.
Catatan akhir:
1.     Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, juz. 3, (Beirut: Dar al-Kutub, 2004), 1176
2.     Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997). 254-255.
3.     Ibid
4.     al-Saih 'Ali Husain, Madkhal al-Dirasat al-Qur'aniyah, (Tripoli: Da'wah Islamiyah, 2000). 140-145.Lihat juga, Muhammad Ali al-Sabuni, Studi Ilmu al-Qur'an, Terj. Aminuddin, (Bandung: Pustaka Setia, 1999). 363.
5.     Rosihan Anwar, Samudra al-Qur'an, (Bandung: Pustaka Setia, 2001). 125-127.
6.     Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, juz. 6., (Kuwait: Maktabah Dar al-Aqsa. 1985). 37
7.     Manna' al-Qattan, Mabahith fi 'Ulum al-Qur'an, (Beirut: al-'Asr al-Hadith, 1973), 156.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini