Jumat, 16 Maret 2018

Mbah Nur Walangsanga, Kiai Zuhud, Sederhana dan Penuh Karomah dari Pemalang

Mbah Nur Walangsanga
Forum Muslim ~ Bernama lengkap H. Nur Durya bin Sayyid, akrab disebut dengan nama Mbah Nur Walangsanga. Lahir pada hari Jum'at tahun 1873 M. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang agamis dan taat beribadah. Sehingga membentuk karakter dan pribadi Nur Durya kecil yang baik, haus akan ilmu dan agama.
Beliau sosok yang penuh semangat dalam menuntut ilmu, giat beribadah, hidup zuhud dan sederhana. Haus mencari ilmu pada guru-guru yang memiliki ketersambungan sanad keilmuan hingga Rasulullah Saw. Shalat berjamaah tak pernah ia tinggal. Kesederhanaannya tercermin dari tempat tinggalnya yang sangat sederhana di pinggir sungai. Kini setelah wafatnya tempat tinggal sederhananya itu menjadi makamnya yang selalu ramai dikunjungi para peziarah.
Diantara guru-gurunya adalah Kiai Muslim Bendakerep Cirebon, Kiai Kaukab bin Kiai Muslim Bendakerep Cirebon, Kiai Wahmuka, Kiai Jami' Banyumundang, dan Kiai Dahlan Purbalingga. Bahkan saat sudah beristri ia tetap mencari ilmu kepada Syaikh Armia Cikura Tegal dan Kiai Said bin Syaikh Armia Giren Talang Tegal. Mbah Nur bukan saja sosok yang gemar mencari ilmu saja, melainkan langsung mengamalkannya.

Pada akhir tahun 1960-an KH. Anas Noer pernah matur kepada ayahnya, yaitu Mbah Nur Fathoni Kersan, untuk meminta ijin pergi ke Pemalang untuk sowan kepada Mbah Nur Walangsanga Moga. Ketika itu Mbah Nur belum banyak dikenal kalangan masyarakat luas.

Selesai matur Mbah Nur Kersan memberi petunjuk, "Nur Durya iku ijek enom tapi wes dadi wali, omahe nggon tengah sawah, pinggire kali. (Mbah Nur Durya itu masih muda tetapi sudah jadi wali Allah. Rumahnya di tengah sawah dan pinggir sungai)."

Ada beberapa kiai sufi yang dianugerahi oleh Allah kemampuan lebih, sebagaimana kemampuan membaca sesuatu sebelum terjadi atau melihat hal-hal ghaib. Mbah Nur adalah salah satunya, seorang kiai yang dianugerahi Allah weruh sadurunge winarah menjadi bagian dari kemampuannya melihat yang tersurat dari yang tersirat.

Berikut adalah beberapa karomah Mbah Nur Walangsanga yang disaksikan oleh banyak pelaku sejarah:

a. Perhatian Kepada Santrinya Meski Sudah Wafat

Salah seorang santri Mbah Nur berasal dari Desa Kangkung Mranggen Jawa Tengah bernama Abdul Muid Elco yang sangat ta'dzim dan patuh terhadap dawuh-dawuh Mbah Nur. Kini setelah sang guru wafat beliau KH. Abdul Muid setiap tahun pasti ke Walangsanga untuk menghadiri haul gurunya itu.

Sekitar tahun 2011 silam, ketika KH. Abdul Muid selesai berzirah dan ingin pulang tiba-tiba mobilnya macet tak bisa jalan. Diperbaiki sampai jam 3 malam tetap tidak bisa nyala mobilnya. Kemudian KH. Abdul Muid memutuskan untuk bermalam di makam Mbah Nur.

Paginya aneh bin ajaib, tanpa diapa-apakan mobil itu bisa menyala sendiri. Usut punya usut ketika KH. Abdul Muid berkendara sampai di Pemalang kota, diketahui ternyata tadi malam ada bencana banjir besar. Bahkan air banjir bandang tersebut kata warga sampai berwarna hitam. Jembatan Comal saat itu pun putus karena kejadian banjir bandang.

b. Pisang Ajaib Mbah Nur

Kisah lainnya saat Mbah Nur masih hidup, dua orang santri Mbah Nur Kiai Bardi dan KH. Abdul Muid ingin sowan kepada gurunya itu. Namun mereka tidak punya ongkos untuk pergi ke kediaman sang guru. Yang mereka punyai hanyalah buah pisang yang masih di pohon. Lalu buah pisang itu dijualnya untuk bekal modal perjalanan berangkat sowan.

Singkat cerita mereka pun sampai di kediaman Mbah Nur yang berada persis di bibir sungai, lalu disuguhi hidangan pisang oleh gurunya tersebut. Seketika mereka dibuat kaget. Karena pisang yang disuguhkan itu sama persis dengan pisang yang baru mereka jual sebelum berangkat sowan.

c. Air Hujan Tak Berani Menyentuh Mbah Nur

Kejadian ini terjadi saat Mbah Nur berangkat ke Bendakerep Cirebon untuk mengaji kepada Kiai Kaukab. Dengan ditemani menantunya, Kiai Musthafa, tiba-tiba di tengah perjalanan hujan deras. Lalu Mbah Nur berkata kepada Musthafa, "Peganglah tanganku!." 

Dan selama itu keduanya tidak setetes pun terkena air hujan.

d. Banjir Tak Berani Menyentuh Rumah Mbah Nur

Kediaman Mbah Nur mulanya berada di Blok Mushalla al-Awwabin. Namun karena alasan khalwat, menyepi atau riyadhah, beliau memilih tinggal di Blok Manggis Genting Kel. Walangsanga Kec. Moga Pemalang yang masih sepi dari penduduk karena letaknya persis di tengah sawah.

Selain itu kediaman Mbah Nur yang baru memang tidak wajar untuk keumuman manusia. Karena terletak di bawah dasar sampir persis di bibir sungai. Bahkan rumah beliau dengan sugai seakan tidak ada jarak, menyatu dengan sungai. Rumahnya terbuat dari bambu. Kesederhaan itulah yang justeru membuat Mbah Nur semakin kharismatik di mata masyarakat.

Suatu ketika sungai itu banjir besar. Airnya meluap-meluap. Namun seakan tak berani menyentuh apalagi merendam rumah Mbah Nur. Ajaibnya air sungai yang meluap itu nampak mengalir miring karena menghindari rumah Mbah Nur. Sebesar apapun banjir yang datang pasti airnya miring dan tidak sampai menggenangi ataupun menyentuh pintu bilik rumah Mbah Nur. Kejadian ini terjadi diantaranya saat Mbah Nur meninggal dunia.

e. Mampu Melihat Kejadian yang Akan Terjadi

Alkisah, suatu ketika pada tahun 1974, Haji Samsuddin dan istrinya yang berasal dari daerah Tegal hendak melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Semua syarat dan berbagai macamnya sudah terpenuhi, tinggal menunggu keberangkatan. Sambil menunggu keberangkatan, mereka sowan ke kediaman Mbah Nur untuk meminta doa dan berkah agar perjalanan haji mereka dilancarkan.

"Mohon doa restu, Kiai. Tahun ini kami insyaAllah akan melaksanakan ibadah haji. Doakan kami semoga lancar dan selamat," kata H. Samsuddin.

"Mau haji? Haji Singapura?" ucap sang kiai tanpa ekspresi sedikit pun.

Singkat cerita H. Samsuddin dan keluarganya lalu pamit pulang. Perkataan sang kiai menjadi teka-teki di dalam benaknya.

Di belakang hari kemudian teka-teki dari perkataan Mbah Nur terjawab. Saat jadual keberangkatan, H. Samsuddin dan istrinya harus membatalkan rencana pergi hajinya tahun itu walau mereka telah berada di embarkasi di Jakarta. Baru, pada tahun-tahun setelahnya mereka bisa menunaikan ibadah hajinya.

Jawaban "Haji Singapura" dari Mbah Nur terbukti, kalau sang tamu tak bisa menunaikan ibadah haji pada tahun itu, seakan Mbah Nur telah mengetahui peristiwa yang sebenarnya belum terjadi, weruh sadurunge winarah tadi.

Kisah lain terjadi pada Nyai Nurmi, salah seorang istri Mbah Nur, saat hendak pergi berhaji. Ia pamit minta ijin dan doa dari sang suami. Lalu Mbah Nur hanya berkata, "Silakan kamu pergi berhaji, tapi kamu tidak akan pulang lagi ke Walangsanga. Nanti kita ketemu di Mekkah sana."

Singkat cerita Nyai Nurmi pun sampai di Mekkah. Dan betul di sana ia bertemu secara nyata dengan Mbah Nur suaminya yang tidak turut berhaji. Selang beberapa waktu Nyai Nurmi pun meninggal dunia di Mekkah al-Mukarromah. Betul-betul terjadi perkataan Mbah Nur, "Kamu tidak akan pulang lagi ke Walangsanga".

f. Selalu Shalat Berjamaah dan Daimul Wudhu

Sudah semenjak kecil Mbah Nur dididik oleh orangtuanya untuk selalu menjalankan shalat berjamaah dalam keadaan dan kondisi apapun. Saat masih kecil pernah Mbah Nur menggembalakan kerbau milik salah satu warga Desa Walangsanga. Setiap kali berkumandang adzan maka beliau bergegas menuju masjid untuk shalat berjamaah. Hingga wafatnya Mbah Nur tak pernah tinggal shalat berjamaah satu kalipun.

Selain menjaga shalat berjamaah, Mbah Nur juga selalu menjaga wudhunya. Diriwayatkan beliau selalu melaksanakan shalat Shubuh dengan menggunakan wudhu shalat Isya. Artinya setiap malam beliau tidak pernah tidur, merasakan hangatnya tempat tidur, melainkan bermunajat dan mendoakan kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya.

Mbah Nur Durya bin Sayyid wafat pada 9 Jumadil Awal 1409 H. atau pada 17 Desember 1988 M. Tercatat wanita yang pernah menjadi istri Mbah Nur adalah Nyai Siao, Nyai Nurmi, Nyai Danyem dan Nyai Hj. Maesaroh. Kepergiannya diiringi mendung dan hujan deras selama tiga hari berturut-turut di sekitar wilayah Moga. Bahkan pohon besar di hutan Cempaka Wulung roboh waktu itu. Innalillahi wainna ilaihi raji'un. (Ditulis oleh: Sya'roni As-Samfuriy)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini