Jumat, 30 Maret 2018

Abu Ubaidah bin al-Jarrah: Orang Kepercayaan Allah dan Rasul-Nya

Ilustrasi Makkah Mukarromah

Forum Muslim - Seandainya Abu Ubaidah masih hidup aku akan menunjuknya sebagai penggantiku. Dan bila kelak Allah bertanya tentang itu aku akan menjawab, "Aku memilihnya karena ia orang kepercayaan Allah dan Rasul-Nya"  ~ Umar bin al-Khatthab
Suatu ketika, utusan dari Yaman datang menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka meminta kepada Rasulullah agar mengutus salah seorang sahabatnya yang bisa mengajari mereka al-Qur'an dan agama. "Aku akan mengutus bersama kalian orang kuat dan terpercaya," jawab Rasulullah.
Berita itu kemudian tersebar. Menjelang waktu Dzuhur, para sahabat – termasuk Umar bin al-Khatthab – bergegas menuju masjid. Mereka berangkat lebih cepat agar bisa berada di shaf pertama dan berharap dialah yang ditunjuk oleh Rasulullah.
Usai salat Dzuhur, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Tatapan beliau berhenti saat mengenai seorang sahabat yang bertubuh kurus. Beliau memanggilnya sambil berkata, "Pergilah bersama mereka!"
Pribadi yang Menyenangkan
Sahabat terpercaya ini lahir di tengah-tengah keluarga Quraisy. Namanya Amir bin Abdillah bin al-Jarrah al-Fihry. Silsilah nasabnya bertemu dengan Rasulullah di kakek keenamnya Fihr, yang bergelar Quraisy.
Amir bin Abdillah biasa dipanggil dengan nama Abu Ubaidah. Perawakannya tinggi kurus. Pribadinya menyenangkan. Sikapnya ramah, lemah lembut dan tawaduk. Banyak orang yang bersimpati padanya.
Sahabat yang pemalu ini juga dikenal gagah berani dalam menghadapi musuh dan sangat cekatan bila menghadapi suatu urusan penting.
Abu Ubaidah termasuk as-Sâbiqûn al-Awwalûn atau pendahulu Islam. Ia masuk Islam sehari setelah Abu Bakar. Ia berikrar setia kepada Rasulullah bersama Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Madz'un dan al-Arqam bin Abi al-Arqam atas ajakan Abu Bakar.
Dalam naungan Islam, Abu Ubaidah kemudian menjadi sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah. Ia membantu perjuangan beliau dengan penuh kesetiaan, tanggung jawab dan pengorbanan. Sebab itulah ia mendapat tempat yang istimewa di hati beliau.
Dalam suatu kesempatan beliau memberikan apresiasi kepada sahabat agung ini. Sambil memegang tangan kanan Abu Ubaidah beliau bersabda, "Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah."
Tidak mengherankan jika Abdullah bin Mas'ud sangat bangga padanya, "Paman-pamanku yang paling setia sebagai sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam cuma tiga orang. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah," sebut Abdullah bin Mas'ud.
Kepercayaan itu terus ia dapatkan hingga akhir hayatnya. Di masa kekhalifahan Abu Bakar, Abu Ubaidah dipercaya sebagai pengawas Baitul Mal. Abu Bakar kemudian mengangkatnya sebagai gubernur Syam. Jabatan ini ia emban hingga masa kekhalifahan Umar bin al-Khatthab. Tak lama kemudian Umar mengangkatnya sebagai panglima tertinggi di Syam, menggantikan Khalid bin al-Walid.
Selalu Dirindukan
Setelah masuk Islam, Abu Ubaidah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam. Ia telah mengorbankan banyak waktu, harta benda dan tenaganya demi kejayaan Islam. Ia hampir tidak pernah absen dari momen-momen penting bersama Rasulullah. Ia mengikuti semua pertempuran yang dihadiri Rasulullah. Dan, pengorbanannya yang luar biasa tampak pada saat terjadinya perang Badar dan Uhud.
Dalam perang Badar, Abu Ubaidah mendapatkan ujian yang sangat berat. Ia harus bertempur melawan ayahnya sendiri, Abdullah bin al-Jarrah yang saat musyrik. Sebenarnya, Abu Ubaidah sudah berusaha menghindari ayahnya. Tapi, sang ayah terus mengejarnya dengan beringas. Saat terdesak, maka tak ada pilihan lain. Abu Ubaidah membunuh ayahnya sendiri. Atas kesetiaan terhadap agama yang melebihi hubungan keluarga ini, Allah memberikan pujian kepada Abu Ubaidah dalam QS al-Mujadilah: 22.
Pada saat-saat genting dalam perang Uhud, ia tetap bertahan di samping Rasulullah bersama sebagian kecil sahabat yang lain. Saat perang sedang berkecamuk, Rasulullah terjatuh sehingga gigi depan beliau retak, kening beliau luka dan di pipi beliau tertancap dua mata rantai baju besi beliau. Melihat keadaan beliau seperti itu, Abu Bakar sangat iba dan ingin mencabutnya, tapi ia dicegah Abu Ubaidah. "Biar aku yang mencabutnya," pintanya.
Abu Ubaidah tahu kalau ini dicabut dengan tangan Rasulullah pasti kesakitan. Akhirnya ia mencabutnya dengan gigi depannya. Di saat mata rantai pertama tercabut, satu giginya lepas. Begitu juga ketika mencabut mata rantai. Satu lagi giginya ikut tercabut.
Abu Bakar kemudian berkata, "Sebaik-baik gigi yang tanggal adalah giginya Abu Ubaidah bin al-Jarrah."
Pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khatthab, ia membawa bendera Islam hingga ke Syam. Di bawah komandonya, umat Islam berhasil menaklukkan Syria, Yordania, Lebanon dan Palestina. Sumbangsih dan pengorbanannya dalam kejayaan Islam membuat Umar bin al-Khatthab selalu merindukannya. "Seandainya saja rumah ini dipenuhi oleh orang-orang seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah," ungkapnya di depan para sahabatnya.
Penuh Tanggung Jawab
Pasca wafatnya Rasulullah, para sahabat berkumpul di Tsaqifah Babi Saidah. Mereka bermusyawarah untuk menunjuk khalifah yang pertama. Umar bin al-Khatthab lalu mengulurkan tangannya kepada Abu Ubaidah sambil berkata, "Aku memilih Anda dan bersumpah setia dengan Anda. Karena, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tiap-tiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah."
Tapi, Abu Ubaidah menjawab, "Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh oleh Rasulullah untuk mengimami salat sewaktu beliau masih hidup. "
Akhirnya mereka sepakat memilih Abu Bakar menjadi Khalifah pertama. Sedangkan Abu Ubaidah didapuk menjadi penasehat dan pembantu utama bagi Khalifah. Setelah Abu Bakar, jabatan khalifah pindah ke tangan Umar bin al-Khatthab. Abu Ubaidah selalu dekat dengan Umar dan tidak pernah melanggar perintahnya, kecuali sekali. Yaitu, pada saat Syria dilanda wabah tha'un yang sangat mematikan. Umar datang dari Madinah sengaja ingin menemui Abu Ubaidah. Tetapi Umar tidak dapat masuk kota karena wabah penyakit ganas itu. Lalu Umar menulis surat kepada Abu Ubaidah sebagai berikut: "Aku sangat ingin bertemu denganmu. Tapi, tidak dapat menemui karena wabah ganas yang sedang melanda kota. Karena itu, bila surat ini sampai ke tanganmu di malam hari, aku harap engkau temui aku di luar kota sebelum Subuh. Bila surat ini sampai ke tanganmu siang hari, aku harap engkau berangkat sebelum hari petang."
Abu Ubaidah membaca surat itu. Lalu, ia berkata, "Aku tahu maksud Amirul Mukminin memanggilku. Beliau ingin agar aku menghindar dari wabah ini." Lalu ia menulis surat balasan kepada Umar yang isinya: "Amirul Mukminin, aku mengerti maksud Anda memanggilku. Aku berada di tengah-tengah pasukan, sedang bertugas memimpin mereka. Aku tidak ingin meninggalkan mereka dalam ancaman bahaya hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka, sampai Allah memberi keputusan kepada kami semua (selamat atau binasa). Maka bila surat ini sampai ke tangan Anda, maafkanlah aku tak dapat memenuhi permintaan Anda, dan izinkanlah aku untuk tetap tinggal bersama-sama mereka."
Seusai membaca surat dari Abu Ubaidah, Umar menangis. Air matanya meleleh deras ke pipinya. Melihat Umar menangis, orang yang di sampingnya ikut sedih dan bertanya, "Amirul Mukminin! Apakah Abu Ubaidah wafat?" "Tidak!" jawab Umar. "Tetapi ia berada di ambang kematian." Dugaan Umar tidak salah. Tidak lama kemudian, Abu Ubaidah ikut terserang wabah tha'un yang konon menelan 70.000 korban jiwa lebih.
Abu Ubaidah wafat pada usia 85 tahun. Ia dikebumikan di Yordania dengan iringan kabar surga dari Rasulullah.
Sumber: Buletin SIDOGIRI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini