Selasa, 02 Januari 2018

Teroris, atau musuh teroris?


Forum Muslim - Ketika Daesh dan al-Qaeda menyerbu Syria dan Iraq, ada kengerian tak terkatakan yang memaksa jutaan penduduk untuk mengungsi.

Skala eksodus ini begitu besar, serupa dengan apa yang menimpa warga Palestina pada 1947, yang kembali mengingatkan kita pada ekstrimisme atas nama agama, hampir pasti membabi-buta.

7 tahun setelahnya, Syria dan Iraq, kini sebagian besar terbebas oleh teroris. Kantong-kantong kecil di berbagai penjuru negeri masih ada, namun kondisinya kontras apalagi jika kita ingat bahwa Daesh pernah menduduki 30% teritorial Syria.

Hezbollah, organisasi paramiliter dan politik resmi di Lebanon, adalah salah satu pihak yang sangat berjasa dalam menumpas gelombang takfir yang mematikan ini.

Pengorbanan yang mereka lakukan, praktis menghentikan momentum akselerasi penyebaran ideologi keji ini, yang terasa efeknya hingga ke nusantara.

Hezbollah, telah berperang untuk saya, kamu dan anak-cucu kita.

Bagi mereka yang enggan mencari tahu atau sengaja menutupi fakta, tentu Hezbollah akan digambarkan sebagai organisasi sektarian yang tertutup dan otoriter - untuk lalu kemudian disamakan dengan Hamas karena sama menganggap israel sebagai musuh, dan akhirnya dicap sebagai teroris.

Namun dimana akan kita dapati organisasi yang begitu mandiri, egaliter, terbuka bagi semua kalangan (suku, agama dan mazhab) dimana putra sang pemimpin malah ikut berperang di garis depan - dan syahid karenanya?

Dengan kekuatan militer dan politiknya, Hezbollah bisa menyapu Lebanon dengan mudah dan menjadikannya negara Islam. Namun apakah itu yang mereka lakukan?

Seperti biasa, elang gundul dan segenap aparatusnya sudah sejak lama berupaya menyematkan label teroris pada Hezbollah secara unilateral. Sak karepe dewe. Modal, 'pokoknya'.

Yang menyedihkan, banyak yang mengaku anti terhadap Daesh dan al-Qaeda di tanah air, ikut-ikutan menyebarkan propaganda elang gundul bahwa pembasmi mereka, Hezbollah, sebagai teroris - dan di saat yang sama, mengagungkan israel sebagai entitas bermoral karena mengobati jihadis al-Qaeda.

Paradoks ini membuat saya ingin bertanya: bisakah kita mengaku anti dengan terorisme dan di saat yang sama menyebut mereka yang berdarah-darah membasminya sebagai teroris?

Know your enemy.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini