Selasa, 16 Januari 2018

Bolehkah seorang istri cemburu pada suaminya?

Forum Muslim - Bolehkah seorang istri cemburu pada suaminya? Jawabannya, jika kecemburuan itu berdasarkan bukti-bukti yang valid, maka kecemburuan seperti ini dinilai sesuai syariat (boleh) dan disukai Allah -Subhanah-. Nabi Muhammad -Shallallahu`alaihiwasallam-bersabda:

منَ الغَيرةِ ما يحبُّ اللَّهُ ومِنها ما يُبغِضُ اللَّهُ، فأمَّا الَّتي يحبُّها اللَّهُ فالغيرةُ في الرِّيبةِ، وأمَّا الغيرةُ الَّتي يُبغِضُها اللَّهُ فالغَيرةُ في غيرِ ريبةٍ

Contohnya, istri cemburu karena suaminya terbukti berzina, atau terbukti bersikap 'tebang-pilih' (tidak adil) terhadap istrinya yang lain (madu). Ibnu Hajr al-`Asqalani menjelaskan:

وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَحَيْثُ غَارَتْ مِنْ زَوْجِهَا فِي ارْتِكَابِ مُحَرَّمٍ إِمَّا بِالزِّنَا مَثَلًا وَإِمَّا بِنَقْصِ حَقِّهَا وَجَوْرِهِ عَلَيْهَا لِضَرَّتِهَا وَإِيثَارِهَا عَلَيْهَا فَإِذَا تَحَقَّقَتْ ذَلِكَ أَوْ ظَهَرَتِ الْقَرَائِنُ فِيهِ فَهِيَ غَيْرَةٌ مَشْرُوعَةٌ

Terlebih lagi, bila kecemburuan itu tabiat atau naluri kemanusiaan yang tidak bisa dihindarinya. Imam Nawawi menjelaskan:

قَالَ الْقَاضِي: قَالَ الْمِصْرِيُّ وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاء:ِ الغيرة مُسَامَحٌ لِلنِّسَاءِ فِيهَا لَا عُقُوبَةَ عَلَيْهِنَّ فِيهَا لِمَا جُبِلْنَ عَلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ وَلِهَذَا لَمْ تُزْجَرْ عَائِشَةُ عَنْهَا قَالَ الْقَاضِي وَعِنْدِي أَنَّ ذَلِكَ جَرَى مِنْ عَائِشَةَ لِصِغَرِ سِنِّهَا وَأَوَّلِ شَبِيبَتِهَا وَلَعَلَّهَا لَمْ تَكُنْ بَلَغَتْ حِينَئِذٍ.

Ibnu Hajr juga menjelaskan, bila seorang suami sudah memperlakukan kedua istrinya secara adil, lalu salahseorang istrinya cemburu karena dorongan tabiat atau naluri kemanusiaannya, maka kecemburuan seperti ini bisa ditolerir, asalkan itu tidak sampai melahirkan sikap atau ucapan yang diharamkan. Beliau mengatakan:

وَأَمَّا إِذَا كَانَ الزَّوْجُ مُقْسِطًا عَادِلًا وَأَدَّى لِكُلٍّ مِنَ الضَّرَّتَيْنِ حَقَّهَا فَالْغَيْرَةُ مِنْهُمَا إِنْ كَانَتْ لِمَا فِي الطِّبَاعِ الْبَشَرِيَّةِ الَّتِي لَمْ يَسْلَمْ مِنْهَا أَحَدٌ مِنَ النِّسَاءِ فَتُعْذَرُ فِيهَا مَا لَمْ تَتَجَاوَزْ إِلَى مَا يَحْرُمُ عَلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا جَاءَ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ النِّسَاءِ فِي ذَلِكَ.

Namun, bila kecemburuan itu tidak berdasarkan bukti, alias hanya berdasarkan prasangka dan rasa was-was, maka kecemburuan seperti ini dinilai tidak sesuai syariat (tidak boleh) dan dibenci Allah -Subhanah-. Ibnu Hajr menjelaskan:

فَلَوْ وَقَعَ ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ التَّوَهُّمِ عَنْ غَيْرِ دَلِيلٍ فَهِيَ الْغَيْرَةُ فِي غيرَة رِيبَة.

Wallaahua`lam
Sumber : FB Al Fitri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini