Kamis, 16 November 2017

Kisah Tiga Insan

Masjid Nabawi


Oleh : Ruli Amirullah

Madinah menjelang Isya…

Mendengar suara getaran halus, ia menghentikan bacaannya sebentar. Ia memandang keatas, sesuatu yang  ditunggu-tunggu sedang terjadi. Perlahan namun pasti, kubah dalam Masjid Nabawi mulai bergeser. Menampakkan langit yang bagai tiada ujung di atas sana. Beberapa orang seperti dirinya, dengan kagum memandang ke langit. Sementara beberapa lainnya tetap khusyuk berdoa, mengaji dan sholat.

Ketika kubah telah bergeser dengan sempurna, ia dapat melihat beberapa bintang disana. Berkerlip indah  di langit yang membentang. Setelah puas, matanya ia pejamkan, teringat mengenai segala hal yang terjadi dalam setahun terakhir, tentang kenyataan-kenyataan yang begitu meremuk-redamkan hatinya…

Insan Pertama

Irfan masih ingat ketika 6 bulan lalu ia berada di sebuah ruang putih yang berbau khas rumah sakit sambil diam tak bergerak memandang dokter di hadapannya. Baru saja ia mendengar dokter tersebut mengatakan sesuatu yang begitu membuat pikirannya mendadak berhenti. Vonis dokter mengatakan bahwa usia anaknya, Nadia, tinggal 6 bulan lagi. Dan itu benar-benar terasa menyiksa bahkan lebih menyiksa dibanding rasa nyeri yang mungkin dirasakan anaknya belakangan ini.

Sepanjang perjalanan pulang Nadia menangis dalam sunyi. Tidak mengeluarkan suara, tapi pundaknya terus berguncang. Irfan pun tak mampu berkata-kata untuk menghiburnya. Biasanya istrinyalah yang pandai bicara, tapi istrinya sudah meninggal setahun lalu. Ya, istrinya baru saja meninggal setahun kemarin, dan kini ia kembali akan kehilangan anak satu-satunya dalam waktu 6 bulan lagi. Ia sungguh ingin berontak, berteriak menantang langit…

Seharusnya bisa menenangkan hati putrinya yang berusia 23 tahun itu. Ia tahu hati anaknya pasti  hancur sama seperti dirinya. Semestinya dirinya menghibur dan membuat kuat hati Nadia. Tapi sayangnya, ia sungguh-sungguh tak tahu harus berkata apa pada malam itu…

Ia kemudian segera membuka matanya lagi, tak ingin kenangan itu malah membuatnya menangis sedih. Tidak! Ia sudah bertekad, tawa dan tangisnya adalah bukan untuk dunia yang fana ini. Segala kejadian telah menempa dan menyadarinya bahwa tiada yang abadi kecuali Tuhan Pemilik Alam Semesta. Pandangannya kembali ia jatuhkan pada goresan-goresan huruf arab indah yang ada dijemarinya. Ia kembali melantukan ayat suci Al Quran dengan suara yang lirih..

Insan Kedua

Satu bulan pertama sejak vonis dijatuhkan, Nadia menjadi seperti orang yang telah mati sebelum wafat. Kehilangan gairah untuk melakukan apapun. Pekerjaannya ia tinggalkan, senyumnya ia lupakan, gairah hidupnya ia padamkan. Ia benar-benar sudah mati sebelum ajal menjemput. Beruntung ia dikelilingi keluarga dan teman-teman yang begitu peduli padanya. Terutama ayahnya yang walau tak pandai berkata tapi ia tahu bahwa hati ayahnya selalu melindunginya. Beruntung pula kekasihnya, Robby, yang  begitu tetap mencintainya..

Bulan kedua ia mulai bersahabat dengan takdir. Ia mulai berpikir untuk mempersiapkan kematiannya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini