Jumat, 06 Januari 2017

Mengungkap Berita Hoax Tentang Jokowi Pemimpin Terbaik Asia

Jokowi pernah bersumpah bahwa jika kemenangannya sebagai presiden disebabkan oleh kebohongan, maka Tuhan akan menghukumnya bersama para pendukung-pendukungnya. Kami hanya bisa berkata: 'Amin!"

Beberapa hari terakhir ini media-media nasional secara beramai-ramai memberitakan tentang keberhasilan jokowi meraih predikat sebagai pemimpin terbaik di kawasan Asia Pasifik versi media berpengaruh asal Amerika, Bloomberg. Sumber pertama berita ini adalah kantor berita nasional 'Antara' yang mengklaim mendapatkan kabar tersebut dari Bloomberg. Selanjutnya kabar tersebut disebar-luaskan oleh Antara dan dimuat oleh media-media nasional.

Blog ini sudah mendapatkan bantahan tentang klaim tersebut yang ditulis oleh Canny Watae. Namun, untuk lebih meyakinkan, kami mencoba mencari langsung dari sumber aslinya seperti diklaim Antara. Dan inilah sumber asli tentang kabar tersebut:


Adapun kutipan beritanya adalah sebagai berikut :

Who's Had the Worst Year? How Asian Leaders Fared in 2016

And some of the headaches they face in 2017.

2016 Report Card: How Key Asian Leaders Fared This Year

In a year dominated by Brexit and Donald Trump's surprise U.S. election win, Asia felt like a relatively stable part of the world. A closer look shows that the region endured its own seismic events in 2016, from a Philippine leader embracing China to massive street protests in Seoul to the elimination of 86 percent of India's hard currency.

Here we look at how key leaders performed. They are listed in order of the size of their economy.

Chinese President Xi Jinping

Xi Jinping, 63, further consolidated power in 2016 after Communist Party leaders declared him the “core,” a designation that strengthens his hand ahead of a twice-a-decade power reshuffle in late 2017. Xi also shone internationally, hosting G-20 leaders for the first time and positioning China as a leading advocate for free trade and the fight against climate change in the wake of Trump’s election win.

Biggest challenge in 2017: Responding to Trump’s tougher line on issues like trade and Taiwan while ensuring China’s economic recovery stays on track amid the power transition.

Japanese Prime Minister Shinzo Abe

Shinzo Abe, 62, ends 2016 with the sort of support levels that may convince him to call an election in 2017, giving him a chance to become the longest-serving leader since World War II. While Trump’s win dealt a blow to Abe’s push for an Asia-Pacific trade pact, he rounded off the year by seeking progress on a territorial dispute with Russia and becoming the first Japanese prime minister to visit Pearl Harbor in decades—both popular moves at home.

Biggest challenge in 2017: Navigating relations with China while convincing Trump of the importance of the U.S.-Japan alliance. 

Indian Prime Minister Narendra Modi

Narendra Modi, 66, dominates Indian politics in a way unseen in decades. His move to abolish 86 percent of hard currency overnight on Nov. 8 showed that he’s willing to risk imposing hardship on millions of people to implement his vision of a modern India: Free of corruption, fewer internal trade barriers and a tougher line against archrival Pakistan.

Biggest challenge in 2017: Reviving the economy after his surprise cash ban dented India’s growth prospects, while also fighting a bellwether election in India’s largest state and rolling out a national goods-and-services tax.

South Korean President Park Geun-hye

Park Geun-hye, 64, easily had the worst year of all Asian leaders. She was impeached Dec. 9 over an influence-peddling scandal after weeks of protests drew hundreds of thousands into the streets calling for her resignation. If the constitutional court approves the impeachment motion, Park will lose her presidential immunity and an election will be held in 60 days. The prime minister has temporarily taken charge.

Biggest challenge in 2017: Staying out of jail.

Australian Prime Minister Malcolm Turnbull

After Malcolm Turnbull, 62, saw his parliamentary majority reduced to one seat in a July election, he has struggled to stimulate an economy still in transition from a mining boom. Beholden to the right wing of his party, his popularity has sagged as he has adopted policies that appear to run counter to past positions on issues like climate change and same-sex marriage. 

Biggest challenge in 2017: Staving off a potential leadership battle in his party.

Indonesian President Joko Widodo

Joko Widodo, 55, asserted his authority over Indonesia’s political establishment in 2016. With a mix of patronage and political savvy, he controls more than two-thirds of seats in parliament—support he used to pass a controversial tax amnesty bill in June to help fund an infrastructure program.

Biggest challenge in 2017: Ensuring that his plans to bolster economic growth aren’t derailed, particularly as he looks to placate Islamic groups looking to prevent one of his allies from becoming Jakarta’s first elected Christian governor.

Malaysian Prime Minister Najib Razak

Najib Razak, 63, appears to be weighing early elections to secure his grip on power, a move that would display his confidence in weathering more than a year of political attacks over allegations he took $1 billion from a state-owned investment company -- charges he denies. This month a court upheld a sodomy conviction for Anwar Ibrahim, effectively sidelining Najib’s chief rival and leaving the opposition in disarray.

Biggest challenge in 2017: Najib will have to check rising living costs for his Malay base while keeping the fiscal deficit under control to keep investors happy, particularly as market volatility hits the ringgit.

Philippine President Rodrigo Duterte

Rodrigo Duterte, 71, remains highly popular in the Philippines despite international criticism over a war on drugs that killed as many as 5,000 people since he took power in June. He’s repeatedly questioned his nation’s alliance with the U.S. in expletive-laden outbursts while moving closer to China, a geopolitical shift that has rocked the region.

Biggest challenge in 2017: Balancing relations with the U.S. and China in a way that keeps the economy humming and prevents challenges to his rule from business and military elites.

With assistance from Iain Marlow, Karlis Salna, Sam Kim, Isabel Reynolds, Ting Shi, Anisah Shukry, Norman P Aquino, Hannah Dormido and Adrian Leung.


Kemudian dikutip oleh Situs Antara sebagai nerikut :

Bloomberg: Jokowi pemimpin terbaik Asia-Australia 2016


Pewarta: Afut Syafril

Bloomberg: Jokowi pemimpin terbaik Asia-Australia 2016
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencatatkan rapor sebagai pemimpin terbaik atau paling unggul di antara para pemimpin Asia-Australia pada tahun 2016. 

Berdasarkan data dari Bloomberg yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu, Presiden Joko Widodo merupakan satu-satunya pemimpin negara yang memiliki performa positif dalam seluruh aspek yang dinilai, yaitu menaikkan kekuatan nilai tukar (2,41 persen), menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif (5,02 persen skala tahun ke tahun) dan memiliki tingkat penerimaan publik yang tinggi (69 persen).

Data tersebut juga menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan pemimpin negara lainnya yang memiliki ukuran ekonomi setara atau lebih besar, prestasi Presiden Jokowi masih menonjol daripada lainnya. Malaysia dan Filipina sama-sama tercatat memiliki nilai tukar negatif sebesar 4,26 persen dan 5,29 persen. 

Sementara itu, Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye memiliki catatan merah untuk semua aspek. Fakta tersebut didukung dari data bahwa, nilai tukar Won menurun sebesar 2 persen dan pertumbuhan ekonomi yang hanya di angka 2,87 persen, Geun Hye juga memiliki reputasi tingkat penerimaan publik atas dirinya hanya sebesar 4 persen yang menyebabkan dirinya dipaksa untuk mengundurkan diri. 

Presiden Jokowi telah menekankan otoritasnya kepada lembaga-lembaga politik selama 2016, dengan menggabungkan kepemimpinan dan kepiawaian politiknya, dengan data bahwa ia mengendalikan dua per tiga kursi di parleme. Program keberhasilan "amnesti pajak" juga mampu membiayai program pembangunan infrastrukturnya. 

Dari keseluruhan pemimpin yang dinilai oleh Bloomberg yaitu delapan pemimpin negara, Jokowi satu-satunya pemimpin dunia yang memiliki semua indikator positif untuk tiga kategori yaitu fluktuasi kurs, pertumbuhan ekonomi dan rating penerimaan publik.

Sementara itu, penerimaan publik paling tinggi dimiliki oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte dengan rating 83 persen, ia juga mendapatkan nilai 7,1 persen dalam upaya menjaga pertumbuhan ekonomi, namun dalam nilai tukar mata uang Peso menurun drastis 5, 29 persen atau mendapat rapor merah.

Pertukaran nilai mata uang paling rendah dimiliki oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping yang menurut data telah turun sebesar minus 6,63 persen, paling rendah diantara yang lain. 

Kedelapan pemimpin tersebut yang didata oleh Bloomberg adalah Presiden Tiongkok Xi Jinping, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye, Presiden Indonesia Joko Widodo, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull (disebutkan tanpa berurutan peringkat). (http://m.antaranews.com/berita/604316/bloomberg-jokowi-pemimpin-terbaik-asia-australia-2016)


'To the point' saja, ini adalah sebuah skandal memalukan yang dilakukan oleh Antara karena ternyata kabar tersebut adalah sebuah kebohongan besar. Dan bahwa hal ini tidak membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Persatuan Wartawan INdonesia (PWI) tidak bereaksi apapun semakin mengukuhkan klaim bahwa INdonesia saat ini telah dikuasai oleh sebuah regim pembohong dan tukang tipu yang menguasai segala sendi kekuasaan.

Dan kalau kita mengetahui bahwa Antara saat ini dipimpin oleh seorang 'jokower' yang sebelumnya bekerja di media 'jokower' The Jakarta Post, kita bisa menebak alasan 'Antara' melakukan kebohongan tersebut.

Seperti artikel yang ditulis David Tweed di Bloomberg.com berjudul 'Who's Had the Worst Year? How Asian Leaders Fared in 2016 And some of the headaches they face in 2017', tidak ada sama sekali klaim Jokowi sebagai pemimpin terbaik di Asia. Klaim tersebut hanyalah 'imaginasi liar' Antara belaka. Yang ada adalah analisis singkat tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para pemimpin Asia, termasuk jokowi, selama tahun 2016 beserta prospek yang dihadapi mereka di tahun ini. Bahkan, data-data yang dicantumkan dalam tulisan tersebut juga tidak mengindikasikan jokowi sebagai pemimpin terbaik.

Kita lihat saja, berdasarkan data pertumbuhan ekonomi, yang selalu menjadi standar paling valid dalam mengukur keberhasilan ekonomi suatu negara, jokowi masih kalah dari pemimpin Cina, India dan Filipina. Juga dalam popularitas, jokowi masih kalah jauh dibandingkan Presiden Filipina dan India.

Dan inilah yang ditulis oleh Bloomberg tentang jokowi:

"Joko Widodo, 55, asserted his authority over Indonesia’s political establishment in 2016. With a mix of patronage and political savvy, he controls more than two-thirds of seats in parliament—support he used to pass a controversial tax amnesty bill in June to help fund an infrastructure program.

Biggest challenge in 2017: Ensuring that his plans to bolster economic growth aren’t derailed, particularly as he looks to placate Islamic groups looking to prevent one of his allies from becoming Jakarta’s first elected Christian governor."

Jadi, dari mana klaim jokowi sebagai pemimpin terbaik Asia itu berasal, kecuali imaginasi liar para jokower di Antara?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar