Kamis, 03 November 2016

Cermin

Aku berkaca di depan cermin,

agar dapat ku nikmati wajahku yang bagus rupawan,

barangkali di wajahku ini tersembunyi keagungan,

agar dapat aku berbangga pada setiap orang,

dan cermin itu mengatakan dengan sungguh,

aku seperti yang ku sangkakan,

barangkali kemuliaan !





Sepuluh tahun telah berlalu,

cermin itu telah kusam dan retak-retak,

aku berkaca lagi di depan cermin itu,

ku hayati dalam-dalam,

aku terkejut bukan kepalang,

wajahku terpetak-petak !

Seperti rasa hatiku yang terkotak-kotak,

aku makin ngeri dan ketakutan,

di dalam cermin itu

bibir tuaku tersenyum,

dengan senyuman yang tak lagi menawan.





Ku sangka diri ini bahagia

dengan keagungan dan kemuliaan yang dibangga-banggakan,

ku kira diri ini penuh keindahan dan keabadian,

ternyata jasad rapuh ditelan usia.





Aku gelap mata,

cermin itu aku banting

dan hancur berantakan,

hilang bayang wajahku,

musnah senyum nestapaku.





Cermin saksi kejujuran

tunjuki aku gambar sebenarnya

mestinya, bukan hanya kepadamu aku mengaca,

tiap orang lain adalah cermin,

alam semesta adalah cermin,

kegagalan dan keberhasilan adalah cermin,

mengajari kita bijaksana.





Cermin telah hancur berantakan,

serpihmu membiaskan sinar,

hati kecilku mendapat cahaya penerang

meski hancur, kau tetap cermin,

yang teguh dalam kejujuran.





- - -

Jakarta 29 Oktober 1995

By Muhammad Saroji

- Majalah Sastra - Majalahsastra.com

© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini