Kamis, 20 Oktober 2016

Ibunda




Malam kembali tiba

ada secercah harapan hasratku untuk kembali

di rantau telah lama berjuang,

mengadu nasib membangun harapan di negeri orang.



Malam ini sunyi tanpa bintang gemintang,

sedangkan kerinduanku begitu kokoh bertahta,

ku nyalakan lilin yang tinggal sebatang,

agar remang cahayanya menerangi bilik kamar

yang kian hari rapuh ditelan usia.



Dalam sujudku aku menangis mengeluh,

betapa lelahnya jiwa dan raga,

menikmati hidup yang penuh mimpi,

menghikmati suka duka yang penuh misteri,

pada biru lazuardi

di sanalah mata memandang,

kaki menapak tanah-tanah kering berbatu,

menelusuri padang ilalang,

inilah hidup !

hidupku, ibunda !



Ibunda,

di malam yang gelap sunyi,

kembali aku terkenang

betapa indahnya masa kanak-kanak dulu,

bermain kelereng

mandi di kali di seberang rumah,

kau memanggilku berteriak cemas,

takut anak nakal ini hilang tenggelam

di telan deras air kali yang dalam.



Ibunda,

tentunya pohon mawar dan melati yang dulu kau tanam,

kini telah berbunga

menebarkan aroma wangi,

hingga harumnya memenuhi teras rumah

tempat dulu kita bercengkrama,

di sana kau bercerita tentang kancil yang cerdik,

tentang putri cinderela yang ayu rupawan.



Ibunda,

tentunya kau juga rindu padaku,

jangan lagi kau cemaskan aku,

esok lusa aku pasti pulang,

doakan aku, ibunda

kemenangan pasti ku jelang.


- - -
Ditulis di Jakarta 29 Oktober 1995
Muhammad Saroji
- Majalah Sastra - Majalahsastra.com
© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini