Kamis, 20 Oktober 2016

Cerita Kematian Sang Lelaki Tua


 

Sore itu hujan deras,

seorang lelaki menggigil kedinginan,

tali terompah di kaki telah putus satu,

di jalanan yang licin dan berbatu.



Istrinya telah mati tadi siang,

orang-orang yang melayat telah lama pulang,

tinggal dia sendiri di pusara,

dengan isak tangisan yang hilang ditelan deras air hujan.



Kamis malam jum'at,

hari itu puncak derita,

lelaki itu pulang seusai berdoa,

semoga sang istri sudi memberi maaf,

setelah sekian lama pergi tanpa berita,

karena panggilan hidupnya,

berjuang mencari nafkah.



Di jalanan ia jatuh bergulingan,

pelipis berdarah merintih kesakitan,

dari kemarin menahan lapar dan dahaga,

tiada terkira…



Tak seorangpun mengira,

dia mati di bumi yang telah lama merdeka,

tanpa tabur bunga,

tanpa untaian doa-doa,

tanpa tetesan air mata,

selama ini dia terjajah,

selama ini dia menderita,

di bumi ini

hijau raya..



- - ----
Ditulis di Jakarta 15 November 1995.
Muhammad Saroji
- Majalah Sastra - Majalahsastra.com
© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini