Jumat, 02 September 2016

Sebuah Catatan Untuk Abu Yahya Syariful Fikri

Setapak demi setapak aku akan mengukir kenangan indah di sini meski

lahir dari kegelapan perjalanan, meski hanya untuk kebanggaan diri

sendiri, meski hanya beginilah, apa adanya aku mencoba mengeja berdiri

di sini itu untuk apa, karena aku bukanlah seseorang yang sempurna,

aku bukanlah seseorang yang pandai bermain kata-kata, tapi setidaknya

di sini aku punya cita-cita, aku punya impian yang dahulu pernah

timbul tenggelam.





Sungguh !

Kenangan indah itu kadang lahir dari perjalanan yang tak indah,

kedewasaan dan kebijaksanaan itu memancar dari sela-sela pertarungan

keragu-raguan.



Sungguh ! Betapa mahalnya membangun kepercayaan diri, kadang seseorang

membelinya dengan kecurangan dan kelicikan, tapi sungguh mahal jati

diri seseorang, mendapatkannya setelah menempa diri, beribu kali.





Di sinilah aku berdiri

memandang pada alam sekeliling, kadang kelucuan seseorang itu menjadi

pelajaran betapa riangnya menikmati cobaan, padahal aku tak mengerti

di balik kelucuan kadang bersembunyi tangisan yang menyayat, tangis

kerinduan yang tak terobatkan.





Dari sinilah akan terbit kenangan indah, yang akan selalu aku baca,

aku senandungkan, selalu aku teriakkan : bangkit, berdirilah, demi

impian yang hampir menjadi nyata, jangan biarkan terhenti di tengah

jalan, karena kau bukanlah pecundang !





Ya, karena aku bukanlah pecundang, bukan pemimpi, bukan pemalapetaka,

teruslah bergejolak, teruslah berontak, seperti nyanyian burung

prenjak

singkirkan onak, ini hidup

nyata !



---

20 Agustus 2010 22:49

By Muhammad Saroji - Majalah Sastra

© Copyright - All Rights Reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini