Jumat, 02 September 2016

Puisi Embun Pagi

Dingin,

menikmati bekumu di malam ini

hari menjelang pagi

ketika tak juga pandangan ini menjemput mimpi

telah kalahkah tadi siang ?

Telah pasrahkan jiwa pecundang ?

Telah berdarahkan kulit pembungkus tulang ?

Di penghujung malam ini

ketika rembulan dan angin ditelan sepi

embun menitik membasahi bumi ini

bumi jiwa ini

bumi kelana ini,

sungguh ! Berjalan-jalan itu pasti

melangkah tertatih-tatih

kekiri ke kanan, menorehkan sejarah

tentang kehidupan yang tak pasti.





Tuhan,

jangan biarkan aku tersesat di puncak kegersangan ini !

Kaki berdarah tergores kerikil-kerikil kecil.





Tuhan,

jangan biarkan hati menangis merintih-rintih

menanti kedamaian, rindu tiada jawab.





Tuhan,

kekarkan badan ini

hari mungkin masih panjang

kabulkan keinginan ini

karena di sana jiwa terluka mendamba kasih sayang.

Untuk Kasih Sayangku, amiin



---

26 November 2010 00:00

By Muhammad Saroji - Majalah Sastra

© Copyright - All Rights Reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar