Jumat, 19 Agustus 2016

Senandung Kerinduan Istri Pejuang

Tetkala Umar ibn al-Khattab meronda di Kota Madinah, beliau melalui perkarangan sebuah rumah seorang wanita yang ketika itu penghuni rumah tersebut sedang bersenandung seorang diri di malam sejuk yang mencengkam itu, katanya :
"Aduhai….! Alangkah panjangnya malam ini…!
Betapa gelap dan pekat suasana sekeliling, dan
Betapa lamanya aku dalam penantian, tiada teman untuk bergurau-senda, Demi Allah…! Sekiranya bukan kerana ketakutanku, Kepada Allah yang maha Esa lagi Maha Melihat, Niscaya akan bergoncang ranjangku ini, dan segala isinya…! Tapi, oh Tuhanku…! Malu mencegah diriku, untuk melakukannya. Demi kemuliaan suamiku…! Tidak patut aku merendahkan, Apa yang pernah dikendarainya."

Keesokkan harinya, Umar ibn al-Khattab menyuruh seseorang bertanya kepada perempuan tersebut tentang masalah yang sedang dideritainya, sehingga membuat dia meratap sendu di keheningan malam tersebut. Kemudian pesuruh itu memberitahu Umar ibn al-Khattab, bahawa suami perempuan itu sedang berjuang ke jalan Allah. Kemudian Umar ibn al-Khattab mengutuskan seorang utusan menemui suami perempuan tersebut untuk mengatakan bahwa suaminya akan segera berada di sampingnya.

Sesuai dengan janjinya, Umar ibn al-Khattab mengutuskan seorang utusan menemui suami perempuan tersebut di medan dan menyuruhnya pulang atas perintah Umar ibn al-Khattab. Maka dengan itu pejuang itupun pulang menemui isterinya. Untuk mengetahui dengan lebih lanjut tentang kemampuan seorang perempuan menahan terhadap suaminya, Umar ibn al-Khattab bertanya kepada puterinya, Hafsah (isteri Rasulullah SAW) dan berkata, "Wahai puteriku! Berapa lamakah seorang perempuan itu dapat bersabar menahan kerinduan terhadap ketiadaan suaminya?" "Subhanallah! Orang seperti ayah mau menanyakan kepadaku tentang masalah ini?" jawab Hafsah.
"Jika bukan kerana hendak memberi peringatan kepada kaum Muslimin, aku tidak akan menanyakan hal seperti itu kepada kamu!" balas Umar. "Lima bulan….atau enam bulan…! Jawab Hafsah pendek.

Berdasarkan jawaban yang diberikan Hafsah itu, maka Umar ibn al-Khattab menetapkan waktu bagi kaum Muslimin berada di medan jihad hanya selama enam bulan saja. Sebulan dalam perjalanan pergi, empat bulan di medan jihad dan sebulan untuk perjalanan pulang.

Begitulah kisah yang menjelaskan selama seseorang isteri itu mampu bertahan menahan rindu dendam dan belai kasih dari sang suami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini