Selasa, 23 Agustus 2016

Balada Si Udin Dan Nyai Kumprung : Hampir-Hampir Menjadi Gemblung

"Udiiin....!" teriak Nyai Kumprung dari dapur. "Sini le...!" teriaknya

sekali lagi. Tapi Si Udin yang dipanggil-panggil tak jua menampakkan

batang hidungnya. Dengan raut muka tua yang sedikit kesal Nyai

Kumprung bergegas berdiri, seketika terdengar bunyi "glompraang!" dari

sebuah panci kotor yang tanpa sadar tersandung oleh langkah kakinya

yang sedikit gontai. Rupanya Si Udin yang sedang duduk manis di sofa

beranda tengah tidak menyadari panggilan dan kedatangan neneknya,

malah terlihat sedang ketawa-ketiwi cekikikan sambil memandangi layar

LCD ponsel jadulnya, N2626. Xixixi...





"walah leee....le, dasar cah gemblung, ndak ndenger tah mbahmu

manggil? Ndak ndenger po?" Gumam Nyai Kumprung sambil

menggeleng-gelengkan kepala.



"Apa sih Mbah, ngganggu aja..." jawab Udin menimpali. "Lihat nih aku

lagi catingan pesbuk sama temenku yang di amrik"



"Leee....le, opo kuwi cating pesbuk, opo kuwi amrik, mbahmu ndak

ngerti, ngertiku sing penting kowe ndang adus, maem, sholat, ngaji,

sinau ben sekolae pinter, ben dadi cah bener..." jawab Nyai Kumprung

sambil membelai rambut cucu kesayangannya.

"Ndang papung cah bagus..." bisik Nyai Kumprung sedikit merayu.



Tapi Si Udin yang memang agak bengal tidak memperdulikan rayuan

neneknya, bahkan jari-jari mungilnya makin sibuk pencat-pencet kipet

yang sudah tidak berhuruf sambil sesekali tersenyum. Nyai Kumprung pun

dibuat tambah bingung.

"lee...le, kamu ko udah berubah, ndak mau ngaji lagi, ndak latian bal,

ndak pit-pitan bareng temenmu, ndak mencarikan lagi kayu bakar buat

Mbahmu. Eling le, eleng mak-mu yang lagi nyari duit di Jakarta buat

mbayar sekolahmu, hmm..." guman Nyai Kumprung sambil berlalu pergi

meninggalkan Udin.





hmm...begitulah dunia maya, yang jauh jadi dekat, seakan-akan merapat

di pelupuk mata, sedangkan kita tak lagi peduli dengan orang-orang

yang bercakap di sekeliling kita...



2011/12/14 - By Saroji - © Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini