Senin, 11 April 2016

Konspirasi Jahat Untuk Menghancurkan Negara Lebanon



Forummuslim.org - Lebanon tidak bisa berdiri di atas kakinya lagi. Mereka kewalahan, ketakutan dan nyaris hancur. Lebanon berada di garis depan. Menghadapi ISIS di timur dan utara, menghadapi Israel di selatan. Sekitar 1,5 juta jiwa pengungsi Suriah tersebar di wilayah Lebanon yang sempit. Ekonominya hancur, infrastruktur juga hancur. ISIS masih bercokol di beberapa titik di perbatasan Lebanon-Suriah, yang merupakan ancaman nyata karena secara berkala mereka bisa saja menyerang Lebanon, dan berusaha untuk membangun jaringannya di wilayah Lebanon. Hizbullah berjuang melawan kelompok ISIS, tetapi Barat dan Arab Saudi sepertinya menganggap bahwa Hizbullah, dan bukan ISIS, yang merupakan ancaman bagi kepentingan geopolitik mereka. Tentara Lebanon relatif terlatih tetapi mereka adalah tentara yang buruk dan kekurangan dana. Hari ini di jalan-jalan Beirut, sering terdengar kalimat “hanya tinggal sedikit lagi, hanya satu hentakan lagi, maka seluruh negara akan runtuh, hilang dalam asap”. Apakah hal ini yang benar-benar diinginkan oleh Barat dan sekutunya? Para pejabat tinggi, satu persatu sekarang melakukan kunjungan ke Lebanon. Misalnya Sekjen PBB Ban Ki-moon, Presiden Bank Dunia Jim Young Kim dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini. Semua pengunjung ini mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terkait situasi Lebanon. Mereka mengakui bahwa perang di Suriah memiliki dampak yang sangat besar terhadap Lebanon. Hanya saja, pemicu perang ini tidak pernah dibahas.Dan tidak banyak yang akan diselesaikan. Hanya janji-janji yang tidak pernah ditepati. Sayangnya, masyarakat internasional menunjukkan sedikit sekali keinginan untuk menyelamatkan Lebanon dari krisis yang panjang dan berkelanjutan. Bahkan beberapa negara dan organisasi terus menuduh Lebanon sebagai negara yang melakukan pelanggaran hak asasi menusia, dan memiliki pemerintahan yang lemah dan tidak efektif. Tampaknya yang paling menganggu mereka adalah bahwa Hizbullah (organisasi yang dimasukkan sebagai teroris oleh negara-negara Barat, Arab dan sekutunya), dalam batas tertentu diijinkan berpartisipasi dalam mengelola negara. Tapi Hizbullah adalah satu-satunya kekuatan militer yang mampu secara efektif memerangi ISIS di bagian timur laut Lebanon, di perbatasan Suriah, dan juga wilayah lainnya. Hizbullah juga yang satu-satunya mampu menyediakan jaringan pengamanan yang diandalkan oleh ratusan ribu warga miskin Lebanon. Ketika bangsa ini terpecah dalam garis sekterian, Hizbullah mengulurkan tangannya kepada kelompok lain, menjalin koalisi dengan Muslim Sunni dan Kristen. Mengapa begitu banyak yang sentimen atas Hizbullah? Karena Hizbullah didominasi oleh Syiah, dan saat ini Syiah sedang dibenci dan ditargetkan oleh semua sekutu Barat di dunia Arab. Menjadi target dan kadang bahkan langsung dilikuidasi. Hizbullah dipandang sebagai tangan kanan dari Iran, dan Iran adalah Syiah, yang berdiri melawan imperialisme Barat, bersama Rusia, Tiongkok, beberapa negera Amerika Latin – yang disebut sebagai negara setan oleh Imperium dan ‘kliennya’. Hizbullah bersekutu erat dengan Iran dan dengan pemerintah Bashar al-Assad di Suriah. Hizbullah yang memerangi Israel setiap kali Israel menyerang Lebanon, dan menang dalam setiap kali pertempuran. Secara terbuka melalui pemimpinnya yang blak-blakan, Hizbullah menyatakan permusuhan terhadap kebijakan ekspansionis Barat, Israel dan Arab Saudi. Angie Tibbs adalah pemilik dan editor Dissident Voice yang telah mengamati dengan seksama kejadian di Timur Tengah untuk beberapa tahun terakhir. Ia percaya bahwa perbandingan singkat antara peristiwa tahun 2005 dan hari ini penting untuk memahami situasi yang kompleks. “Di negara yang sejak akhir perang sipil pada tahun 1990, ada topeng kesopanan yang menutupi luka lama, kesalahan lama, yang nyata dan belum dilupakan ketika Hizbullah berhasil dalam politik maupun militer dan memiliki pengaruh yang stabil. Kembali pada tahun 2005, menyusul ledakan bom yang menewaskan Perdana Menteri Rafic Hariri dan 20 orang lainnya, AS dan Israel menyatakan bahwa pelakunya adalah Suriah, tanpa menunjukkan sedikitpun barang bukti. Tentara Suriah di Lebanon dilucuti, atas permintaan pemerintah Lebanon yang diperintah AS dan Resolusi PBB 1559. Rencananya jelas. Dengan perginya tentara Suriah, dan Hizbullah tidak bersenjata, maka perbatasan Lebanon menjadi rentan. Lalu Israel bisa menerobos masuk kembali dan mengambil alih.” Tibbs juga yakin bahwa saat ini masyarakat internasional memang diupayakan untuk mengabaikan Lebanon, dengan tujuan tertentu. “Skenario licik berlangsung hari ini. Hizbullah sibuk berperang melawan ISIS di Suriah. Tentara Lebanon, meskipun terlatih, mereka adalah tentara yang buruk. Perjanjian dengan Tentara Lebanon dibatalkan. PBB, IMF, pada kenyataannya, tidak memberikan bantuan apapun. Masyarakat Lebanon yang hidupnya sudah cukup berat, kini bertambah berat dengan adanya pengungsi Suriah. Ini adalah kesempatan yang sempurna bagi ISIS, tentara proxy Israel dan Barat, untuk bergerak menggoncang kedaulatan Lebanon.” Beberapa pemimpin Lebanon menunjukkan kemarahannya. Menteri Luar Negeri Gebran Bassil bahkan menolak untuk bertemu Ban Ki-moon selama kunjungan dua harinya di Lembah Bekaa dan Beirut. Salah satu surat kabar utama Lebanon, Daily Star, melaporkan pada 26 Maret 2016: Menteri Luar Negeri Gebran Bassil, beberapa jam setelah kunjungan Ban Ki-moon menuduh masyarakat internasional melakukan standar ganda dengan mendekati pengungsi Suriah. “Mereka menciptakan perang, dan kemudian meminta orang lain untuk menjadi tuan rumah bagi pengungsi karena hal itulah yang termaktub dalam perjanjian hak asasi manusia.” Lebanon Ambruk Lebanon ambruk. Beirut mengalami pemadaman listrik secara kontinyu, kekurangan air, sampah menumpuk. Secara ekonomi, negara ini mengalami kemerosotan yang tajam. Dr Salim Chahine, Profesor Keuangan dari American University Beirut, biasanya cukup optimis tentang negaranya. Namun perkembangan beberapa tahun terakhir telah melunturkan optimismenya. “Meskipun Coincident Indicator yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Lebanon baru-baru ini menyatakan ada peningkatan kecil dalam kegiatan ekonomi, namun beberapa pejabat mengirimkan peringatan yang jelas tentang kerusakan yang lebih lanjut. Ketegangan geopolitik regional, konflik sipil di Suriah, serta implikasi internal telah berdampak pada pariwisata, perdagangan, dan sektor real estate. Menurut HSBC, deposito dari populasi ekspatriat terbesar Lebanon – yang biasanya menyediakan likuiditas yang diperlukan untuk pinjaman pemerintah – tumbuh lebih lambat karena kondisi yang memburuk di Teluk. Sebagai negara keenam yang mengalami kemerosotan ekonomi,HSBC skeptis terhadap pemulihan jangka pendek. Defisit publik saat ini meningkat sekitar 20% per tahun, dan tingkat pertumbuhan PDB mendekati nol.” Yayoi Segi, ahli pendidikan dan Spesialis Program Senior untuk Kantor Wilayah UNESCO Arab yang berbasis di Beirut, beraktivitas di Suriah dan Lebanon. Ia mengemukakan, “Sektor pendidikan umum sangat kecil, hanya mencapai sekitar 35 persen dari penduduk usia sekolah. Alokasi negara untuk pendidikan kurang dari 10 persen sementara rata-rata dunia adalah 18-20 persen. Situasi ini diperparah oleh krisis saat ini yang sedang berlangsung di wilayah, dan Lebanon telah mengakomodasi masuknya pengungsi. Penyediaan pendidikan untuk publik telah diperluas dan terus berkembang. Namun, hal ini berdampak pada kualitas pendidikan itu sendiri, disamping memberikan kontribusi terhadap peningkatan siswa yang putus sekolah di Lebanon. Dan pendidikan hanya bisa diberikan bagi 50% dari anak-anak pengungsi Suriah.” Nadine Georges Gholam (bukan nama sebenarnya), yang bekerja untuk salah satu badan PBB, mengatakan bahwa akhir-akhir ini dia merasa apatis, bahkan putus asa. “Apa yang telah terjadi di Lebanon khususnya lima tahun terakhir ini benar-benar menyedihkan. Selama ini saya secara aktif mengambil bagian dalam protes untuk menyuarakan kemarahan dan rasa frustasi. Tetapi sekarang saya tidak mengetahui apakah hal itu akan menghasilkan suatu perbedaan atau perubahan. Seolah-olah, tidak ada fungsi pemerintah. Ada 300.000 ton sampah yang belum diolah dalam waktu 8 bulan. Ada pertikaian sekterian. Ada konflik regional. Apa lagi selanjutnya? Lebanon tidak bisa menahan tekanan tersebut. Semua akan sia-sia dan runtuh.” Tetapi hal yang lebih buruk lagi telah menanti. Baru-baru ini, Arab Saudi membatalkan paket bantuan AS untuk Lebanon senilai $4 miliar. Dana itu seharusnya digunakan untuk membeli paket senjata dari Perancis, yang memang benar-benar dibutuhkan jika Barat dan Arab Saudi serius memerangi ISIS.

Begitulah. Arab Saudi menghukum Lebanon karena adanya perwakilan dari Hizbullah di dalam pemerintahan, karena menolak memberikan dukungan kepada sekutu-sekutu Barat di Liga Arab (yang memasukkan Hizbullah sebagai kelompok teroris), dan sikap Lebanon yang tetap menahan salah satu Pangeran Arab Saudi di dalam tahanan karena ia berusaha menyelundupkan 2 ton narkotika dari Bandara Internasional Rafic Hariri.

Kisah Pangeran Saudi ini benar-benar aneh dan menjadi ‘bom’. Pihak berwenang Lebanon menemukan beberapa kokain di jet pribadinya, yang kemungkinan besar digunakan secara pribadi oleh Pangeran, keluarga dan teman-temannya. Tetapi yang paling penting adalah adanya Captagon, yang kemungkinan ditujukan bagi klub malam bawah tanah di negara-negara Teluk, seperti yang telah diberitahukan oleh beberapa ahli setempat,

“Obat-obatan ini menyebabkan sifat yang brutal, yang menghancurkan semua rasa takut. Ini adalah “narkotika untuk para kombatan”, yang telah diberikan kepada anggota ISIS. Bisa jadi obat-obat ini ditujukan untuk jaringan ISIS di Irak, tetapi kemungkinan besar Pangeran Saudi membawa obat-obatan itu untuk sekutu Saudi di Yaman. Atau bisa jadi untuk keduanya.”

Di mata Arab Saudi, Lebanon telah ‘melanggar garis’. Lebanon menolak untuk bermain dalam skenario yang telah susah payah disiapkan oleh Barat dan mitranya. Dan sekarang mereka ditampar, dihukum, atau yang lebih brutal: mereka telah dikorbankan.

Tentu saja, ini adalah waktu yang sangat berbahaya bagi negara yang kecil tetapi penuh kebanggaan ini. Pasukan Suriah, dengan bantuan dari Rusia, telah membebaskan satu persatu kota Suriah dari cengkraman ISIS dan kelompok teroris lainnya yang didukung oleh Turki, Arab Saudi, Qatar dan sekutu Barat lainnya.

ISIS mencoba untuk pindah ke Irak, untuk bergabung dengan jaringannya di negara tersebut. Tetapi pemerintah Irak juga berupaya untuk melakukan perlawanan, dan telah siap untuk melawan. Mereka juga melakukan pembicaraan dengan Rusia, untuk mempelajari kesuksesan operasi Rusia di Suriah.

Untuk ISIS dan Al Nusra, pindah ke Lebanon yang lemah dan hampir bangkrut menjadi langkah yang paling logis. Barat, Arab Saudid an sekutunya, jelas menyadari hal itu.

Bahkan ISIS sudah ada, menyusup hampir ke semua kota-kota Lebanon, juga di pedesaan. Setiap kali mereka berusaha melakukan serangan yang menargetkan Syiah, militer, dan target lainnya. Hal ini dilakukan baik oleh ISIS maupun Al Nusra. Dan impian ISIS sudah dinyatakan terang-terangan: suatu kekhalifahan dengan akses ke laut (hal ini bisa dilakukan jika menguasai bagian utara Lebanon).

Ada beberapa skenario untuk menjatuhkan Hizbullah. Yang paling sederhana adalah:

Israel bisa melakukan invansi, atau bahkan sebuah “serangan kecil” ke Lebanon yang dilakukan secara berkala. Tentara Lebanon terlalu lemah untuk melakukan sesuatu guna membela negara. Hizbullah akan mengalihkan pasukannya yang saat ini berperang melawan ISIS di timur laut, ke wilayah selatan. Di selatan, mereka mungkin harus berjaga-jaga selama beberapa minggu. Dan kesempatan ini akan digunakan oleh ISIS untuk bergerak, melintasi perbatasan ke Lebanon tanpa perlawanan. Jaringan-jaringan ISIS akan segera aktif dan negara ini bisa runtuh hanya dalam beberapa hari.

Sekarang pemimpin Lebanon harus berbicara dengan Teheran dan Moskow segera. Sementara ini masih ada waktu yang tersisa untuk mencegah bencana ini terjadi. Mereka harus secara terbuka meminta bantuan. Selalu ada jalur yang terbuka lebar dengan Iran. Sementara Rusia, baru-baru ini bukan menjamu delegasi yang mencoba untuk mencegah kolapsnya Lebanon, tetapi menerima kunjungan dari Saad Hariri, mantan PM dan pemimpin “Gerakan Masa Depan” yang secara terbuka anti-Hizbullah, sebagaimana ayahnya Rafic Hariri, sekutu setia Arab Saudi, dan di atas semua itu, ia adalah seorang warga Arab Saudi.

Robert Fisk menulis dengan sinis tentang Mr. Hariri, untuk The Independent pada 3 Maret 2016:

“Gerakan Masa Depan Lebanon (yang diklaim sebagai gerakan Sunni), dengan pemimpinnya Saad Hariri seorang warga Saudi, tampaknya sekarang cukup terkejut dengan tindakan yang disengaja oleh negara yang telah diberikan loyalitasnya sebagaimana Lebanon. Gerakan Masa Depan, tampaknya tidak berusaha keras untuk mendukung kritik resmi yang dinyatakan oleh pemerintah Lebanon terhadap sikap Arab Saudi di Liga Arab, dan harus mencegah Hizbullah mendestabilisasi Yaman dan Bahrain, walaupun tidak ada bukti fisik baik Hizbullah atau Iran benar-benar terlibat dalam perang di Yaman ataupun perlawanan damai masyarakat Bahrain atas kepemiminan otoriter Rezim Al Khalifa.”

Badai Politik dan Militer

Lebanon yang kecil berada di tengah angin puyuh dan badai politik militer yang telah menelan hampir seluruh Timur Tengah dan Teluk.

Dalam dekade terakhir, Lebanon telah sangat menderita. Kali ini, jika Barat dan sekutunya tidak mengubah pandangan mereka, mungkin tidak lama lagi mereka akan lenyap tak berbekas. Untuk tetap bertahan hidup, maka Lebanon harus menempa hubungan yang lebih erat dengan Suriah, Iran, Rusia dan Tiongkok.

Apakah mereka berani melakukannya? Tidak ada front persatuan dalam kepemimpinan Lebanon. Pro-Barat dan fraksi pro-Arab akan menentang aliansi dengan negara-negara yang menentang kepentingan Barat.

Tetapi waktu terus berjalan. Baru-baru ini, kota tua Palmyra dibebaskan dari ISIS. Paradoksnya, kota-kota bersejarah di Lebanon seperti Baalbek dan Byblos mungkin akan segera jatuh.

Sumber : Andre Vltchek adalah seorang filsuf, penulis novel, pembuat film dan wartawan investigasi. Ia meliput perang dan konflik di berbagai negara. Buku terbarunya berjudul “Exposing Lies Of The Empire” dan “Fighting Against Western Imperialism”.  Diskusinya bersama Noam Chomsky diterbitkan dalam buku yang berjusul On Western Terrorism.  Artikel ini diterjemahkan dari Globalresearc.ca.
(Liputanislam.com)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini