Jumat, 18 Maret 2016

Kontroversi Seputar Penarikan Pesawat Tempur Rusia dari Suriah



Forummuslim.org - Sebuah pesawat tempur Mig-21 Suriah ditembak jatuh
oleh pemberontak di Hama akhir pekan lalu (12 Maret) dengan
menggunakan rudal jinjing Stinger buatan Amerika.


Kantor berita Rusia RIA Novosti (Sputnik News) pun langsung membuat
laporan tentang ancaman rudal tersebut terhadap keamanan
pesawat-pesawat tempur Rusia yang berada di Suriah. 'Syria's Downed
MiG-21: How Russian Aircraft Will Defend Themselves?', demikian tulis
RIA.

Secara mengejutkan, dua hari kemudian (Senin 14 Maret) Presiden Rusia
Vladimir Putin memerintahkan penarikan pesawat-pesawat tempur Rusia di
Suriah. Hal ini sontak menimbulkan spekulasi bahwa Rusia takut
kehilangan pesawat-pesawatnya oleh rudal-rudal Stinger tersebut,
sebagaimana pengalaman Perang Afghanistan tahun 1980-an.

Rusia sendiri berdalih, penarikan kekuatan militernya di Suriah
disebabkan Rusia telah mencapai tujuannya di Suriah, dan kini adalah
saatnya konflik diselesaikan secara politis melalui perundingan Genewa
yang telah dirancang PBB.

Rusia juga tetap menempatkan sejumlah kekuatan di pangkalan laut
Tartus dan pangkalan udara Hmeymim di Latakia.

Mantan pejabat Senat Amerika James Jatras, dalam wawancara dengan
Russia Today, mengatakan, "Kita harus mengingat bahwa penyelesaian
politik dari konflik ini tidak pernah terjadi tanpa dukungan militer
Rusia kepada pasukan Suriah. Hal ini telah memaksa para teroris berada
pada posisi bertahan," kata Jatras.

Hal yang sama dikatakan oleh analis politik John Wight, yang
mengatakan kepada media yang sama bahwa serangan udara Rusia telah
memulihkan moral pasukan Suriah sehingga membuat posisi medan perang
barubah, dari posisi terjepit menjadi posisi di atas angin. "Kini
semua perhatian diarahkan ke Genewa, di mana putaran baru perundingan
damai Suriah akan berlangsung," katanya.

Analis Politik terkemuka, Catherine Shakdam, juga menyatakan hal
senada. Menurutnya, keputusan Vladimir Putin menarik kekuatan militer
Rusia telah mengurangi ketegangan yang diperlukan sebelum dimulainya
perundingan.
"Ini adalah sebuah cara untuk memulai kembali penyelesaian konflik
Suriah secara politik. Presiden Putin dan Rusia tahu penuh bahwa
mereka tidak boleh terlibat dalam perang habis-habisan, khususnya jika
perang ini bukanlah tujuan utama Rusia," katanya.

Bruno Gollnisch, anggota parlemen Perancis dari National Front,
menyebut keputusan Rusia ini telah memberikan isyarat jelas bahwa
Rusia berkehendak untuk melakukan dialog internasional tentang Suriah.
"Saya percaya bahwa Vladimir Putin sangat tepat dengan keputusannya
menarik pasukan Rusia di Suriah. Ini membuktikan kepada masyarakat
internasional bahwa mereka harus berdialog dengan Putin daripada
mengisolasinya," kata Gollnisch.

Tentang spekulasi 'ketakutan' Rusia mengulangi kekalahan menyakitkan
di Afghanistan, media Rusia Sputnik News mengutip keterangan pakar
militer Nic R. Jenzen-Jones, Direktur Armament Research Services, yang
mengatakan kepada International Business Times bahwa rudal-rudal
jinjing yang dimiliki pemberontak hanya efektif untuk menembak
helikopter dan pesawat-pesawat berteknologi rendah seperti pesawat
milik Suriah yang ditembak jatuh. "Rudal itu menjadi ancaman serius
bagi pesawat-pesawat tempur Suriah, terutama helikopter. Dalam
persepektif teknis, tipe-tipe rudal jinjing dan SAM
(surface-to-air-missiles) akan kurang efektif melawan pesawat-pesawat
tempur modern Rusia yang bertempur di Suriah," kata Jenzen-Jones.

Sementara itu jurnalis dan analis militer Rusia, Vladimir Tuchkov
menyebut, bahkan jika para pemberontak memiliki rudal-rudal jinjing
tercanggih buatan Amerika, pesawat-pesawat dan helikopter Rusia telah
memiliki penangkalnya yang ampuh. "Helikopter-helikopter pesawat
tempur Rusia di Suriah telah dilengkapi dengan sistem pertahanan udara
paling canggih, yaitu President-S, yang mulai diproduksi tahun lalu
oleh Ekran Scientific Research Institute," katanya.
"Pesawat-pesawat yang dilengkapi dengan President-S kebal terhadap
senjata-senjata MANPADS (rudal jinjing), bahkan helikopter-helikopter
yang terbang dengan ketinggian dan kecepatan yang rendah, rudal-rudal
yang diarahkan kepadanya akan meleset. Sistem pertahanan ini tidak
saja ampuh bagi rudal-rudal yang dikendalikan dengan sinar laser,
namun juga rudal-rudal yang dikendalikan dengan radar sekalipun,"
tambahnya.

"Yang membuat sistem ini benar-benar ampuh adalah sistem pengacau
elektronik berdasar laser, yang mendeteksi rudal yang datang,
memberitahukan koordinatnya ke komputer, dan dengan bantuan
monitor-monitor optik mengamati pergerakan rudal dan mengarahkan sinar
laser ke rudal tersebut. Pada saat yang tepat sinar laser menyala dan
mematikan sistem elektronik rudal dan sekaligus kemampuannya mengarah
pada sasaran."
Sistem pertahanan Presiden-S mampu mengelabuhi dua rudal yang
diarahkan musuh sekaligus.( Indonesian Free Press)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini