Selasa, 22 Maret 2016

20 Pesawat Tempur dan 2.000 Personil Militer Rusia Masih Stand By di Suriah


Forummuslim.org - Setelah penarikan kekuatan militernya, Rusia masih
meninggalkan 20 pesawat tempur, sejumlah helikopter, sistem pertahanan
udara S-400 dan Patsir, serta 2.000 personil militer di pangkalan
udara Hmeymim, Suriah. Kekuatan ini diklaim Rusia masih bisa
menyelesaikan tugas untuk menghancurkan kekuatan teroris di Suriah.


Seperti dilaporkan Sputnik News, Presiden Vladimir Putin dalam
pertemuan dengan para personil militer yang baru kembali dari Suriah,
minggu lalu, mengatakan bahwa intensitas serangan udara Rusia akan
berkurang dari 60-80 serangan menjadi 20 serangan setiap harinya.
Namun, dengan jumlah itu kekuatan militer yang berkurang lebih dari
50% itu, diyakini masih bisa menyelesaikan misi Rusia di Suriah.


Kekuatan utama Rusia yang masih berada di Suriah adalah satu skuadron
pembom dan serangan darat SU-24, jenis yang ditembak Turki November
2015 lalu. Namun karena pesawat itu tidak dirancang untuk melakukan
pertempuran udara, skuadron tersebut harus dikawal oleh
pesawat-pesawat tempur SU-30 dan SU-35.
Empat pesawat Su-35s yang merupakan pesawat paling canggih Rusia
dikirim ke Suriah pada bulan Januari dan pesawat-pesawat itu masih
berada di Suriah. Untuk melakukan misi bantuan udara,
helikopter-helikopter Ka-52 dan Mi-28N juga masih berada di Suriah.


Menurut pakar militer Rusia Viktor Litovkin kepada Sputnik News,
kekuatan yang masih tinggal di Suriah akan menyelesaikan tugasnya,
yaitu menyerang pemberontak teroris, mendukung pasukan Suriah dan
sekutu-sekutunya serta melakukan penguasaan udara atas Suriah.
"Seluruh pesawat itu mampu melancarkan serangan atas para teroris.
Namun karena Su-24 tidak didisain untuk melakukan perang udara, ia
membutuhkan perlindungan pesawat tempur," katanya kepada Sputnik News.


Sementara itu Ruslan Pukhov, director of the Analytic Center for
Strategies and Technologies mengatakan bahwa sistem pertahanan udara
S-400 dan Pantsir yang ditempatkan di pangkalan udara Hmeymim akan
melindungi wilayah udara Suriah dari penyusupan Turki, Amerika ataupun
Israel.


Sebagai tambahan, menurut Litovkin, helikopter-helikopter serbu
efektif digunakan untuk menghancurkan senjata-senjata teroris yang
lolos dari serangan pesawat pembom.
"Helikopter Ka-52 dan Mi-28N dilengkapi dengan rudal-rudal anti-tank
Vikhr dan Ataka, sebagaimana juga meriam anti-tank kaliber 30-mm,"
katanya.


Untuk mendukung operasi militer di Suriah, Rusia harus menempatkan
sekitar 2.000 personil militernya, termasuk 200-300 ahli yang berada
di pangkalan udara Hmeymim.
Kedua pakar tersebut meyakini bahwa jumlah kekuatan Rusia yang ada
masih efektif untuk menyelesaikan misi di Suriah, karena sebagian
besar sasaran pemberontak telah dihancurkan, selain untuk mendukung
proses perundingan damai di Genewa.
"Di tengah perundingan damai, dan intensitas pertempuran yang
berkurang, jumlah kekuatan militer Rusia di Suriah saat ini masih
rasional," kata Litovkin.


Keputusan Putin menarik sebagian kekuatan militer Rusia menjadi
pemberitaan luas media massa internasional. Ketika Rusia memulai
misinya di Suriah bulan September 2015 lalu, media-media massa
internasional berspekulasi tentang kegagalan total misi tersebut.
Namun, setelah lima bulan operasi, Rusia membuktikan keefektifan
peralatan-peralatan militernya dengan keberhasilan meraih sejumlah
target strategis:
- Regim Bashar al Assad tidak lagi terancam, bahkan kini berada dalam
posisi unggul secara militer, setelah lebih dari 500 wilayah pemukiman
berhasil dikuasai kembali oleh pasukan pemerintah dengan dukungan
Rusia.


Penyelesaian politik menjadi kesepakatan bersama masyarakat
internasional, menggantikan tuntutan 'mati' Amerika dan Saudi tentang
pemakzulan Bashar al Assad, antara lain :

- Pemilihan umum dan pembentukan pemerintahan transisi telah
disepakati dengan melibatkan Bashar al Assad.

Jalur suplai dan infrastuktur teroris telah dihancurkan. Misi
selanjutnya Rusia adalah membantu pasukan Suriah menguasai kembali
Aleppo, membersihkan wilayah pinggiran Damaskus dan Hama, dan
menguasai wilayah perbatasan Turki-Suriah, serta mengusir para teroris
dari 'ibukota'nya, Raqqa. Saat ini militer Suriah tengah mengepung
Palmyra sebelum bergerak menuju Raqqa.


Sementara jalur suplai pemberontak di Aleppo telah dikuasai
pemerintah. "Rusia tidak meninggalkan Suriah. Sebaliknya, Rusia kini
menjadi pemimpin di Timur Tengah, membuat kawasan tersebut lebih aman
dari bahaya (terorisme)," tulis media ItaliaIl Giornale.
( Indonesian Free Press)

2 komentar:

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini