Sabtu, 09 Januari 2016

Cina Membuat Kapal Induk Kedua, Amerika Cemaskan Rusia

Indonesian Free Press -- Sebuah laporan yang dibuat Angkatan Laut Amerika baru-baru ini mengungkapkan kecemasan Amerika atas peningkatan kekuatan laut Rusia yang sangat signifikan beberapa waktu terakhir, termasuk unjuk kekuatan yang dilakukan angkatan laut Rusia.

Seperti dilaporkan situs The Daily Beast, 28 Desember lalu, laporan yang selama 24 tahun tidak pernah dibuat karena anggapan lemahnya angkatan laut Rusia paska runtuhnya Uni Sovyet itu, mencerminkan kecemasan Amerika melihat kekuatan Rusia akhir-akhir ini.

"Dan sementara laporan yang dimaksudkan untuk konsumsi publik itu dibuat selama bertahun-tahun, kejadian-kejadian terakhir menegaskan betapa pentingnya temuan-temuan dalam laporan itu. Kini telah sangat jelas bahwa dengan dukungan kuat Presiden Vladimir Putin, angkatan laut Rusia tengah berusaha upaya-upaya serius untuk menantang kekuatan laut dunia, Amerika Serikat," tulis The Daily Beast tentang laporan yang dirilis pertengahan Desember lalu dengan judul 'The Russian Navy: A Historic Transition'.

Laporan setebal 68 halaman itu dibuat oleh George Fedoroff, pakar angkatan laut Rusia yang bekerja untuk Dinas Inteligen Angkatan Laut AS yang berbasis di Maryland.


Lembaga ini telah menghentikan kajian mendalam terhadap angkatan laut Rusia tahun 1991, atau paska runtuhnya Uni Sovyet dan kolapsnya angkatan laut negara itu. Ratusan kapal perang dan kapal selam, terbengkalai karena kekurangan dana. Sebagian di antaranya dijual ke negara lain sebagai barang bekas.

Namun, di bawah Putin, angkatan laut Rusia kembali bangkit, dan semakin berkibar setelah angkatan laut Rusia terlibat dalam perebutan Krimea tahun 2014 dan konflik Suriah tahun 2015.

"Sejak tahun 2000, setelah ketertiban politik dan ekonomi pulih, terdapat upaya untuk memperkuat kembali militer Rusia, termasuk angkatan lautnya. Program-program pembangunan yang terbengkalai diaktifkan kembali dan program-program pembangunan kapal-kapal baru telah mulai membentuk angkatan laut Rusia dengan kekuatan kapal-kapal permukaan dan kapal-kapal selam abad-21," tulis laporan itu.

Saat ini Rusia memiliki 186 kapal perang permukaan dan selam yang siap tempur yang beroperasi di Atlantic dan Pasifik oceans, Laut Hitam, Laut Baltik, Laut Kaspia, Laut Tengah hingga Laut Artik. Ini adalah kekuatan laut ketiga setelah Amerika dan Cina. Amerika sendiri memiliki 280 kapal perang permukaan dan selam. Namun unjuk kekuatan Rusia dengan menembakkan rudal-rudal jelajah Kalibr dari Laut Kaspia dan Laut Tengah  ke Suriah baru-baru ini, sangat mengguncangkan para pengamat militer internasional.

Selama ini hanya Amerika yang telah meluncurkan rudal-rudal jelajah dalam sebuah pertempuran, namun kini telah disamai oleh Rusia. Bahkan, rudal-rudal Kalibr Rusia jauh lebih unggul dibandingkan rudal-rudal jelajah Amerika, seperti Tomahawk. Selain memiliki daya jangkau lebih besar (hingga 2.000 km), Kalibr terbang dengan kecepatan supersonik, dibandingkan Tomahawk yang terbang dengan kecepatan sub-sonik, sehingga lebih sulit ditangkal oleh sistem pertahanan udara dan memiliki daya hancur yang lebih tinggi.

Keunggulan lain Kalibr adalah bisa dipasang di kapal-kapal kecil seperti korvet, dengan tonase kurang dari 1.000 kg. Sementara Tomahawk hanya bisa dipasang di kapal-kapal yang jauh lebih besar, seperti frigat.


Kapal Induk Kedua Cina
Sementara itu Cina dikabarkan tengah membangun kapal induk keduanya, Jika kapal induk pertama adalah buatan Rusia, kapal induk kedua ini murni buatan sendiri.

Sebagaimana laporan Associated Press, Rabu (30 Desember), Kementrian Pertahanan Cina mengumumkan pembangunan kapal induk itu di galangan kapal kota pelabuhan Dalian.

"Semua orang tahu bahwa kapal induk pertama yang dimiliki Cina adalah kapal induk Liaoning. Departemen-departemen terkait telah mempertimbangkan subyek ini dari berbagai sudut dan kemudian memulai pembangunan kapal induk kedua. Saat ini disain akhir dan konstruksi kapal induk itu masih berjalan," kata Jubir Kemenhan Cina Yang Yujun sebagaimana dikutip dalam laporan itu.

"Kami memiliki garis pantai yang panjanag dan perairan yang luas di bawah yurisdiksi kami. Jaminan atas keselamatan dan keamanan wilayah itu, perlindungan kedaulatan, wilayah teritoril dan kepentingan-kepentingan yang sah dari laut dan samudra negeri kami adalah sebuah tugas suci bagi angkatan bersenjata Cina," katanya lagi seraya menambahkan bahwa kebijakan luar negeri adalah bebas, damai dan defensif.

Kapal induk pertama Cina, Liaoning, adalah bekas kapal jelajah Uni Sovyet Varyag yang dibeli dari Ukraina tahun 1998. Melalui pembangunan yang intensif, kapal tersebut kemudian diberi nama Liaoning, nama galangan kapal yang membangun kapal itu di kota pelabuhan Dalian.

Pada tahun 2012 pesawat tempur J-15 berhasil melakukan ujicoba pendaratan dan tinggal landas di kapal induk ini.(cahyono-adi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini