Kamis, 08 Oktober 2015

Rejeki Tak Kan Kemana

Saya memiliki teman seorang penjual bubur kacang hijau yang memiliki

lapak di perempatan jalan yang sangat strategis. Warung itu buka 24

jam karena sangat laris. Para pelanggan kebanyakan adalah tukang ojek,

karyawan pabrik, dan masyarakat sekitar. Namun karena tempat yang

sangat strategis itulah akhirnya lapak bubur kacang ijo itu digusur

dan oleh pemilik lahan tempat itu dijadikan mini market.





Akhirnya si penjual bubur itupun berpindah tempat, beruntung dia

pindah jualan ke rumah sendiri, bergeser sekitar 200 meter dari tempat

semula. Tempatnya memang tidak strategis dan sepi bila dibandingkan

dengan tempat semula. Tapi apakah si tukang bubur ini kehilangan

pelanggannya? Ternyata sama sekali tidak. Di tempat yang baru ini dia

mendapatkan pelanggan baru terutama dari masyarakat sekitar dia

jualan, dan yang pasti pelanggan-pelanggan lama dari tempat dulu dia

jualan pun tetap setia membeli bubur di sana. Jarak yang bertambah

jauh memang "agak" sedikit merepotkan. Tapi kadang jual beli itu tidak

melulu berbicara untung rugi, tapi juga melibatkan rasa dan emosional.





Jadi, rejeki memang tak kan kemana, rejeki memang tidak pernah

tertukar. Dimanapun tempat, di situ ada rejeki, yang penting ada

usaha, dan tentu ada ciri khas terhadap kualitas jualan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini