Minggu, 17 Mei 2015

Menakutkan Penghulu Memakamkan jin mati ditengah malam





 Menakutkan penghulu jenazah yang disuruh memakamkan jin mati.

Berikut ini adalah kisah
nyata yang terjadi di kecamatan Garum,
Blitar, seorang penghulu mayat atau
biasa disebut “modin” yang ikut
memakamkan makhluk halus yang
meninggal dunia. Cerita mistis ini
sebenarnya sudah terjadi sejak lama
yang diposting di koran Jawa Pos
terbitan beberapa tahun yang lalu, namun
kini saya muat ulang lagi di blog ini
dalam bentuk cerita.Silakan simak baik-
baik ceritanya ya, agar anda lebih
berhati-hati jika menghadapi tamu di
rumah anda pada malam hari. Karena
tamu pada malam hari bisa saja berasal
dari makhluk manusia, malaikat, jin,
maupun syetan dkk. Hiiii ngeriii..!!
Ilustrasi: travel.detik.com

” Nama saya maksun, umur saya 55
tahun. Saya sudah lebih dari 30 tahun
menjabat sebagai modin di desa saya.
Setiap ada orang meninggal dunia saya
yang menjadi penghulu jenazah atau
yang mengkoordinir prosesi pemakaman
mulai dari rumah hingga selesai di
pemakaman. Kemudian malamnya saya
menjadi imam tahlil di rumah duka
selama 7 hari. Saya pernah tanpa
sengaja menjadi penghulu jenazah di
alam jin.

Pada suatu hari ketika selesai
melangsungkan acara prosesi
pemakaman seorang warga desa yang
meninggal, saya pulang terlalu petang.
Maklum hari itu ada orang meninggal
dunia terlalu sore sehingga pemakaman
selesai ketika hari menjelang gelap.
Saya tiba di rumah sekitar pukul 7 malam
jum’at dalam keadaan hujan gerimis.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba ada
sebuah mobil sedan warna putih berhenti
di depan rumah saya. Lalu keluar dua
orang lelaki dengan menggunakan busana
muslim dan memakai topi hitam (kopyah)
seperti yang saya kenakan. Mereka
berlari kecil menghampiri saya dan
mengatakan ingin bertamu di rumah saya
karena ada satu keperluan mendadak.
Lalu saya mempersilakan mereka masuk
ke rumah. Bersama saya, mereka masuk
dan langsung duduk di ruang tamu.

Kemudian kedua tamu saya ini
memperkenalkan diri bahwa mereka
adalah warga dari wilayah lain di kota.
Lalu mereka menyampaikan suatu
keperluannya kepada saya. Ternyata
mereka adalah orang yang juga sedang
berduka. Salah satu keluarganya
meninggal dunia dan mereka meminta
bantuan saya untuk menjadi penghulu
jenazah untuk mengantarkannya ke
pemakaman malam ini.

Saya merasa keberatan untuk memenuhi
permintaannya karena di desa mereka
tentunya sudah ada petugas modinnya
tersendiri. Selain itu, saya juga baru saja
pulang dari mengurus acara prosesi
pemakaman warga di desa ini. Lalu saya
meminta maaf dan mengatakan kalau
saya tidak bisa membantu mereka
mengingat malam ini saya juga akan
menjadi imam tahlil di desa ini, yaitu
dirumah keluarga orang yang baru saja
meninggal dunia tadi siang.

Namun dua orang ini memohon kepada
saya dan mengatakan bahwa modin di
desanya sedang berhalangan sehingga
tidak ada orang yang menjadi penghulu
jenazah. Sementara acara memandikan
jenazah serta mengkafani sudah selesai
semua, kuburan juga sudah siap. Mereka
mengatakan bahwa keluarga mereka
sedang menunggu kedatangan saya
malam ini juga.

Mendengar permintaan mereka yang
sangat penting dan darurat sekali, maka
akhirnya saya bersedia memenuhi
permintaannya. Sementara tugas saya
menjadi imam tahlil di desa ini saya
wakilkan kepada orang lain.
Tanpa mandi maupun cuci muka, saya
berangkat bersama dua orang tamu ini
menuju ke rumah duka dengan
mengendarai mobil sedan mewah warna
putih. Rupanya rumah mereka jauh sekali,
sampai-sampai perjalanan ini keluar dari
wilayah kabupaten Blitar. Kemudian
melewati hutan lebat yang cukup jauh,
lalu masuk ke sebuah kota yang ramai
dan saya belum pernah melihat kota itu.
Setelah berputar-putar di kota yang ramai
maka tibalah kami bertiga di rumah duka.
Rupanya yang meninggal dunia ini adalah
orang kaya, karena rumahnya megah dan
ada taman bunga cantik di depan
rumahnya.

Dan benar apa yang dikatakan oleh dua
tamu saya ini, ternyata sudah banyak
orang melayat yang berkumpul di rumah
duka. Sementara terdengar suara
tangisan para anggota keluarga yang
meninggal dunia. Jenazah saya periksa
sudah selesai dikafani dan sudah berada
di dalam keranda mayat. Semua
perlengkapan pemakaman juga sudah
disiapkan. Dan mereka benar-benar hanya
menunggu kedatangan saya sebagai
penghulu jenazah.

Akhirnya langsung saja seperti biasanya,
saya menyampaikan pidato mewakili atas
nama keluarga yang berduka
menyampaikan terima kasih kepada para
pelawat yang ikut berbelasungkawa.
Setelah selesai, jenazah langsung
diberangkatkan malam itu juga dan kami
beramai-ramai berjalan menuju ke
pemakaman umum di desa itu.
Tidak lama rombongan jenasah tiba di
pemakaman umum yang ternyata tidak
jauh dari rumah duka. Liang kubur sudah
di persiapkan sejak tadi dan keranda
jenazah langsung diletakkan disamping
liang kubur.

Seperti biasa, saya langsung masuk ke
liang kubur untuk mengumandangkan
adzan. Dari sini mulai timbul keanehan.
Ketika saya mengumandangkan suara
adzan, tiba-tiba orang-orang yang
melayat terlihat seperti orang
kebingungan. Lalu mereka menjauh satu
persatu. Semakin kencang suara adzan,
mereka semakin menjauh dan pergi.
Setelah adzan selesai, tidak ada orang
sama sekali. Semua pelayat dan juga
keluarga yang berduka pergi entah
kemana.

Akhirnya saya bingung bagaimana cara
mengangkat mayat ke liang kubur
seorang diri, dan lalu menimbunnya
dengan tanah. Mana bisa? Sementara
menguburkan mayat sampai selesai
adalah wajib bagi seorang muslim.
Namun tidak masalah biarpun para
pelayat pergi semua dan tidak ada
seorangpun yang membantu.. Saya bisa
menyelesaikannya sendiri pelan-pelan.
Namun ada kejadian aneh yang
mencengangkan saya ketika saya
mencoba membuka tali keranda mayat.
Ternyata keranda mayat yang tadinya
diletakkan disamping saya di dekat liang
kubur itu hanyalah tumpukan pohon
singkong yang diikat dengan tali. Dan tali
keranda yang saya buka tersebut
ternyata tali rafia yang digunakan untuk
mengikat bentelan kayu singkong.
Kemudian saya tengak-tengok ke
sekeliling, dan saya melihat ada pohon-
pohon singkong sangat banyak dan lebat
berdiri di sekeliling saya. Betapa
terkejutnya saya. Ternyata saya sedang
berada di tengah-tengah ladang singkong
sendirian malam hari.

Saya langsung tersadar bahwa ternyata
orang yang hendak saya makamkan tadi
adalah makhluk halus. Dan orang-orang
menjadi pelayat itu ternyata semuanya
juga makhluk halus. Rupanya saya telah
dikerjai oleh sekelompok makhluk halus.
Saya ternyata telah mengumandangkan
adzan sendirian di tengah-tengah ladang
singkong. Dan ketika saya berpidato di
depan rumah duka tadi ternyata saya
hanya berpidato kepada pohon singkong.
Seketika itu bulu kuduk saya berdiri
tegak. Tanpa pikir panjang lagi, saya
langsung kabur ambil langkah seribu
sekencangnya agar bisa keluar dari kebun
singkong sialan itu.

Akhirnya dengan terjatuh-jatuh dan
menabrak-nabrak semak belukar, saya
berhasil keluar dari ladang singkong dan
tiba di sebuah kampung. Ternyata
kampung itu adalah tetangga desa saya.
Dan ketika saya naik mobil sedan putih
tadi ternyata saya hanya berjalan kaki
saja ke desa sebelah. Untungnya kini
malam sudah larut tengah malam,
sehingga tidak ada seorangpun yang
melihat saya kesasar di kebun singkong
malam-malam sendirian.

Secepatnya saya pulang menuju rumah.
Sesampai dirumah saya terbengong dan
tak habis pikir, seakan saya tidak percaya
kalau saya baru saja menghadiri acara
pemakaman orang mati di alam jin. Lalu
mengapa para jin itu mengerjai saya?
Sudah tahu ada orang capek-capek
pulang kemalaman dari acara
pemakaman, masih dikerjai lagi oleh
makhluk jin. Dasar hantu kurang ajar!
Besoknya saya langsung pergi ke kantor
desa dan meminta pengunduran diri
sebagai modin.”

1 komentar:

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini