Kamis, 23 April 2015

Ust. Idrus Ramli Mengaku Dilaporkan ke PWNU, Serang Syi'ah Malah Dituduh Dibiayai Syiah

Dewan Pakar Aswaja NU Center Jawa Timur KH Muhammad Idrus Ramli

selama ini sangat keras menyerang Syiah dan Wahabi. Ia bahkan sering

terang-terangan menuding Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj

berparadigma dan membela Syiah. Tapi anehnya gerakan-gerakan Kiai

Idrus Ramli malah dituding dibiayai Syiah.

"Ada yang melaporkan saya kepada Rais Syuriah PWNU kalau saya dibiayai

Syiah," kata Kiai Idrus Ramli kepada BANGSAONLINE.com.

"Kan aneh. Seharusnya orang yang membela Syiah yang dituduh dibiayai

Syiah," imbuhnya.

Menurut dia, orang yang melaporkan itu menyatakan, jika dirinya

menyerang Syiah, maka yang membiayai adalah Wahabi. Tapi kalau dirinya

menyerang Wahabi, maka yang membiayai adalah Syiah.

"Padahal saya tak pernah membela Syiah dan Wahabi," katanya. "Kalau

seandainya saya menyerang Wahabi dan membela Syiah karuan saya dibayar

Syiah. Atau saya menyerang Syiah dan membela Wahabi, wajar saya

dibiayai Wahabi. Tapi saya kan tak pernah membela Syiah dan Wahabi,"

jelasnya.





Sebelumnya ia pernah bercerita kalau pernah diundang kelompok Wahabi

sebagai pembicara. "Mereka tidak berani dialog sendiri dengan Syiah,

kita yang disuruh ngomong," katanya.

Ia diminta menjelaskan kesalahan-kesalahan Syiah dan ia pun

melakukanya. Syiah tidak hanya salah dalam berakidah, tetapi juga

beribadah. "Syiah itu salatnya tiga waktu dan salat Jum'at tidak

wajib. Jika salat tangan mereka begini (tegap dan tidak bersedekap),"

katanya.

Tapi ia tidak tahan juga menjelaskan kesalahan-kesalahan Wahabi. "Maka

kita jangan ragu mengatakah Wahabi itu bukan ahlussunnah wal jamaah,

kenapa? Karena meskipun mereka mengambil hadits Bukhari dan Muslim,

hadits yang dipilih hanya yang sesuai dengan kepentingannya. Mereka

hanya mengambil hadits 'Kullu bid'atin dholalah'. Hadits yang diambil

cuma satu, yang lain tidak. Saya katakan anda bukan ahli hadits, tapi

ahli hadats (ahli membid'ahkan, red)," katanya.

"Setelah dialog itu saya ditanya oleh seorang wartawan dari Wahabi.

Kenapa anda menyerang Wahabi juga? Bukannya musuh kita Syiah? Saya

menjawab, oh saya tidak menyerang. Saya hanya merespon. Mengapa saya

tidak menyerang? Karena merespon saja sudah cukup. Saya tegaskan

kepada wartawan itu, saya tidak menyerang Wahabi, karena serangan

belum dimulai," katanya.



Menurut dia, Syiah dan Wahabi itu sangat anti NU. Kelompok Syiah tidak

suka dengan para sahabat Nabi yang disimbolkan dengan kebencian mereka

kepada tiga sahabat utama Nabi yakni Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Sementara kelompok Wahabi tidak suka tradisi, tidak suka istighatsah,

tidak suka berdzikir seperti yang sudah dijalankan oleh umat Islam

Nusantara.



Dari sini lah para ulama mengembangkan syair khusus yang selain berisi

dzikir juga berisi puji-pujian kepada para sahabat Nabi, termasuk

Sayyidina Ali dan Fatimah binti Rasul.

"Astaghfirullah robbal baroya. Astaghfirullah minal khothoya. Robbi

zidni ilman nafi'a. Wawafiqni amalan sholiha. Ya Allahu ya Muhammad ya

Aba Bakar ya Shiddiq, ya Umar Usmanu Ali, Siti Fatimah binti Rosuli."



Syair ini sekaligus merupakan penegasan bahwa ulama Nusantara

berhadapan dengan Wahabi dan Syiah sekaligus.

"Saya berkeliling dari Sabang sampai Merauke, dzikir dan puji-pujian

seperti ini ada di masjid-masjid dan musholla," katanya. Ia mengajak

para jamaah berdzikir. Ia pun memulai dan semua pun larut dalam

dzikir.



Apa kunci sukses penyebaran Islam di Indonesia? Tidak lain karena para

penyebar Islam sangat menghargai tradisi Islam. Menurut Idrus Ramli,

tradisi yang baik menjadi salah satu sumber hukum Islam. Beberapa

ibadah umat Islam yang diajarkan Nabi juga merupakan peninggalan dari

agama Yahudi dan orang-orang zaman jahiliyah.



Demikilanlah juga yang dijalankan oleh para penyebar Islam di

Indonesia. Berbagai tradisi yang dijalankan oleh penduduk Nusantara

seperti upacara kehamilan, kelahiran, dan kematian diislamisasi

sedemikian rupa oleh para penyebar Islam di Indonesia.

"Tradisi yang sudah dijalankan itu diislamisasi. Dulu kalau ada orang

meninggal, para tetangga berkumpul di rumah duka. Mereka makan-makan,

ada yang sambil minum-minum dan bermain judi. Kemudian oleh para ulama

kita kumpul-kumpul ini diisi dengan berdzikir dan berdoa," katanya.



Jika tradisi yang berlaku itu tidak bisa diislamisasi, maka yang

dilakukan para ulama adalah meminimalkan mudaratnya. Ia mencontohkan

tradisi buang kepala kerbau atau sapi untuk menghindari bencana gunung

merapi. Menurut Ustadz Idrus, orang-orang dulu membuang gadis untuk

menolak bencana.

"Oleh ulama kita, upacara membuang gadis ini diganti dengan membuang

kepala kerbau. Lagi pula di negara-negara tetangga kepala kerbau tidak

dimakan, hanya di Indonesia saja semua dimakan, karena kita ini memang

kreatif," katanya.



Semua tradisi baik yang sudah diislamisasi itu juga mempunyai dasar

legitimasi dari Al-Qur'an dan Hadits atau dari para Sahabat Nabi.

"Jika ada yang tidak tahu dasarnya berarti ngaji dia belum sampai ke

situ," katanya.

(sumber BANGSAONLINE.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini