Kamis, 28 Desember 2017

Presiden Soekarno, Negara Nasional dan Cita-Cita Islam

Presiden Soekarno



( cuplikan ) Kuliah Umum Presiden Soekarno di Depan Civitas Academica Universitas Indonesia Pada Tanggal 7 Mei 1953

Saudara-saudara, maka jikalau kita diajak kembali kepada hal itu, saya kira Saudara-saudara mengerti, bahwa saya sampai kepada pokok uraian saya ini. Ditanyakan oleh Saudara Dahlan Ranuwihardjo bagaimana hubungannya Pancasila dengan Islam.

Saudara-saudara tahulah. Pancasila ini sudah satu kompromi yang laksana meminta kita punya darah dan air mata. Siapa yang membuka sejarah kita terutama sekali pada bulan Juli 1945, satu bulan sebelum proklamasi Indonesia berkumandang di angkasa. 

Siapa yang membuka riwayatnya kita punya musyawarat-musyawarat, kita punya perdebatan-perdebatan, kita punya pertikaian satu sama lain, bahkan kita punya pada waktu itu hampir menjadi kita punya kebencian satu sama lain, akan mengerti bahwa Pancasila sudah satu kompromi.

Pada waktu itu, di dalam sidang badan yang dinamakan Dokuritu Zyunbi Cosakai -- Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdeka­an Indonesia — pada waktu itu pemimpin-pemimpin Islam duduk dengan pemimpin-pemimpin Nasional dengan pemimpin-pemimpin Sosialis. 

Pada waktu itu mula-mula bicara tenang-tenang, pada waktu makin berkobar-kobar, pada waktu itu hampir-hampir pecah persatuan nasional kita. Pada waktu itu aku ada, Kiai Maskur ada, Ki Bagus Hadikusumo ada, pemimpin-pemimpin Islam lain-lain ada, Saudara Abdul Kahar Muzakir ada, 

Saudara Chairul Saleh ada, Muhammad Yamin ada, pemimpin-pemimpin seluruh Indonesia berkumpul mem-bicarakan akan dasar-dasar negara yang akan diproklamirkan.

Alangkah berbahayanya situasinya pada waktu itu. Tetapi Allah SWT Saudara-saudara memberi ilham, memberi taufik hidayah akan persatuan kita. Memberi, menjelma satu dasar yang bisa distujui oleh semuanya yaitu dasar Pancasila, yang sampai dalam tiga Undang-Undang Dasar RI tidak pernah terangkat. 

Undang-Undang Dasar RI Yogyakarta, Undang-Undang Dasar RIS, Undang-Undang Dasar Sementara RI sekarang ini, Pancasila tetap terpegang teguh, ialah oleh karena Pancasila adalah sudah satu kompromi yang dapat mempersatukan golongan-golongan ini.

Maka oleh karena itu Saudara-saudara, insaf dan sadarlah akan keadaan yang berbahaya di dalam bulan Juli 1945 itu. Jangan kita, Saudara-saudara, mengalami lagi keadaan yang demikian itu. Jangan pecah persatuan kita. Dan jikalau kukatakan "pecah persatuan kita", kalau aku berkata demikian, itu berarti pecah, gugur, meledak, musnah negara kita yang telah kita perjuangkan bersama ini dengan penderitaan, dengan segenap penderitaan dan pengorbanan yang hebat-hebat.  

Kembalilah kepada persatuan. Aku sama sekali — sebagai tadi kukatakan berulang-ulang — tidak pernah melarang sesuatu orang mempropagandakan ideologinya.
Tetapi ingat, persatuan mutlak, persatuan mutlak, persatuan mutlak. 

Accenten leggen kepada persatuan. Jangan diruncing-runcingkan. Aku ingat kepada kaum Kristen. Kaum Kristen bukan satu, bukan dua, bukan tiga, bukan seratus, bukan dua ratus, ribuan kaum Kristen mati gugur di dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan ini. Apakah yang menjadi harapan kaum Kristen itu, 

Saudara-saudara, yang kita pantas juga menghargai korban-korban mereka itu? Harapan mereka ialah bahwa mereka bisa bersama-sama dengan kita semuanya menjadi anggota kesatuan bangsa Indonesia yang merdeka. Jangan memakai istilah minoritas. Jangan. 

Kaum Kristen tidak mau dirinya disebut minoritas. Wij hebben gevochten niet om een minoriteit te worden. Kaum Kristen berkata: "Wij hebben onze zonen prijsgegeven niet om een minoriteit te worden."

Apakah yang engkau kehendaki?

Yang dikehendaki ialah sama-sama menjadi anggota warga negara satu negara merdeka: Republik Indonesia Kesatuan. Sama dengan aku, sama dengan alim ulama, sama dengan pemuda-pemudi, sama dengan pegawai, semuanya sonder perkecualian: warga negara Republik Indonesia, semua, sonder ada minoritas-minoritas atau mayoritas-mayoritas. Tidakkah Islam, Saudara-saudara, malahan sebenarnya di dalam hal accenten leggen kepada "musyawarah". 

Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan Saudara Dahlan Ranuwihardjo: "bagaimana duduknya dengan demokrasi?" Kembali aku minta tolong kepada alim ulama. Aku belum pernah menjumpai perkataan demokrasi di dalam istilah Islam. Aku sekadar menjumpai "musyawarah". 

Apalagi aku tidak pernah menjumpai istilah stem-stem di dalam istilah Islam. Memang yang dianjurkan oleh Islam adalah musyawarah, berunding. Tidak dianjurkan stem-steman, sehingga satu pihak berkata: ya, aku lebih besar jumlah, aku yang mesti menang, tidak!

"Demokrasi" memang sebenarnya - demokrasi yang kita maksud bukanlah graadmeter sesuatu waarheid. Demokrasi kita bukan sekadar de helft plus een heeft altijd gelijk. Demokrasi bagi kita ialah musyawarah. 

Kita mengadakan demokrasi untuk menunjuk-kan dengan terang ke dunia luar untuk menginsafkan diri kita dengan terang ke dalam, bahwa kita tidak menghendaki otokrasi. Bahwa kita tidak menghendaki teokrasi, tidak menghendaki sesuatu golongan menghikmati, menguasai golongan lain. 

Di dalam isitilah Itulah kita memakai perkataan demokrasi. Bukan de helft plus een heeft altijd gelijk, bukan de helft plus een is altijd menang. Tidak, tidak!

Islam memerintahkan musyawarah. Musyawarah, Saudara-saudara, di dalam alam kebijaksanaan. Demokrasi bukan duel. Demokrasi adalah sekadar satu alat, alat kebijaksanaan. Cara untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang bijaksana di dalam urusan kemasyarakatan dan kenegaraan. 

Satu cara dan cara yang kita kehendaki semuanya. "Demokrasi" kita ialah sebagai sering kukatakan: satu demokrasi met leiderschap. Satu demokrasi dengan kebijaksanaan, bukan sekadar stem-steman. Kalau sekadar stem-steman, buat apa diadakan musyawarah, buat apa diadakan debat-debatan. Lebih baik kumpulkan. Kumpulkan! Sudah.

Sekarang isunya misalnya, isunya Islam ai. u tidak? Stem! Itu: de helft plus een heeft altijd gelijk. Sekarang isunya komunisme, stem sonder bicara lagi, terus stem saja. 

Tetapi Saudara-saudara, itu bukan yang dikehendaki oleh kita dan itu bukan pula yang dikehendaki oleh Islam. Islam menghendaki musyawarah-musyawarah di dalam alam persaudaraan, musyawarah agar mencapai apa yang kita kehendaki bersama dengan cara yang sebijaksana-bijaksananya dan dapat memuaskan segala pihak.

Inilah Saudara-saudara apa yang saya maksud di sini borong-borong. Demokrasi bukan berarti mayorikrasi oleh karena kita diwajibkan bermusyawarah bukan sekadar stem-steman, mana suara yang terbanyak adalah benar.

Inilah jawabanku kepada Saudara Dahlan Ranuwihardjo mengenai kedudukan demokrasi tadi.

Tentang kedudukan Pancasila dan Islam, aku tidak bisa mengatakan lebih daripada lain dengan mensitir ucapan Saudara Pemimpin Besar Masyumi Muhammad Natsir. 

Di Pakistan, di Karachi, tatkala beliau mengadakan ceramah di hadapan Pakistan Institute for International Relation beliau mengatakan bahwa Pancasila dan Islam tidak bertentangan satu sama lain. Bahkan sama satu sama lain.

Ditulis di dalam "Islamic Review" Maret 1953, coba dengarkan. Saudara Natsir menjawab pertanyaan Saudara Ranuwihardjo: Pakistan is modern country. So is may country Indonesia. But though we recognize Islam to be faith of Indonesian people. 

We have not made an expressed mention of it in our constitution. Nor have we excluded religion from our national life. Indonesia has expressed its creed in the Pancasila, or the five principles, which have been adopted as the spiritual, moral and ethical foundation of our nation and our state. Your part and our is the same. Only it is differently stated.

Saudara-saudara, voila monsieur Mohammad Natsir, Apa Saudara-saudara sekarang sudah paham lidhing dongeng. Ikhtiar ceramah saya ini tidak lain tidak bukan ialah agar supaya jangan kita salah paham satu sama lain. 

Dengan dihilangkannya salah paham itu kita bisa mengadakan understanding satu kepada yang lain yang lebih baik agar supaya bisalah tersusun kembali kita punya persatuan nasional yang seerat-eratnya untuk menyelesaikan revolusi nasional kita ini. 

Yaitu mendirikan satu negara nasional yang meliputi segenap wilayah natie Indonesia seluruhnya dari Sabang sampai Merauke.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini