Minggu, 08 Oktober 2017

Kesehatan Mental

Ilustrasi Kesehatan Mental
Oleh H. Harmoko

HARI Kesehatan Jiwa Internasional, 10 Oktober 2017, menyoroti kesehatan jiwa para karyawan di tempat kerja. Ini menarik, mengingat kesehatan karyawan yang jadi sorotan selama ini hanya kesehatan fisik, sedangkan kesehatan mental jarang diperhatikan.

Stres di tempat kerja merupakan bagian dari gangguan kesehatan jiwa yang bisa menjadi gangguan mental. Hal ini kerap tak bisa dihindari, disebabkan oleh berbagai hal. Dalam praktiknya, kondisi ini sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan di tempatnya bekerja.

Bagaimana agar gangguan mental para karyawan bisa tertangani dengan baik? Pesan inilah, agaknya, yang hendak disampaikan oleh organisasi kesehatan sedunia, WHO, ketika memutuskan bahwa Hari Kesehatan Jiwa Internasional 2017 ini fokus menyoroti gangguan mental para karyawan.

Dengan memberi perhatian khusus terhadap hal ini, para karyawan diharapkan memiliki mental yang kuat. Bagi Indonesia, hal ini juga relevan di tengah situasi yang tak menentu dalam banyak hal akhir-akhir ini. Apalagi, sesuai dengan data yang pernah dirilis oleh Direkturat Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes, masyarakat Indonesia di kota-kota besar seperti Jakarta, misalnya, rentan terkena sakit jiwa. 

Hal itu terjadi karena tekanan mental, psikologis, dan emosional pada masyarakat cukup besar, mulai dari tekanan ekonomi, daya saing, dan sebagainya. Dalam situasi seperti itu, perhatian pemerintah maupun para pelaku usaha terhadap kesehatan jiwa para karyawan sangatlah kurang. 

Tengok, misalnya, yang terjadi di Jakarta, perbandingan jumlah masyarakat atau pasien dengan sarana dan prasarana masih jauh dari harapan. Pemprov DKI baru bisa menyediakan dua RSJ. Lainnya berupa klinik dan panti-panti kesehatan milik swasta.

Secara nasional, tenaga kesehatan jiwa baru tercatat sekitar 170 psikater konsultan, dengan sebaran tidak merata karena tidak semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa. Dari 34 provinsi, baru 26 provinsi yang memiliki RSJ.

Mengingat hal itu, ada baiknya kita ikuti saran WHO lewat kampanye kesehatan jiwa yang dicanangkan tahun ini: "Mari Kita Bicara". Kampanye ini dimaksudkan agar kita, utamanya para karyawan, mau lebih banyak berbicara daripada memendam masalah yang dihadapi. Itu di satu sisi. Di sisi lain, pelaku usaha juga mau lebih peduli terhadap para karyawan yang sedang mengalami depresi.

Dengan begitu, gangguan kesehatan jiwa yang lebih parah bisa dihindari. Karyawan sehat jiwa, perusahaan pun sehat usaha. Amin. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini