Jumat, 14 Juli 2017

Wasiat KH Maimoen Zubair : Jadilah Orang yang Nasionalis, Berpikiran Luas, dan Tetap NU

KH Maimoen Zubair
Forum Muslim - Rombongan ziarah Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin (IMAN) STAN akhirnya tiba di Kecamatan Sarang pada Sabtu (20/5) pukul 14.00 WIB. Destinasi pertama adalah Pondok Pesantren Al-Anwar, asuhan dari salah satu kiai sepuh Mustasyar PBNU yaitu KH Maimoen Zubair. Setibanya di lokasi, rombongan langsung dipersilakan untuk bersalaman dan duduk memenuhi ruang tamu. Siang itu, tamunya dipenuhi oleh para pemuda yang mengenakan jaket IMAN-STAN. 

Mengawali sowan kali ini, Abdulloh Rifqi Jauhari selaku pemimpin rombongan menyampaikan maksud kedatangan mereka. Selanjutnya, Mbah Moen menyampaikan beberapa nasehat. 

Ia memulai dengan bercerita tentang arti kata maha dalam kata Mahasiswa. Barangkali menyesuaikan juga dengan audiens siang itu. Kata maha artinya yang paling, sedangkan kata siswa berasal dari bahasa Jawa yang artinya menuntut atau mencari, maka menjadi mahasiswa semestinya menjadi yang paling (bersemangat) dalam menuntut atau mencari (ilmu). 

Selanjutnya ia menyampaikan bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun disebabkan karena Indonesia pada saat itu masih terpecah belah. Di pulau Jawa sendiri, ada enam negara yang pada saat itu berdiri. Diantaranya Banten, Cirebon, Demak, Solo, Jogja, dan Banyuwangi. Keenam negara tersebut memiliki kekuatan masing-masing yang bersifat regional, bukan nasional. Kemudian muncullah ulama nasionalis seperti Mbah Hasyim Asy’ari. Beliau yang kemudian turut mengawal para proklamator bangsa untuk merebut kemerdekaan Indonesia. 

Kendati pada saat itu memiliki pesantren yang besar, Mbah Hasyim bersifat terbuka terhadap ilmu-ilmu nonagama. Beliau meminta putranya Wahid Hasyim untuk mempelajari bahasa asing yang pada saat itu digunakan oleh para penjajah.  

"Jadilah orang yang nasionalis, berpikiran luas dan tetap NU," dawuh-nya kepada para hadirin. Kemudian ia melanjutkan penjelasan mengenai pentingnya nasionalisme. Ulama-ulama Timur Tengah merasa heran terhadap negeri kita. Sebab Indonesia adalah satu-satunya negeri Muslim yang damai dan tidak rusuh. Umumnya, negeri yang mayoritas Muslim selalu berakhir dengan konflik. Bukan antara Muslim dan non-Muslim, melainkan justru antara sesama Muslim. 

“Hal ini yang harus dapat kita antisipasi, jangan sampai negeri kita bernasib sama dengan mereka. Maka itu, memiliki jiwa nasionalis menjadi sangat penting dalam upaya kita menjaga Islam di bumi Nusantara.”
 
Nahdlatul Ulama adalah ormas yang setia mencintai Indonesia secara tulus. Sebagaimana dicontohkan oleh Mbah Hasyim Asy'ari. 

"Janganlah kalian menjadi orang yang fanatik! Untuk urusan dunia (pilkada-red) berpikirlah yang luas dan terbuka. Satu-satunya manusia yang boleh kita fanatik hanyalah Kanjeng Nabi Muhammad Bahkan kiai dan ulama pun, bisa saja keliru. Makanya, jangan terlalu fanatik terhadap sesuatu," tuturnya mengakhiri pembicaraan. Kemudian ditutup dengan doa yg diamini oleh semua tamu yang hadir (NU)