Selasa, 11 Juli 2017

Berjuang Itu Sering Sendirian Kawan, Tapi Menangis dan Terluka Kita Akan Bersama-Sama

Hermansyah - File repelita.com


Kawanku, kau berangkat tak kenal waktu, berjalan tak lihat jam berapa, melangkah tak ukur sudah berapa jauh.. Seolah tidak ada dimensi ruang dan waktu lagi bagimu, tiang2 lampu jalanan dan kabut malam kelam adalah teman setiamu, kau pulang pergi sendirian kawan, kau seekor kalong yang kuat, pintar dan tangguh walau kau kadang ceroboh, tapi aku kagum...
Sampai tengah malam kau masih berjuang, ketemu habaib, ketemu ulama, ketemu tokoh2 perjuangan yang kau selalu sokong langkahnya... Ide2mu selalu ditunggu.. ide2 yang tak semua orang bisa duga. Iseng kadang terlihat hapemu masih online jam 4 pagi, kau kutanya, udahlah bro lu gak perlu istirahat apa?? Kau santai saja ketawa, "tanggung nih!" katamu,, Aku dalam merinding kadang mikir, gila ini daya tahan kawanku satu... Ya sudahh... lagi candu dia mungkin, candu dengan wanginya keringat perjuangan, candu dengan pemikiran2 bagaimana menumbangkan keburukan2 di dunia ini yang kenapa saja tak pernah tuntas... Dunia ini memang gila dan makin jahat, memang butuh perlawanan lebih berat agar semua bisa selamat... mereka meminta itu atau pun tidak
Kawan, kalau kulihat kegetolanmu ini soal ujung2 buat bisnis dan cari uang kau sudah sangat cukup kawan,, apa lagi yang kau cari?? Kau jawab, "Gua juga tak tahu persis apa, yang jelas gua selalu ditunggu banyak orang, bantu2, gua senang bantu2 dengan apa yang gua mampu dan gua ikhlas,, itu aja udah cukuplah." Aku jawab dalam hati, boleh juga itu, tak ada pura2 di sana, lalu kubilang "hati2, perjuangan sejati itu jarang yang tanpa pengorbanan... Tapi kalau kau siap ya sudahh,, jalankan saja...jangan ragu2, jangan tanggung2... Naiklah lebih tinggi lagi, bangunkan dan buka mata lebih banyak orang..."
Sampai di hari ini, hujan2 minggu pagi ini ada kabar itu kawan, kau tergeletak, berdarah, beberapa luka menganga,.. darahmu banyak sekali mengalir, memercik ke mana2... Kau hampir dihabisi... Sontak semua geram dan marah, mukaku merah naik darah... Berjuta mata segera melihat potret kejadian ini bak filem dokumenter pengkhianatan ke bangsa ini beberapa puluh tahun silam.. Jutaan Kecaman dan Doa mengalir amat deras... Ini amat keji dan kotor, tak ada dari kamus kemanusiaan versi apa pun, dari motif dan tujuan apa pun yang bisa memaklumi kejadian ini... Kau dicabik cabik gerombolan hewan tengik tanpa secuilpun rasa kasihan.. Mereka lari, mereka memang pengecut, gerombolan anjing kurap yg tak peduli itu semua dilakukan di depan keluargamu kawan... Seolah mereka tak punya anak istri, ibu atau bapak, manusia2 yang juga punya darah, daging dan tulang yang juga bisa remuk jika Tuhan mau....
Sekarang Mereka sembunyi dengan darahmu yang masih menempel di tangannya.. Darah yang tak akan bisa dibersihkan walau ribuan kali dicuci, darah yang akan jadi saksi, menempel selalu sebagai cap mereka sebagai hewan biadab sampai semua penghuni langit tahu... Ya, Mereka bisa lari, bisa sembunyi, tapi tak akan bisa berlindung dari palu godam Tuhan setelah saatnya nanti mati... Terhinakan sampai kapanpun!.
Kawan, kau berjuang sering sendiri, kau yang selalu ditunggu banyak orang, yang ditunggu segala kemampuanmu menjernihkan hal yang sengaja dibuat keruh, membuka kunci banyak persoalan dan pertanyaan2... Meretas jalan2 rahasia, tipudaya dan siasat licik para iblis... Kau ibarat menuntun membuka kotak pandora ke labirin para setan.. Ini perlu urat nyali seperti kawat baja.. perlu stamina bagai batu cadas di sungai deras..
Kawanku, yang tegeletak sendiri, kau cepatlah sembuh, cepatlah berhenti darahmu yang keluar....Biarkan embun malam membasuh luka lebammu.. Biarkan azan subuh menjadi penguatmu...
Kawan...Kau kemarin2 berjuang bisa saja sendirian, tapi kalau sudah berdarah2 begini, besok kau tak akan lagi kesepian... Jutaan langkah akan ditambahkan mengawalmu... Tuhan suka orang2 baik dan ikhlas.. yang bekerja sungguh2 untuk kebenaran...
(dari Seorang Kawanmu Alumni ITB di Serpong)
Minggu 9 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini