Selasa, 27 Juni 2017

Terkait Pertemuan GNPF MUI Dengan Presiden Jokowi Di Istana, Siapa Yang Masuk Angin?

Forum Muslim - BUKAN GNPF MUI yang masuk angin, Namun "naga" istana yang masuk angin.
Banyak yang Keliyengan lihat pertemuan GNPF MUI dan Jokowi. Pendukung HRS sampai salah persepsi bilang masuk angin, sedangkan Pendukung Ahok lihat pertemuan Jokowi dan UBN cs ada yang meradang. Kecewa pada Jokowi kenapa menerima GMPF MUI di istana, bagi mereka istana adalah tempat yang mulia. Jangan sampai istana di jadikan tempat pertemuan kelompok yang intoleran. Begitulah kata mereka, menempatkan GNPF MUI sebagai kelompok intoleran yang mengancam negara.
Saya pikir, kalau teroris saja di terima masuk istana masak ulama tidak di terima? Pembakar masjid saja dapat semeja dengan Jokowi, masak tokoh agama gak boleh menginjak istana?
GNPF MUI itu dibentuk karena persatuan umat untuk menghadapi kasus Ahok. Umat tau bahwa yang dilawan adalah Ahok yang selama ini selalu licin bak belut di kasih Bimoli. Berbagai kasus korupsi aja bisa lolos, padahal bukti dan saksi udah jelas. Makanya lahirlah sebuah kepedulian dari umat yang di Komandoi oleh GNPF MUI. Setelah Ahok dipenjara, maka selesai juga lah tugas GNPF MUI secara umum. Hanya saja setelah Ahok di nyatakan bersalah ada politik balas dendam dr penguasa terhadap ulama-ulama penggerak aksi bela Islam. Setelah melalui proses dan saling curiga, maka lahirlah kata "REKONSILIASI dan ABOLISI".
kubu sebelah bersorak dengan isu rekonsiliasi, mereka berpendapat bahwa kita menyerah dan akhirnya meminta maaf pada pemerintah . Maaf dengan nama rekonsiliasi. Padahal rekonsiliasi adalah cara yang di minta pemerintah namun tidak ingin terlihat menyerah. Bukan umat yang meminta perdamaian, namun pemerintahlah yang meminta damai.
Saya pernah menuliskan tempo hari bagaimana DAMAI itu pemerintahlah yang meminta.
Sebelum pertemuan di istana, sebenarnya antara penguasa dan GNPF MUI serta perwakilan dari HRS sudah melakukan pertemuan beberapa kali. Intens melakukan konsolidasi mengarah pada rekonsiliasi. Pertemuan di istana hanyalah kepingan puzzle dr berbagai pertemuan yang tidak terekspose media. Sebelumnya ada Wiranto, JK, ada Menkopolhukam dan juga institusi polri telah melakukan pertemuan yang disebut dengan nama REKONSILIASI. Nanti akhirnya akan mengarah pada OBILISI atas kasus2 yang dituduhkan pada ulama GNPF MUI.
Pilpres 2019 semakin dekat, suara umat Islam adalah modal utama kemenangan bagi calon. Jokowi mengandalkan kedekatannya dengan Aqil Siradj tidak menjamin bahwa Jokowi akan dapat suara warga NU. Nama Jokowi semakin tenggelam di mata umat islam yang relevan berpikir. Semakin keras rezim ini ingin penjarakan para ulama maka semakin jelas keburukan rezim ini di mata umat Islam.
Perdamaian harus dilakukan, namun perdamaian ini bukan jalan yang mudah. Di istana saat ini ada #naga_naga haluan kiri yang tidak senang apabila Jokowi terlalu dekat dengan ulama. Bagi naga2 itu, ulama yang benar adalah ulama-nya NU. Selain itu ..mereka bukanlah ulama. Sudah beberapa kali GNPF MUI meminta bertemu dengan Jokowi, namun selalu di tolak dan di abaikan istana karena dominannya mereka disana.
Sudah berapa kali Jokowi adakan pertemuan Dengan kalangan ulama, namun tidak ada nama ulama yang tergabung dalam aksi bela Islam disana. Meminta bertemu sudah..berharap di undang juga sudah, tapi gak ada yang nyangkut. Ulama GNPF MUI dianggap sebagai ulama perlawanan. Setelah ada pertemuan pihak penguasa dan pihak HRS diluar istana, maka muncullah opsi damai untum meredakan semua rusuh ini. Ada YIM disana yang mengambil jalan dan menentukan arah perdamaian yang WIN-WIN SOLUTION. Arah damai yang tidak mempermalukan penguasa dan institusi yang ngotot mempersalahkan ulama, jalan itu adalah OBILISI sesuai permintaan YIM tempo hari. Menghentikan proses hukum pada ulama saat ini . Pemerintah tidak ingin kehilangan muka saat perdamaian dilakukan.
Diterimanya GNPF MUI oleh istana adalah salah satu agenda perdamaian yang telah di bahas sebelumnya. Dari pada membahas dan bertanya :
"Ada apa GNPF MUI kunjungi istana? Apakah GNPF masuk angin? Atau GNPF menyerah atas serangan penguasa?"
Cobalah berpikir dan bertanya:
"Kok bisa di terima GNPF MUI ke istana?padahal selama ini mereka selalu di tolak?"
Ketika pertanyaan diatasnya kita pikirkan , maka akan ada kesimpulan bahwa pertemuan itu adalah hal biasa karena situasinya lebaran dan OPEN HOUSE dilakukan oleh istana. Silaturahmi warga dan kepala negara,..Wajar toh? Dan itulah SKENARIO yang dijalankan.
 "ISTANA LAH YANG MENGUNDANG GNPF MUI."
Mengambil momentum lebaran untuk adakan pertemuan diluar kebiasaan adalah cara jitu kelabui para "naga istana". Saat para naga libur karena umat Islam bergembira, saat itulah terjadi pertemuan di istana. Para naga yang berselimut teman Jokowi namun mereka inilah pembisik sampah ke pemerintah membahas Islam dengan segala tuduhan-tuduhan radikal. Naga ini sangat berkuasa di istana, jabatannya adalah biasa..namun dia diberikan kebebasan dalam istana. Tanpa saya sebut nama, sudah paham lah siapa naga istana yang namanya tidak pernah muncul dalam pembahasan konflik pemerintah dan umat islam, namun mereka bergerak melalui telunjuk penuh KUASA, mereka sangat dominan dan sangat buas.
Dan jangan kaget apabila si naga ini sempat pingsan setelah mengetahui bahwa HRS bisa memperpanjang visa di Saudi. Tidak menyangka demikian, membuat si naga berang dan tensi naik. Memanggil pihak2 yang dekat HRS dan bertanya kenapa hal itu bisa terjadi. Kepalanya pening dan sempoyongan saat teman HRS berkata "kami tidak tau hal itu".
Tugas GNPF sudah selesai ketika Ahok di tahan dan di pidana oleh pengadilan. Setelah semuanya selesai, maka kita harus kembali ke jalan dan bergenggaman tangan. Namun ternyata pihak2 naga istana masih kurang puas kalau terpenjaranya Ahok tidak membawa hal serupa pada pentolan GNPF, berbagai tuduhan hinggap pada mereka. Hal ini dilakukan karena naga istana itu takut apabila mereka yang tergabung dalam ulama aksi bela Islam akan kembali usik pemerintah dengan alasan tidak peduli pada umat. Karena di duga akan banyak kebijakan pemerintah yang akan bertentangan dengan umat nantinya.
Segala permasalahan ini, bukan umat yang meminta. Namun penguasa melalui naga2nya lah yang memulainya.
Jokowi butuh dukungan umat Islam keseluruhan. Bukan butuh pemimpin ormas Islam yang selalu datang ke istana. Walau kepala dekat pada Jokowi, belum bisa dipastikan badan dan ekor akan ikut merapat pada Jokowi. Kasus Ahok menjadi contoh Jokowi melihat dukungan umat Islam. Walaupun Ahok didukung partai Islam PKB dan PPP, serta ketua NU dan jajarannya juga dukung Ahok. Ternyata hal itu tidak membuat Ahok memenangi pilkada DKI. Kekalahan Ahok membuat mata Jokowi terbuka dan menyadarinya bahwa melawan umat Islam dengan propaganda radikal dan ekstrimis ternyata justru menjauhkan Jokowi dengan pemilih dr umat Islam. Hal ini gak bagus mengingat pilpres 2019 semakin dekat.
Diterimanya GNPF MUI merupakan skenario yang memang sudah direncanakan oleh istana. Mengambil moment lebaran membuat pertemuan itu adalah hal biasa. Tidak ada muatan politis maupun tekanan yang terlihat. Yang ada hanyalah silaturahim antara warga dan kepala negaranya. Hal biasa bukan?
Dari pertemuan itu, GNPF MUI sudah merilis hasil pertemuan dan pembahasan di istana . Masalah hukum dan juga masalah lainnya yang mengikat pada umat Islam, terutama pada HRS dan Al khatat.
Ada pemberitaan di media detik mengatakan bahwa GNPF MUI memuji langkah ekonomi Jokowi, itu hanya permainan media darling penguasa. Ketika saya bertamu ke pak RT dan protes atas kerja pak RT saya disuguhkan minuman sirup Marjan yang enak. Setelah saya sampaikan keluhan saya dan permasalahan saya, saya meminum sirup Marjan itu dan berkata:
"Minuman ini enak juga pak RT.."
Lalu media pak RT memberitakan bahwa saya mengatakan Marjan di rumah pak RT sangat enak. Media Tidak memberitakan protes dan keluhan saya, hanya beritakan sirup Marjan yang hanya kamuflase dalam acara tersebut. Penting mana Marjan dan keluhan yang kita sampaikan?
Bagi pendukung pak RT sirup Marjan itu lebih layak dibahas, tapi bagi Jokowi dan GNPF MUI sirup Marjan itu hanyalah cemilan setelah selesai menyantap hidangan utama. Jadi kalau kita ikutan membahas cemilan dan meragukan integritas GNPF, maka kelas kita sama dengan pendukung bodoh Jokowi.
GNPF MUI menemui Jokowi ada tujuan dengan kapasitas mereka seorang ulama. Keberpihakan ekonomi Jokowi tidak pada rakyat, maka fungsi ulama adalah mengingatkan. Pemberitaan detik hanyalah kebohongan demi sebuah citra. Tidak ada penjelasan dr GNPF bahwa mereka mengagumi kebijakan ekonomi Jokowi.
Mereka hanya ingin terlihat GNPF merapat pada istana dan jinak pada istana dengan headline pemberitaan seperti itu. Agar kita terpesona pada Jokowi seperti Denny Siregar yang berkata bahwa GNPF akan jadi koalisi Jokowi...koplak kan..?
Setahap di setahap..sudah ada perkembangan bagus. Bukan kita yang gusar saat ini, merekalah yang patut risau karena memanasnya hubungan Jokowi dan umat Islam..itu bukan kerugian umat Islam. Ingat, jabatan presiden itu ada jangka waktunya. Tanpa umat Islam, Jokowi bukanlah siapa-siapa. Kalau hanya andalkan pimpinan NU...maka contohlah Ahok yang jumawa karena dapat dukungan mereka, ternyata tidak memenangkan pilkada.
Bersiap GNPF MUI untuk pertemuan selanjutnya..
Ada point2 yang di minta oleh GNPF MUI dan pengacara HRS. Itulah syarat rekonsiliasi yang di inginkan bersama. Dan ada syarat yang diminta oleh penguasa. Selagi syarat ini tidak memberangus kebebasan umat, pasti akan di setujui.
Buat naga yang sedang risau..harus sering2 periksa tensi, AWAS...PINGSAN LAGI..!! (Sumber : Setiawan Budi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini