Senin, 01 Mei 2017

Pelajaran Politik Berharga Dari Pilkada DKI Jakarta

Pilkada Jakarta

Kemarin, hari Minggu, 30 April 2017, KPUD DKI menggelar rapat pleno untuk mengesahkan hasil penghitungan suara Pilgub DKI putaran kedua.
Paslon 2 (Ahok-Djarot) mendapatkan 42,04% suara, sedangkan paslon 3 (Anies-Sandi) memperoleh 57,96% suara. Selisih yang sangat signifikan, 15,92% suara, nyaris 16%.
Untuk pasangan Ahok-Djarot, angka ini bukan hanya berarti kekalahan terhadap lawan, melain juga kekalahan terhadap "rekor"nya sendiri pada putaran pertama.
Pilgub putaran pertama komposisi suara :

AHY-Silvy = 17,02%;
Ahok-Djarot = 42,99%;
Anies-Sandi = 39,95%.

Kita tahu, bahkan seorang atlet pun berusaha mengalahkan rekornya sendiri. Seorang sprinter atau perenang, akan berusaha mempersingkat waktunya mencapai finish, meski hanya sekian detik dan meski ternyata bukan medali emas yang diraih, karena ada atlet lain yang memecahkan rekornya.
Nah, semestinya jika pilgub dilaksanakan dalam 2 putaran, setiap paslon akan berusaha meningkatkan perolehan suaranya, meski akhirnya kalah.
Tapi yang terjadi pada paslon Ahok-Djarot ini benar-benar anomali.
Jumlah pemilih dalam DPT meningkat signifikan, karena dimasukkannya pemilih yang pada putaran pertama menjadi pemilih tambahan. Peningkatan DPT ini signifikan terjadi pada wilayah-wilayah kemenangan Ahok-Djarot, yaitu Jakarta Barat dan Utara. Namun ironisnya, prosentase perolehan suara Ahok-Djarot justru turun. Meski secara jumlah suara memang naik sedikit, karena jumlah DPT memang naik.
Jika pada putaran pertama Ahok-Djarot menang di hampir semua wilayah kota Jakarta dan di Kepulauan Seribu, pada putaran kedua paslon Anies-Sandi menyapu bersih 5 wilayah kota Jakarta dan Kepulauan Seribu. Termasuk di kantong kemenangan Ahok, Jakarta Barat, dimenangkan Anies-Sandi dengan prosentase 52,82% VS 47,18%.
Kepulauan Seribu lebih telak lagi, Anies-Sandi menang mutlak dengan capaian 62% VS 38%.
Kenapa bisa begitu drastis dan ironis hanya dalam tempo 2 bulan keadaan bisa berbalik total?!
Banyak pengamat politik yang menyebut pembagian sembako secara masif dan "brutal" di 2 hari terakhir masa kampanye dan 2 hari masa tenang adalah penyebab utamanya.
Penyebab lain adalah blunder video clip kampanye yang diunggah Ahok di akun twitternya, yang kemudian mengundang reaksi negatif bahkan menyulut amarah publik.
Saya pribadi, mencatat ada 7 point yang bisa dicatat, sekaligus bisa dijadikan pelajaran berharga bagi siapapun yang akan maju dalam ajang pilkada atau pileg, agar mewaspadai 7 hal berikut :
1. Bumerang politik uang;
2. Hati-hati bermain SARA;
3. Be yourself;
4. Uncontrollable buzzer;
5. Jangan bohongi diri sendiri dengan survey;
6. Jangan hantam musuh membabi buta;
7. Jangan pede overdosis.
*** *** ***
1. Bumerang Politik Uang
Money politics - dalam berbagai bentuk dan caranya - adalah cara kotor kampanye yang paling primitif, umumnya dilakukan apabila kandidat sudah putus asa dan tak punya strategi jitu untuk memenangkan pertarungan dan sudah tidak yakin memiliki comparative advantage yang memberinya peluang besar untuk menang.
Saya tak tahu kenapa kubu Ahok-Djarot menggunakan strategi ini secara masif dengan berbagai metamorfosa bentuknya. Padahal setahu saya ada banyak konsultan politik handal dikubunya.
Yang paling masif di bagian akhir jelang pencoblosan adalah bentuk paling kuno : pembagian paket sembako plus baju kotak-kotak. Meski disanggah oleh timses resmi, tapi tak bisa dipungkiri bahwa pelakunya adalah pendukung Ahok-Djarot, termasuk rumah dinas anggota DPR yang dipakai menimbun sembako.
Sebelumnya ada pembagian kursi roda dan pembagian dana tunai bagi lansia yang dilakukan secara transfer melalui Bank DKI.
Para lansia yang ditemui dan diwawancara sebuah stasiun tv mengaku bahwa mereka disuruh "orang PDIP" agar membuka rekening di Bank DKI, nanti akan dapat transfer uang.
Kalau ini program Pemprov DKI, kenapa dilakukan saat petahana cuti?!
Masih di masa kampanye putaran kedua, Djarot mengintensifkan "bedah rumah". Kalau memang ada kepedulian, kenapa dilakukannya hanya di masa kampanye putaran kedua?! Bukan ketika mereka masih aktif menjabat?!
Mengira suara rakyat bisa dibeli inilah yang menurut para pengamat politik justru menimbulkan KETERSINGGUNGAN masyarakat. Para swinging voters, undecided voters, kaum terdidik kelas menengah, marah melihat fenomena guyuran sembako secara brutal ini.
Bagaimana dengan rakyat kecil?
Ternyata mereka kini CERDIK!! Sembakonya diterima, baju kotak-kotaknya dipakai, tapi saat hari pencoblosan, paslon berbaju kotak-kotak tidak dipilih, hahahaaa... Ini NGERJAIN namanya.
Jadi, siapapun anda yang masih berpikir bahwa ini taktik politik yang masih ampuh, berpikirlah ulang!!
Sekarang wong CILIK sudah pintar mengakali wong LICIK.
2. Hati-Hati Bermain SARA
Ketika George W. Bush akan maju untuk kedua kalinya dalam pilpres 2004, dia menggunakan issu penyerangan Twin Tower WTC yang dikenal dengan tragedi 911 sebagai issu bahwa "perang melawan terorisme belum selesai".
Tragedi yang baru 3 tahun berlalu memang masih hangat melekat di benak warga Amerika. Tapi pelakunya distigmakan pada Osama bin Laden, pemimpin kelompok Al Qaeda, which is orang diluar Amerika.
Tapi ketika Ahok mengusung thema kerusuhan rasial, yang menurut timsesnya itu adalah dokumentasi Mei 1998, yang mana digambarkan para perusuh memakai atribut santri, Muslim, berkopiah, memakai baju koko dan membawa tulisan "GANYANG CINA", Ahok telah melakukan kesalahan tak termaafkan.
Kenapa?!
Karena Mei 1998 sejatinya bukan kerusuhan antar etnis.
Meski banyak toko dijarah, tak seperti itu penggambarannya. Sebab banyak saksi mata yang sampai sekarang masih hidup, ingat betul peristiwa hampir 19 tahun lalu itu perusuhnya justru berpenampilan mirip preman yang sepertinya didatangkan dari luar Jakarta.
Jadi, dengan merilis video clip kampanye konyol itu, Ahok makin memperjelas siapa sesungguhnya yang mengusung ISSU SARA dan ingin terus menghidupkan kenangan perih bagi warga Jakarta, dengan menstigmakan pelakunya adalah MUSLIM. Padahal seharusnya Ahok mengambil hati pemilih Muslim.
Terbukti, kemudian video itu diedit habis-habisan barulah kemudian tayang di tv. Kalau tak ada yang salah, kenapa harus dibuang adegan yang kontroversial itu, bukan?!
3. Be Your-Self!
Menghadapi putaran kedua, banyak hal konyol yang dilakukan para pendukung Ahok yang membabi buta hingga kehilangan rasionalitasnya.
Ahok adalah seorang yang TIDAK BERAGAMA ISLAM, every one knows fakta ini. Ahok juga mengakui dirinya non Muslim.

Lalu kenapa pendukungnya ngotot mau memberikan kesan Ahok seakan-akan seorang Muslim?
Bermula digelari SANTRI KEHORMATAN, lalu menyusul SUNAN KALIJODO. Wah ini benar-benar kekonyolan yang melecehkan otak manusia dan akal sehat.
Saya tak perlu jelaskan apa definisi santri, semua sudah paham.
Lalu Sunan, gelar kehormatan ini hanya disematkan pada 9 WALI ALLAH, penyebar agama Islam di tanah Jawa.

Nah, Ahok, yang sedang berkonflik dengan ummat Islam terkait dengan offsetnya dia soal Al Maidah ayat 51, kenapa pula harus digelari Sunan?!
Hanya karena menutup lokalisasi Kalijodo?! Hadeeeh..., Ibu Risma di Surabaya sudah lebih dulu menutup kompleks lokalisasi yang konon terbesar se-Asia Tenggara, kawasan Dolly, di tahun 2014.
Jadi yang dilakukan Ahok sudah basi, bukan hal baru dan tidak istimewa .
Justru memaksakan Ahok bergelar Sunan ini makin membuat Ahok jadi antagonis.
Apalagi Ahok dan para Ahoker yang selalu anti segala hal berbau Arab, kemudian menerima saja ketika nama Basuki Tjahaja Purnama diterjemahkan menjadi Basuki Nurul Qomar. Makin inkonsisten bukan?
So, siapapun calon yang mau maju pilkada, pileg, pilpres, TETAPLAH MENJADI DIRI SENDIRI, apalagi kalau soal agama, JANGAN BERSANDIWARA SOAL AGAMA.
Itu sensitif dan makin membuat orang tidak bersimpati.
Jadi, buat yang akan ikut kontestasi pilkada 2018 atau pilpres 2019, kalau mau "menjual" gelar haji, silakan pergi haji tahun ini, jangan mendadak ke Mekkah atau umroh super kilat hanya untuk menunjukkan anda seorang Muslim.
Apalagi yang mau "jualan" jilbab, sebaiknya latihan pakai jilbabnya dari sekarang, kumpulin busana Muslimah banyak-banyak. Bukan nanti pas masuk masa kampanye baru pakai jilbab.
Gak usah sensi, sebab yang tersinggung berarti merasa bahwa dirinya memang "jualan" jilbab.
4. Uncontrolable Buzzer
Kubu Ahok banyak didukung buzzer di media sosial. Bahkan ada yang terkoordinir dalam JASMEV, kemarin si mbak bertubuh subur (maaf saya lupa namanya), yang mengaku mewakili Jasmev, tampil di TV One.
Sayangnya, kelakuan para buzzer ini kadang diluar kendali, sehingga kadang berlawanan dengan apa yang coba ditunjukkan oleh Ahok.
Contohnya ketika Ahok membentak KH Ma'ruf Amin di persidangan, yang kemudian menyulut kemarahan warga Nahdliyin.
3 pejabat dipimpin Luhut, malam-malam sowan ke rumah Pak Kyai. Ahok pun sampai bikin video permintaan maaf yang dirilis di youtube.
Sayangnya, buzzer Ahok di medsos malah makin kenceng membully Kyai Ma'ruf Amin. Sebut saja Denny Siregar dan para pengikutnya.
Ini mengesankan permintaan maaf Ahok tidak serius, hanya main-main.
Bahkan ketika Humphrey Djemat dan pengacara Ahok lainnya sibuk bikin klarifikasi di media mainstream dan televisi soal TIDAK ADANYA SADAPAN pembicaraan telepon antara SBY dan Kyai Ma'ruf Amin, para buzzer justru makin gencar mencuatkan issu ini, dengan tujuan "menembak" SBY. Kontradiktif bukan perilaku buzzer dengan yang didukung?
Nah, para politisi yang berniat pelihara buzzer buat melambungkan citranya di media sosial, pastikan buzzernya dididik, diarahkan, dikendalikan, agar pernyataan mereka di medsos sejalan dengan sang politisi.
5. Jangan Bohongi Diri Sendiri Dengan Survey
Statistik itu hanyalah alat bantu. Ia tak mungkin berbohong, hanya saja bisa KELIRU jika datanya salah, metodologinya keliru, samplingnya tidak benar-benar acak, respondennya tidak mewakili, dll.
Pada hari H pencoblosan, 19 April 2017, saya naik Uber taxi dari hotel KC di Gatot Subroto menuju lokasi TPS di kecamatan Cakung.
Pengemudi Uber langsung menebak saya dari lembaga survey. Meski sudah saya bantah, dia tetap mendesak saya. Akhirnya dia bercerita, sesaat sebelum menerima order dari saya, mobilnya baru saja mengantar seorang penumpang pria, dari hotel yang sama. Katanya, si pria ini mengaku dari lembaga survey.
Pengemudi Uber kemudian bertanya, siapa yang bakal menang Pilgub menurut lembaga survey si mas penumpang. Dijawab "Ahok".
Kontan pengemudi Uber membantah, tidak mungkin, mas!!! Semua lembaga survey yang menang Anies, kok lembaga survey mas aja yang menangin ahok?! Ngaco kali lembaga survey mas!
Saya geli mendengar ceritanya. Ya, warga DKI BUKAN ORANG BODOH. Jadi mereka tidak serta merta percaya ketika hasil survey berlawanan dengan kebanyakan.
Pengemudi Uber berkata, nama lembaga surveynya "SIRUS" katanya, Mbak.
Aah..., paham saya! It must be Cyrus Network. Saya pun jelaskan siapa pemilik Cyrus Network dan kaitannya dengan founder Teman Ahok.
Mungkin bukan hanya Cyrus, ada Charta Politica milik Yunarto Wijaya yang juga selalu berkata trend popularitas Ahok terus meningkat. Bahkan kata para timses Ahok yang jadi narsum di tv, bahkan sekelas Eriko Sotarduga, mengaku elektabilitas ahok dalam sepekan terakhir jelang coblosan putaran kedua sudah jauh mengungguli lawan.
Apa gunanya membohongi diri sendiri?! Apa manfaatnya kalau hanya akan membuat timses jadi TERTIPU SENDIRI?!
Publik tidak tertipu. Tapi celakanya yang termakan survey memenangkan diri sendiri justru timses, sehingga sudah berpuas diri, lengah, mabok kemenangan semu.
6. Jangan Hantam Musuh Membabi Buta Buta
Jika diperhatikan perolehan suara Ahok-Djarot pada putaran kedua tak ada peningkatan prosentase, ini artinya mereka GAGAL meraih simpati pendukung AHY-Sylvi untuk mengalihkan suara pada mereka.
Tak peduli Ruhut Sitompul koar-koar katanya simpul-simpul relawan Agus sudah deklarasi dukung Ahok, faktanya tak ada tuh suara yang mampir ke paslon 2.
Kenapa?!
Selama masa kampanye putaran pertama kubu Ahok menghantam terlalu keras dan bahkan membabi buta pada AHY, Sylvi, bahkan pak SBY dan keluarganya.
Aksi ini sangat tidak simpatik. Tentu meninggalkan bekas luka mendalam pada pendukung AHY.
Meski secara resmi SBY menyatakan partainya netral, toh relawan AHY bekerja untuk lawannya Ahok, bukan untuk Ahok. Pada hari H, suara pemilih AHY beralih ke Anies-Sandi.
Kubu Ahok-Djarot tinggal gigit jari, alih-alih meningkatkan prosentase perolehan suara, malah kantong suaranya tergerus.
Dalam politik ada adagium "tak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi."
Pun juga musuh, tak ada musuh abadi, siapa tahu di putaran berikutnya anda butuh pertolongan mantan lawan anda.
Jadi, pukul lawan secukupnya saja, tak perlu membuatnya babak belur.
Mungkin para pendukung Ahok puas bisa membully Agus Harimurti, tapi para pendukungnya yang terluka, akan terus mengingat perlakuan itu hingga ke bilik suara.
7. Jangan PEDE Overdosis
Melihat foto-foto persiapan konpers kemenangan di hotel Pullman dan aksi Ahok serta timsesnya "gladi bersih" mengumumkan kemenangan, saya jadi geli sendiri.
Issu bahwa kubu Ahok sudah mempersiapkan pesta kemenangan di hotel Pullman dan Bundaran HI, bahkan sudah saya dengar ketika masih di TPS, jelang penghitungan suara. Ahoker bersiap menuju Bundaran HI, katanya.
Ini berarti mereka, Ahok, timses, relawan dan para pendukungnya sudah MENAFIKAN KEKALAHAN.
TIDAK MUNGKIN KAMI KALAH!
Mungkin kepedean ini dampak dari merasa sudah mampu MEMBELI suara rakyat Jakarta lewat puluhan ribu kantong sembako.
Menafikan kekalahan membuat orang lengah. Padahal, lawan justru makin giat berjaga ketika melihat aksi hujan sembako dimana-mana.
Jika pada putaran pertama ada fenomena Iwan Bopeng, yang "jobdes"nya menakut-nakuti pemilih, atau ada kehadiran wanita "super ngeyel" yang hadir di TPS dengan baju kotak-kotak plus kerudung merah lalu secara demonstratif mengacung-acungkan salam 2 jari, maka pada putaran kedua fenomena ini tidak ada.
Ada 2 kemungkinan, pertama bisa jadi karena mereka tahu bahwa pendukung Anies-Sandi pun siap menerjunkan pemantau di TPS untuk melawan aksi macam iwan bopeng atau ibu-ibu ngeyelan, atau kedua bisa jadi juga mereka merasa tak perlu lagi karena sudah dipastikan menang.
Jika alasan terakhir yang mendasarinya, maka benarlah bahwa haqqul yaqin menang sudah membuat mereka missleading dan lalai.
Maka pantas saja jika mereka sampai sekarang sulit menerima kekalahan dan terus menghibur diri dengan ribuan karangan bunga papan, yang jelas tak akan mengubah keadaan dan tak akan membuat publik berpikiran "sebenarnya banyak ya yang dukung ahok".
Sebab dukungan sebenarnya diwujudkan dalam surat suara yang dicoblos.
*** *** ***
Itu tadi 7 point yang bisa saya sarikan dan saya petik sebagai hikmah sekaligus pelajaran bagi kita semua.
Ada yang mau menambahkan lagi?
Cilegon, 1 Mei 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini