Selasa, 02 Mei 2017

Mengenal Kelompok Ahli Takfiri

Henny Mono
Oleh: Henny Mono*
Di Indonesia ada  kelompok Jamaah Asharut Daulah, di Philipina ada Kelompok Abu Sayyaf, yang keduanya menyatakan berbaiat kepada kelompok Islamic State Irak dan Siria (ISIS), yang bermarkas di kawasan Timur Tengah. Sasaran mereka, yang dianggap musuh, tidak semata orang-orang non-muslim, tapi juga kalangan muslim sendiri. Siapakah mereka? _Koq_ begitu ekstrem dan berani mati.
Sepertiu diberitakan, kelompok ini beberapa waktu lalu melakukan aksi di kawasan Tuban Jawa Timur. Mereka menyerang pos polisi, sebelum kemudian dilibas pasukan Brimod Polda Jatim di ladang jagung. Sementara di kawasan semenanjung Sinai, Mesir, mereka melakukan aksi bunuh diri di gereja Mar Grigis Alexandria saat perayaan Minggu Palma menjelang peringatan paska. Sedangkan di Stochlom, Swedia, mereka melakukan aksi menabrakan truk curian di kerumunan pejalan kaki.
Dr. Usamah Sayyid al-Azyari, seorang dosen pada Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, melakukan penelitian tentang tindak tanduk gerakan ekstrem ini. Bukunya telah terbit dengan judul: Al-Haq al-Mubin fi al-Radd ‘ala Man Tala’aba bi al-Din al Tayyarat al Mutatharrifah min al-Ikhwan ila al-Daisy fi Mizan al-Ilm. Versi bahasa Indonesia: Islam Radikal: Telaah Kritis Radikalisme dari Ikhwanul Muslimin hingga ISIS. Buku ini menggunakan  pendekatan metodologi akademik yang ilmiah, membahas tentang kelahiran dan pertumbuhan/perkembangan gerakan Islam radikal dewasa ini.
Menurutnya, berbagai peristiwa yang menimpa umat Islam dewasa ini telah menimbulkan keguncangan psikologis yang tidak stabil. Di tengah semua keadaan itu, muncul sebuah gerakan yang ingin mencari dasar dan rujukan dari Alquran dan As-sunnah dengan semangat keagamaan yang kuat. Kelompok ini, telah menciptakan metode berpikir sendiri dan menisbatkan sejumlah pandangannya kepada syariat Islam. Karena itu mereka bersemangat untuk berdakwah, memberikan ceramah yang menyentuh hati agar manusia berpegang kepada Islam, serta menjalankan dan membelanya.
Kelemahannya, mereka tidak memiliki kapasitas untuk memahami dan mengambil hukum (istimbath) Alquran dan As-sunnah. Dengan kata lain, mereka tidak memiliki metodologi yang benar dalam memahami sebuah teori yang diinginkan dan ditunjukkan Alquran. Dalam mengambil hukum syar’i, seharusnya seseorang terlebih dulu memahami pirantinya sebagai rujukan, seperti ilmu tafsir Alquran, ilmu hadist, ilmu fikih, ilmu ushul fikih, sirah nabi dan maghazi, sejarah Islam, biografi ulama dan tokoh, serta ilmu bahasa dan gramatika bahasa. Bukan semata-mata mampu berbahasa Arab.
Landasan berpikir yang menjadi ide dasar dari kelompok ahli takfiri (pengkafiran) terhadap umat Islam lainnya, di luar dari golongan mereka, adalah konsep hakimiyah. Konsep ini menjadi dasar lahirnya konsep syirik hakimiyah dan tauhid hakimiyah, yang melahirkan pemahaman eksklusif ‘al’Usbah  al-Mu’minah,  yakni persepsi tertutup tentang golongan yang beriman.
Menurut Dr. Usamah Sayyid al-Azyari, dari konsep hakimiyah inilah muncul pemikiran bahwa umat Islam selain mereka adalah orang-orang jahiliyah. Terdapat perasaan akan adanya jurang pemisah antara mereka dengan umat Islam lain, serta ada pemikiran bahwa mereka lebih baik dari umat Islam lainnya.
Konsep ini, pada gilirannya melahirkan benturan-benturan –yang menurut Sayyid Qutb– antara mereka dengan umat Islam lainnya, demi tegaknya khilafah. Konsekwensi berikutnya, muncullah konsep _tamkin_ (kekuasaan). Perasaan paling benar di dalam pemahaman agama oleh kelompok ini, kemudian mengubah mereka menjadi komunitas yang radikal, selanjutnya menjadi kelompok yang suka mengkafirkan (takfiri) kepada penganut Islam lainnya.
Adanya pemikiran di atas, yang telah menyerang akal, segera menutup mata sekaligus mengacaukan perkara-perkara furu’iyah (cabang), hukum, tak terkecuali teks-teks wahyu. Kekacauan berpikir inilah yang menjadi penyebab utama, mengapa seseorang bisa berubah yang pada mula ia adalah pribadi yang religius, kemudian menjadi kelompok takfiri, yang kemudian menyerang orang lain baik secara fisik maupun non-fisik.
Dari hasil penelusuran Dr. Usamah Sayyid al-Azyari, muara dari semua pandangan kelompok-kelompok radikal tersebut adalah kitab ‘Fi Dzilal Al-Qur’an_, karya Sayyid Qutb. Tulisan ini tidak bermaksud menyoroti sosok ulama besar ini, tapi semata hanya mengulas ide dasar, dari mana munculnya kelompok takfiri yang kini berkembang Indonesia. Di mana kelompok ini sangat gemar membuat pernyataan, bahwa di luar mereka adalah ahli bid’ah, sesat, sehingga menjadi ahli neraka dan darah pun halal.
Na’udzubillahi min dzalik. (Harakatuna)
*Penulis adalah pengacara dan anggota Peradi Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini