Kamis, 04 Mei 2017

Balada Hizbut Tahrir Hingga Maher Zain

Ilustrasi Hizbut Tahrir Indonesia - File HTI
Mungkin banyak yang membenci HTI. Dianggap sebagai gerakan makar, Anti-NKRI dan para korban cuci otak, namun sejak beberapa dekade kehadirannya di negeri ini tidak pernah disertai dengan kekerasan apalagi angkat senjata. Walau saya setuju dengan beberapa pendapat kawan bahwa kelompok ini hanyalah para pengkhayal kronis dan bermain dengan utopia Khilafah, dan teriakan-teriakan mereka senantiasa menimbulkan polusi suara di jalan-jalan. Tapi ada hal menarik dari mereka yang membuat saya berpikir bahwa sebenarnya mereka tidak 100% bodoh dan tidak se-berbahaya ormas-ormas lain yang mungkin tidak secara vulgar meneriakan slogan anti-NKRI tapi jelas-jelas menginjaknya.
Ya, Hizbut Tahrir tidak selamanya bodoh. Ideologi puritan yang dibawanya tidak selamanya membuat mereka jumud dalam sejarah dan 100% tolol soal Geopolitik. Walau sama-sama menentang pemerintahan Bashar al Assad di Suriah, bukan berarti Hizbut Tahrir bersimpati pada rezim Monarki Saudi dan utopia 'Political Megalomania' ala Erdogan. Kalau anda kunjungi situs resmi Hizbut Tahrir akan anda temukan tidak sedikit kecaman dan ungkapan kebencian mereka pada rezim Saud dan sang "Khalifah" Turki Erdogan.
Maher Zain - File - Alchetron
Bisa dilacak memang gerakan trans-nasional seperti Hizbut Tahrir sejak awal berdirinya pada 1953 menginginkan kembalinya era Khilafah di muka bumi, kurang lebih seperti ingin mengembalikan era "kegemilangan" Kekhalifahan Utsmaniyah yang collapse pada tahun 1920.
Lucunya rezim Saudi pada awal berdirinya adalah melalui pemberontakan berdarah terhadap Khilafah Utsmaniyah yang menguasai semenanjung Arabia pada saat itu. Bahkan raja Rezim Saud pertama Abdullah bin Saud ditangkap pasukan Khilafah Utsmaniyah dibawah pimpinan Ibrahim Pasha atas perintah Khalifah Sultan Mahmud II dan dieksekusi penggal di Ibukota Utsmaniyah Konstantinopel (sekarang Istanbul) dan kepalanya dibuang di Selat Bosphorus.
Sekarang berapa banyak teman anda yang memuja Rezim Saudi tapi juga menginginkan Kekhalifahan ala Utsmaniyah tegak? Atau jangan-jangan anda sendiri?
Jujur dalam hal ini sebagian aktivis Hizbut tahrir (sebagian lho ya) lebih melek sejarah daripada para pemuja Erdogan yang menyedihkan, walau sama-sama menginginkan kembalinya Khilafah (Felix Siauw adalah pengecualian).
Tidak perlu diceritakan sejarah panjang pemberontakan bin Saud yang bermula dari Diriyah Nejd, perebutan Haramain, hingga penghancuran makam Al Husain di Karbala oleh tentara Abdullah bin Saud yang mengundang kemarahan global umat Islam Sunni dan Syi'ah (tidak hanya Syi'ah) sehingga penguasa pertama rezim Saud itu dieksekusi oleh Khilafah Utsmaniyah.
Pertanyaannya, berapa banyak umat islam yang melek sejarah ini? Saya yakin kaum fundamentalis dan yang selalu berteriak-teriak syariat kesana kemari pun tidak banyak tahu dengan sejarah ini. Yang mereka tahu sekarang Rezim Saudi dengan kerajaan monarki absolutnya yang berkuasa adalah "Khadimul Haramain As Syarifain" (pelayan dua kota suci) dan Khilafah Utsmaniyah adalah bukti kegemilangan Islam yang harus diulang. Sebuah paradoks menyedihkan umat dibalik sejarah dua entitas yang saling menumpahkan darah.
Lalu apa dengan golongan yang jalan pikirnya saling kontradiktif dan paradoks ini kita ingin mengikuti tema-tema giringan mereka soal perang Suriah yang jauh lebih rumit?
Itulah fenomena yang disebut dengan "When people say they're Pro-Palestine but they support the Syria Revolution". Saya malas menunjuk orang-orang di dalam negeri yang semacam ini karena sudah terlalu banyak.
Sekali-sekali saya ingin tunjuk wajah para tokoh asing semacam Erdogan, Khaled Meshal, Ismail Haniyah hingga si biduan Maher Zain yang konser di Birmingham dan London sambil menyanyikan tembang "Palestine will be free" sembari mengibarkan bendera FSA kelompok teroris yang salah satu sponsornya adalah tokoh Zionis Internasional Bernard Henry Levi.
Lucu kan..? Ga usah ketawa. Terlalu banyak makhluk sejenis ini berkeliaran di sekitar anda. :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini