Selasa, 25 April 2017

Surat Nelayan Untuk Bapak Presiden Joko Widodo

Terketuklah Hatimu Wahai Presiden

Tak ada yang terlambat dalam perjuangan, organisir, ilmu pengetahuan dan menggalang kekuatan. Indikator gerakan terjadi secara alamiah. Revolusi prancis pecah karena dampak kebijakan industri, revolusi iran pecah karena dampak regulasi yang hanya mementingkan kelompok tertentu, revolusi Indonesia terjadi karena selama 350 tahun VOC, kolonialisme dan fasisme Jepang membuat kebijakan tanam paksa, perampokan sumberdaya laut dan rempah-rempah, pengerukan kekayaan alam.
Sekarang kebijakan Neoliberal memangkas habis seluruh harapan dan sistem ekonomi rakyat. Dari gotong royong ke individualistik, dari koperasi ke ekonomi sektarian. Ini sedang berjalan. Dalam keadaan ekonomi rakyat yang terseok-seok oleh sistem politik dan pemerintahan yang feodalis, para pejabat bancakan uang negara, pejabat masih senang menjual kehormatannya dan bahkan menjual kedaulatan negara kemana saja mereka ingin jual.

Begitu juga yang di rasakan oleh nelayan sekarang ini, alat tangkap ikan di larang, perahunya di batasi, dilautnya sendiri wilayah Indonesia di tangkap, nelayan dipenjarakan, di tuduh merusak dan di asingkan kepulau-pulau tak kenal rimbanya. Anak-anak mereka putus sekolah, istri dan mertua mereka tak lagi berjualan ikan bakulan.
Didesa-desa tak lagi mendengar riangnya jualan ikan di setiap lorong gang-gang dan jalan setapak. Tidak tampak lagi bapak-bapak nelayan memikul hasil tangkapan dari laut ke rumahnya.
Perahu-perahu mereka kini di ikat, di tonton sambil meneteskan air mata, bertanya dalam hati “tega betul penguasa hari ini”. Apa salah kami, apa tindak tanduk kami yang membuat penguasa marah sama kami.
Nelayan hanya nelayan, berubah profesi mungkin menunggu langit ini runtuh. Nelayan turun temurun telah berpateri antara laut, bumi dan ibu pertiwi mereka _”Indonesia”._
Sampai kapan penguasa membentak kami nelayan dengan kebijakan-kebijakan tak berkeadilan dan berprikemanusiaan ini. Akan ini berakhir dan pejabatnya sadar bahwa nelayan sala satu penopang pangan dunia yang tak terpisahkan.
Kalau nelayan sudah meninggalkan lautnya, maka tunggu saja kehancuran suatu bangsa dengan gizi buruk, kering kerontang, dan angka kematian sangat tinggi karena faktor tidak tersedianya ikan.
“kami pak tidak tau ji aturan permen, kami mau sj ke laut cari ikan buat belanja keluarga, ya kemaren anak saya di tangkap polisi air karena pakai perahu kecil cari ikan. Biasanya ji’ selama ini tdk ada polisi larang di situ ji’. Daeng Hayyir, (2017), Nelayan dan Usaha Keramba Bone – Sulawesi Selatan
“iya ji, sy sdh tdk bekerja di kapal lg pak, katanya bos sy, kapal dilarang tangkap ikan, sekarang sy nganggur mi pale”. Zulman (2017), Nelayan Pangkep – Sulawesi Selatan
“kami pak, kami mencari ikan untuk makan saja, kalau banyak setengah karung kecil baru mi’ jual ke desa-desa jalan kaki, ikannya sunu’, bandeng, ada juga mi’ kepiting, udang kadang ada kadang tdk ada mi’. Anak saya pak “dikampung neneknya di malang Jawa Timur, suru kuliah. Disana sambil dagang lele, sambil kuliah. Mencari uang buat kuliah. Selama bapak berhenti jadi nelayan sudah tak ada hasil dan kami susah di sini”. Wawancara Ibu Rusmah berumur 70 tahun. Wawancara pakai terjemahan dari bahasa Soppeng ke Bahasa Indonesia oleh anaknya bernama Jumada umur 40 tahun. Rusmah (2017), Nelayan dan Pegiat Ibu-Ibu Rumah Tangga Soppeng – Sulawesi Selatan
“Kami Masyarakat Nelayan Air Bangis menolak kebijakan menteri Susi Pudjiastuti yang membunuh kehidupan nelayan di Sumatera barat”. Uthia (2017), Nelayan Bangis Pasaman Barat Sumatera Barat).
Pak Rusdianto Samawa dalam dialog sederhana ini, saya ingin ungkapkan kekecewaan saya sama Ibu Menteri Susi Pudjiastuti. Kami kebanyakan nelayan mengeluh sangat mengeluhkan kebijakan Ibu Menteri Susi Pudjiastuti. Setau kami nelayan yang hidup di pesisir Gorontalo ini tak punya apa-apa, tetapi pemerintah kok mencari masalah nelayan yang seharusnya nelayan diberikan solusi yang baik dari semua permasalahan yang nelayan alami.
Misal masalahnya terjadi penangkapan pada ABK Kapal Nelayan. KKP menilai ABK orang Indonesia dari Papua dan Kapalnya dari asing. Kalau hanya ambil kapalnya mungkin saja, sementara kapalnya memiliki ijin lengkap. Memang sebagian kapal nelayan di Gorontalo ini buatan asing.
Lha….. emang pemerintah selama ini menyiapkan kapal buat nelayan, lalu seenaknya melarang. Mengapa juga seABKnya harus di tangkap?. Di Gorontalo ini sudah ribuan kapal yang mangkrak pak Rusdianto, kalau pun mau melaut paling nyuri-nyuri waktu agar tidak ketahuan.
Kenapa demikian? Lha… kita ini mau makan apa pak Rusdianto?. Ini yang tidak dipelajari kondisinya oleh Menteri Susi Pudjiastuti, dia asal saja melarang alat tangkap dan ganti yang baru, memang mau dikemanakan uang negara triliun rupiah itu padahal alat tangkap baru itu tidak di pakai oleh nelayan Gorontalo. Ini macam menteri tidak mau mencari solusi pak, mau mau sendiri. Sekian terima kasih pak… selamat malam…. om siyastu om, terima kasih bapa..
Identitas Pemberi Testimoni:
Vetu Alexander, Nelayan Yang berasal dari Papua. Selama 23 Tahun sebagai nelayan dan sekarang memiliki kapal ada 3, baru beli 2 buah kapal belum berumur 3 tahun kapalnya.
Dalam penuturannya 2 kapal belum sempat melaut, karena kapalnya baru beli dari luar negeri. ABKnya Indonesia Asli Pribumi tak ada campuran. Umur ABKnya rata-rata 23 – 40 tahun. Dua buah kapal tidak bisa melaut itu akibat kebijakan Susi Pudjiastuti soal DERREGISTRASI KAPAL, artinya kapal eks Asing walaupun pemiliknya Indonesia asli tidak bisa operasi, harus di daftarkan kembali dengan persyaratan yang sangat berat. Sehingga KKP RI memberlakukan sistem DERREGISTRASI KAPAL.
Sistem ini ada dua pilihan yakni
  1. Kapal harus di jual kembali ke luar negeri kalau ada pembeli.
  2. Kapal harus di SCRAPP. Intinya nelayan sudah merengek ke PEMERINTAH agar kapal tersebut di alihkan menjadi kapal CARGO, PESIAR dan lain sebagainya. Namun, KKP RI malah tidak memberi kelonggaran.
Silahkan menilai, memilih penegakan kedaulatan total secara membabi buta tanpa rasionalitas kondisi dan situasi sosial, ekonomi dan kerugian nelayan dan menyebabkan negara abai terhadap realitas warga negaranya. Atau saja kita memilih membunuh nelayan dan usaha nelayan selama puluhan tahun itu tidak di hargai oleh pemerintah.
Ayo Ramaikan Gerakan 1 Juta Surat Gugatan Nelayan Untuk Presiden dengan mengirim hastag ke media sosial anda:
Muhammadiyah: Susi Pudjiastuti Sudah Melanggar UUD 1945 https://www.edunews.id/news/nasional/muhammadiyah-susi-pudjiastuti-sudah-melanggar-uud-1945/
Kerapu-nya wajah Kementerian Susi Pudjiastuti dan Penjajahan Cantrang By: Rusdia http://www.dakvi.com/kerapu-nya-wajah-kementerian-susi-pudjiastuti-dan-penjajahan-cantrang-rusdia
Energi Bangsa Terkuras karena Sikap Penegak Hukum – http://www.aktual.com/energi-bangsa-terkuras-sikap-penegak-hukum/
Kembali Ke Ekonomi Pancasila, Jokowi Harus Evaluasi Menteri Keuangan dan Menko Ekonomi http://nasional.warta10.com/kembali-ke-ekonomi-pancasila-jokowi-harus.239043.html
8 Permen Kebijakan Menteri Susi Harus Segera Dievaluasi http://publik-news.com/8-permen-kebijakan-menteri-susi-harus-segera-dievaluasi/
[28/3 15:57] #SuratNelayan: Nelayan Lokal Miskin Di Laut Sendiri – http://selingga.com/nelayan-lokal-miskin-di-laut-sendiri/
[28/3 15:57] #SuratNelayan: Summary Report: Trilogi Negara, Buruh Tani Nelayan Belum Berkeadilan http://imm-bone.blogspot.co.id/2017/03/summary-report-trilogi-negara-buruh.html?m=1
[28/3 15:57] #SuratNelayan: PP Muhammadiyah Dorong Pembentukan TIM Kajian Untuk Cantrang
http://beritajateng.net/pp-muhammadiyah-dorong-pembentukan-tim-kajian-untuk-mengkaji-cantrang/
[28/3 15:57] #SuratNelayan:  Penjajahan di Sektor Kelautan http://www.istanapos.com/2017/03/penjajahan-di-sektor-kelautan-dan.html?m=1
[28/3 15:57] #SuratNelayan:  Muhammadiyah Akan Gugat Menteri Susi Pudjiastuti http://www.istanapos.com/2017/02/muhammadiyah-akan-gugat-menteri-susi.html?m=1
[28/3 15:57] #SuratNelayan: Ketika Nelayan Menggugat Kebijakan Menteri Susi http://www.istanapos.com/2017/03/ketika-nelayan-menggugat-kebijakan.html?m=1#.WNj_l4j_Sro.whatsapp
[28/3 15:57] #SuratNelayan: Ketika Nelayan Menggugat Kebijakan Menteri Susi http://www.istanapos.com/2017/03/ketika-nelayan-menggugat-kebijakan.html?m=1#.WNocmFaMfiE.whatsapp
[28/3 15:57] #SuratNelayan: Sejak jadi Menteri, perempuan ini tetap saja menang melawan nelayan yang memprotes kebijakannya:
http://www.istanapos.com/2017/03/ketika-nelayan-menggugat-kebijakan.html?m=1#.WNocmFaMfiE.whatsapp
[28/3 15:57] #SuratNelayan: 8 Permen Kebijakan Menteri Susi Harus Segera Dievaluasi – http://publik-news.com/8-permen-kebijakan-menteri-susi-harus-segera-dievaluasi/
[28/3 15:57] #SuratNelayan: Kebijakan Menteri Susi Dianggap Banyak Rugikan Nelayan, Kenapa? https://www.tempo.co/read/news/2017/03/28/173860191/kebijakan-menteri-susi-dianggap-banyak-rugikan-nelayan-kenapa
Sumber : CJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini