Jumat, 28 April 2017

Profil KH. Muhammad Sanusi Al-Babakani

KH. Muhammad Sanusi Al-Babakani - File tasamuh.id

Forum Muslim - Kiai Muhammad Sanusi merupakan salah seorang ulama besar yang berasal dari Cirebon. Meskipun beliau telah lama wafat, pengaruh dan jasa-jasanya masih membekas dan diamalkan oleh banyak orang hingga sekarang. Ia dikenal sebagai seorang ulama yang sangat ‘alim-allamah dan zuhud. Hampir tidak ada seorang pun khususnya di Jawa Barat yang tidak mengenal sosok Kiai Muhammad Sanusi. Kiai Muhammad Sanusi bernama asli Markab, lahir di Desa Winduhaji, Kuningan – Jawa Barat pada malam jum’at 12 Rabi’ul awal 1322 H, bertepatan dengan 12 Januari 1904 M dari pasangan Kiai Agus Ma’ani bin Kiai Aki Natakariya dengan Ibu Nyai Asnita binti Kuwu Kiai Kauri.
KH. Muhammad Sanusi yang biasa disapa “Mbah” merupakan anak ke tiga dari tujuh bersaudara. Adapun saudara-saudaranya antara lain Aminah (meninggal dunia saat usia 8 tahun), Mir’ati (meninggal dunia saat berusia 6 tahun), Sarpan (Abdur Rahim), Zaenab, Suknasih, Kasem (meninggal dunia saat usia 7 hari). Sedangkan saudara yang se-ayah lain ibu, adalah Kun’ah dan Saodah (meninggal dunia saat usia 5 tahun).
Tidak banyak riwayat hidup Mbah yang bisa diungkap pada masa kecilnya, kecuali ada beberapa catatan beliau yang menjelaskan bahwa ketika umur 4 tahun pernah terjatuh dari bangku ketika hendak mengambil genting. Umur 6 tahun terserang penyakit panas,dan karena panasnya yang sangat hebat itulah sang ibu bernadzar jika sembuh akan berziarah ke makam Nyai Manis Kuningan. Pada usia 8 tahun, Mbah dikhitan oleh dukun sunat Murkawi.
Pada saat usia 10 tahun, Mbah Sanusi disekolahkan di Volk School (Sekolah Rakyat) yang terletak di Desa Ciporang. Kendati sudah berumur 10 tahun, Mbah Sanusi termasuk murid yang paling kecil. Dalam buku catatan Mbah Sanusi, setiap sore dirinya selalu mengaji di pesantren Kiai Ghazali.
Pada masa kecilnya, Mbah diberi julukan “anak kecil yang pandai menjawab”, dikarenakan selalu bisa menjawab setiap pertanyaan KH. Ghazali tentang ilmu faraidh (ilmu waris) yang terkenal rumit secara spontanitas dengan benar. Padahal para santri yang lain tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tanggal 10 Juli 1915 M, Mbah menerima surat tanda tamat belajar dari sekolah Ciporang dengan prestasi juara satu.
Setelah tamat Sekolah Rakyat dan tamat pengajian di Kiai Ghazali, Mbah meneruskan pendidikannya di Sekolah Dinas (Sekolah Calon Birokrat) di Kabupaten Kuningan. Di sekolah inilah Mbah mendalami hobi menulisnya hingga ia pernah memenangkan kejuaraan penulis lagu terbaik. Tanggal 11 Dzul Qo’dah 1337 H, Mbah mulai mesantren di Kyai Damanhuri Pakebon selama kurang lebih 6 bulan, lalu Mbah dipindahkan oleh kyai Damanhuri ke pesantren Sarajaya Karangsembung, Sindanglaut, Cirebon, di Kiai Zen karena terlalu pintar. Saat itu Mbah Sanusi masih menginjak usia 15 tahun. Di pesantren ini Mbah diperlakukan lebih istimewa dengan memperoleh kamar yang juga dihuni oleh Kiai-nya, sehingga setiap saat Mbah bisa mensuritauladani sosok seorang guru.
Baru setengah tahun di pesantren Sarajaya, Mbah Sanusi mendapat kabar ibunda tercintanya sakit dan disuruh pulang. Setelah diberitahu hingga tiga kali masih belum pulang, akhirnya Mbah dijemput paksa oleh saudaranya yang bernama Kerta Adiwangsa. Karena kegigihannya dalam belajar, Mbah menolak untuk pulang dan memilih tinggal di pesantren untuk mengaji. Menurut cerita dari Kiai Mudzakir, cucu dari Mbah Sanusi, sampai pada akhirnya pengasuh memerintahkan Mbah Sanusi untuk pulang.

“Pulanglah sejenak,masalah panjang-pendeknya umur tidak ada yang tahu. mengenai ngaji, mungkin bisa nambal (private)”.

Tiga hari sepeninggal ibundanya, Mbah memilih berangkat kembali ke pesantren untuk menimba ilmu yang sempat tertinggal. Ujian yang menghalangi Mbah dalam belajar tidak cukup hanya itu. Di pesantren, Mbah dibenci oleh teman santrinya yang iri dengan Mbah. Kejahilannya selalu mengancam keselamatan Mbah. Tak hanya itu, Mbah diberikan musibah berupa penyakit kulit yang sangat menjijikan. Kulitnya bernanah dan berbau busuk-amis. Akibat itulah Mbah semakin dijauhi oleh seluruh teman-temannya. Apabila saatnya mengaji, Mbah selalu dipisah tempatnya di bawah kolong (saat itu langgar berupa rumah panggung yang terbuat dari bilik kayu.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Mbah menjadi kaligrafer bayaran. Karya-karyanya sering dijual bahkan hingga sering mendapat orderan karena tulisan Mbah (baik arab maupun latin) sangat bagus sekali. Hasil uang yang didapat Mbah selalu digunakan untuk membeli kitab. Bahkan sering pula mengirimkan uang ke rumah untuk kebutuhan sekolah adiknya.
Kendati secara materi telah tercukupi, mbah selalu hidup dalam ke-zuhudan. Bahkan pernah suatu ketika, Mbah makan nasi yang dicampur sedikit pasir bersih dengan tujuan menghilangkan rasa nafsu hayawani. Mbah tidak pernah mau makan sebelum ia hafal setiap mata pelajaran yang ia pelajari.
Setelah cukup lama mesantren, Mbah diminta menjadi menantu oleh Kiai Ma’ruf (saudara dari Kiai Zen). Sikap tawadhu’ dan patuhnya terhadap guru, maka Mbah hanya sami’na wa atho’naa. Maka pada tanggal 24 Dzulhijah 1341 H, secara resmi Mbah dinikahkan dengan Nyai Qona’ah binti KH. Ma’ruf.
Pada hari kamis tanggal 27 Muharram 1341 H, Mbah berangkat lagi mesantren di Cikalong Tasikmalaya mengikuti jejak guru terdahulunya, Kiai Zakaria. Tentunya setelah memohon pengertian dan keikhlasan dari istri dan mertuanya. Namun, agar lebih berkonsentrasi dan lebih thuma’ninah dalam belajar, Mbah meminta restu dari mertua dan istrinya untuk mentalak. Hingga pada akhirnya tanggal 15 Rajab 1341 H Nyai Qona’ah di-thalak.
Rabu, 4 Sya’ban 1341 H (1922 M) Mbah pindah mesantren di Babakan- Ciwaringin -Cirebon, Jawa Barat. Jumlah santri saat itu masih 60 orang dengan lurah pondoknya bernama Kiai Nawawi dari Majalengka. Sementara pengasuhnya adalah Kiai Isma’il, Kiai Dawud, Kiai Muhammad, dan Kiai Amin Sepuh.
Meski sudah sebulan mondok di Babakan, Mbah mengalami tidak betah di situ. Karenanya Mbah menghadap kiai untuk meminta nasihat. Adapun nasihatnya berupa “orang mesantren itu sama dengan orang yang bertapa. Kalau tidak kuat menghadapi godaan, tidak akan sukses. Orang yang akan sukses besar tentu godaannya besar pula. Ibarat pohon yang menjulang tinggi, maka akan semakin besar angin yang menerpa. Maka bersabarlah”.
Karena kecerdasan ide dan kepintaran ilmunya, Mbah dipercaya menjadi kepala pondok. Diamanahi menjadi kepala pondok membuat banyak menyita waktu Mbah karena harus membagi waktu antara mengurus santri dan mengaji.
Pada suatu hari Mbah mendapat panggilan dari Kiai Amin Sepuh dan diberi tahu bahwa kiai menjodohkan Mbah dengan saudari iparnya. Padahal di rumah, Mbah pun dijodohkan dengan puteri Kuwu bernama Nyai Robi’ah. Mbah pun mulai dilema. Akhirnya melakukan sholat istikhoroh, dan mendapat jawaban bahwa harus menikah dengan apa yang dijodohkan oleh Kyainya. Maka pada tanggal 10 Syawal 1344 H (1926), Mbah menikah dengan Nyai Hj. Sa’adah binti KH. Ali bin Kyai Masinah, seorang janda dari Kyai Halif (Desa Lontangjaya). Nyai Sa’adah merupakan kakak ipar dari KH. Amin sepuh dan telah mempunyai seorang putera bernama Atho’illah.
Meskipun secara status Mbah adalah saudara tua KH. Amin Sepuh, namun Mbah tetap takdzim dan menghormati KH. Amin Sepuh sebagai gurunya. Hingga di kemudian hari KH. Amin Sepuh dijuluki sebagai Kiai Sepuh, dan Mbah dijuluki sebagai Kiai Anom.
PENGAJIAN TAHRIRAN DAN MADRASI

Sewaktu Mbah mulai mengajar di Pondok Pesantren Babakan tahun 1922 M, dimulailah pengajian nahwu dengan menggunakan sistem tahriran serta diajarkannya tulis-menulis secara kurikulum madrasah. Hal ini belum pernah terjadi di Pondok Pesantren manapun. Oleh karena itu, banyak tokoh ulama sekitar yang tidak menyetujuinya karena dianggap sistem tahriran seperti bioskop dan sistem madrasah Tasyabbuh dengan penjajah Belanda, karenanya harus dihindarkan. Sebenarnya tujuan utama Mbah hanya ingin mengarahkan bagaimana cara belajar yang efektif. Mbah berpikir, jika cara itu dihentikan, maka jelas akan berakibat memperlambat kemampuan bernalar, optimalisasi penguasaan isi materi menjadi tidak sempurna.
Mbah pura-pura tidak mendengar saja dan terus menjalankan keyakinannya dalam membuat program tersebut. Hingga pada suatu hari datanglah sepucuk surat dari kantor POS Jamblang yang ditunjukan kepada Mbah. isinya bernada ancaman.
“Sanusi, kamu harus menghentikan sistem pengajian dan madrasah. kalau tidak menurut, mending kamu mampus ke Kuningan !” wassalam, Johar Balarante.
Setelah menerima surat itu, hati Mbah terenyuh dan sedih. Untuk itu Mbah berniat mengecek kebenaran surat itu dan sekaligus tabayyun/klarifikasi ke Kiai Johar di Balarante. Ternyata sesampainya di Balarante tidak terjadi apa-apa. Bahkan Mbah disambut hangat dan dihormati.
Untuk lebih meyakinkan, akhirnya Mbah memberanikan diri menanyakan langsung kepada beliau, “maaf Rama, apa benar Rama kirim surat ke saya?”. Dijawab oleh Kiai Johar “Tidak, apa ada surat? Lewat mana datangnya?” maka Mbah pun menjawab, “ada Rama, dari Kantor Pos”.
Kemudian dibacalah surat itu oleh Kyai Johar, dan diklarifikasi oleh Kiai Johar bahwa beliau tidak pernah mengirimkan surat itu. Kiai Johar hanya tidak mengizinkan Mbah mengajar dengan sistem seperti orang kafir. Namun, jika tidak ada metode lain, gunakan saja lembaran kertas yang lebar, kemudian ditulisi. Agar ketika selesai digunakan bisa digulung, dan ketika dibutuhkan lagi bisa dibuka. Menurut Kiai Johar, yang terpenting jangan sampai menggunakan papan tulis kapur yang digunakan untuk menulis Al-Qur’an/Hadits. Karena apabila dihapus akan menjadi debu yang beterbangan. Dan apabila diinjak sama artinya menginjak Al-Qur’an.
Mbah pun menuruti saran Kiai Johar. Namun, setelah satu tahun menjalaninya dan dirasa kurang efektif, maka Mbah melakukan taktik baru, yaitu tetap membuat papan tulis yang diberi bingkai bentuk asbak bertujuan supaya menjadi wadah bagi debu kapur yang telah dihapus.
Namun demikian, Mbah tetap tawadhu’ dan mengormati semua Kyai Sepuh meskipun banyak orang tahu bahwa karismatik Mbah lebih tinggi daripada para Kyai sepuh lainnya. Sifat tawadhu’ Mbah yang patut disuritauladani seperti kepada KH. Amin Sepuh (Adik Iparnya) tetap tidak berani berjalan mendahuluinya, atau sholat di depannya. Bahkan untuk hal semacam sandal pun jika kebetulan berada di tempat yang sama, Mbah tidak pernah berada didepan sandal Kiai Amin Sepuh dikarenakan rasa takdzim-nya terhadap beliau. Begitulah cerita dari Kiai Ali Munir, cucu dari Mbah Sanusi yang saat ini menjadi Pengasuh Pesantren Assanusi.
SEBAGAI ULAMA PEJUANG

Pada zaman perjuangan merebut kemerdekaan, andil Mbah sangatlah besar. Terutama dalam pengadaan bidang logistik dan persenjataan. Mbah banyak mengirim pedang panjang, bambu runcing, dan keris kepada para santinya serta pasukan Hizbullah. Tak hanya itu, Mbah juga banyak merekrut para pemuda untuk ikut berjuang melawan penjajahan. Bahkan pernah diceritakan bahwa Hadratussyaikh KH. M. Hasyim ‘Asy’ari bersama Bung Tomo di Surabaya tidak akan menyatakan perang sebelum mendapat restu dari ulama Cirebon, salah-satunya KH. Muhammad Sanusi. Mbah-lahyang mencetuskan resolusi jihad bersama KH. M. Hasyim Asy’ari dan ikut bertempur bersama Bung Tomo.
Mbah pun sudah sering keluar-masuk penjara karena hal itu. Perlakukan kurang manusiawi dilakukan para pemberontak terhadap Mbah. Pukulan dengan gagang senapan laras panjang kerap kali diterima Mbah. Akibatnya, Mbah agak sedikit condong bila berjalan.
SEBAGAI SASTRAWAN DAN PENULIS

Dibalik sosok Kiai Muhammad Sanusi yang tegas berwibawa dan alim, ternyata Mbah adalah seorang penulis yang produktif. Terlihat dari banyaknya buku catatan yang banyak mengupas perjuangan para santri dalam meraih kemerdekaan, sejarah pesantren, hingga riwayat hidup dirinya sendiri. Mbah Sanusi merupakan seorang ulama yang pandai bersyair. Mbah Sanusi pun banyak sekali mengarang kitab dari pelbagai disiplin ilmu seperti Ilmu Pengetahuan Sosial, Ilmu Falak, Faraidh, Nahwu, Shorof, Fiqh, Tafsir, Ilmu tafsir, Akhlaq, maupun Tasawuf. Kitab-kitab yang ditulis Mbah merupakan kitab yang bertuliskan Bahasa Jawa Pegon (Bahasa Jawa yang ditulis menggunakan huruf Arab), Bahasa Indonesia, Bahasa Arab.
Di antara karya-karyanya antara lain “Jadwal Sholat Abadi” yang digunakan hampir di semua wilayah III Cirebon (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan). Jadwal sholat abadi ini dibuat pada tahun 1359 H; “Kitabul Adab fii durusi Al-Awwaliyah fii Al-Akhlaqil Mardhiyah” yang ditulis dalam Bahasa Jawa ini berisi tentang tata krama murid terhadap guru, anak terhadap orang tua, rakyat terhadap pemerintah, tatakrama orang mencari ilmu, tatakrama persahabatan(pergaulan), tatakrama seseorang terhadap dirinya sendiri dan masih banyak lainnya seputar adab; “Tanwiir Al-Qulub” yang berupa sya’ir berbahasa Jawa tentang aqidah, menjelaskan tentang Ahlu Sunnah wal Jama’ah, surga dan neraka, tauhid, malaikat dan sebagainya; “Sya’ir Wasiat” yang ditulis dalam bahasa Indonesia, berisi tentang tuntunan untuk mencari ilmu yang benar; “Kitabu At-Tabsyiru wa At-Takhdziru” berupa sya’ir berbahasa Jawa pegon yang mengupas kejadian-kejadian di akhirat seperti nikmat kubur, azab kubur, hisab, syafaat, haudh, dlan lain-lain; “Bisyri Al-Anami bi Fadho.ili Al-Hikami As-Shiyami ‘Alaa Madzahibi Al-A’immati Al-Arbi’atil A’lami.” Kitab ini berbahasa Arab yang menjelaskan seputar ibadah puasa dan keutamaan-keutamaannya; “Aronu Kalaami fii Syi’ri Al-‘Ilmi An-Nahwi Billughotil Jawiyah” yang berupa syair kitab Jurumiyah Tahriran. Kitab ini ditulis dalam Bahasa Jawa tentang nahwu yang merujuk pada kitab jurumiyah; “Tadzkirotul Ikhwan” yang ditulis dalam bahasa Arab, membahas seputar aqidah-akhlaq; “Baabu al-Jum’ati wa Dzuhri” yang ditulis dalam bahasa Arab, membahas seputar syarat, rukun dan sunnah sholat jum’at dan dzuhur; “Kitab Fasolatan”, kitab ini membahas seputar do’a-do’a dan niat sholat wajib, panduan sholat sunnah, panduan tahlil dan lain-lain.
PESAN TERAKHIR

Pada hari Jum’at tanggal 31 Mei 1974 bakda Isya’, semua putra-putri Mbah Sanusi dipanggil menghadap Mbah dikarenakan Mbah mengalami sakit yang cukup parah. Sambil menasihati dan dan memberikan beberapa wasiat, minta dipijiti hingga pukul 23.00 WIB mereka disuruh pulang kembali. Esok harinya, Sabtu 1 Juni 1974 pukul 08.00 WIB Mbah kembali memanggil puteranya untuk dihantar ke RSU Gunung Jati Cirebon yang ternyata menurut diagnosa dokter bahwa jantung Mbah telah pecah. Hingga beberapa saat kemudian, tepatnya pada pukul 12.30 WIB Mbah menghembuskan nafas terakhirnya.
Menjelang maghrib, jenazah Mbah dikebumikan di pekuburan keluarga di depan Masjid Jami’ Raudhotu At-Tholibien Pondok Pesantren Babakan – Ciwaringin-Cirebon, berdampingan dengan makam gurunya, KH. Amin Sepuh.
Terdapat pesan Mbah Sanusi yang paling diingat oleh generasi berikutnya dan para santri, yaitu “Wekel Ngaji Supaya Dadi Wong Pinter, Wekel Jama’ah Supaya Dadi Wong Bener”, (Rajin mengaji agar menjadi orang yang pintar, dan rajin sholat berjama’ah supaya menjadi orang yang benar : dalam sikap dan perbuatan).
Demikian itu merupakan pesan bahwa untuk bahagia di dunia dan akhirat maka harus dilakukan dengan rajin mengaji dan rajin sholat berjama’ah. tak hanya itu, mbah juga menganjurkan bahwa mondok itu minimal harus 7 tahun lamanya. karena selama tujuh tahun itulah perkiraan ilmu yang didapat di pesantren sudah betul-betul matang.

Daftar Bacaan:

Buku Catatan Hidup Mbah Sanusi
Dr. AR. Idham Kholid, KH. M. Sanusi al-Babakani: Filsafat, Nilai, Paham Keagamaan dan Perjuangannya, Bekasi: Pustaka Isfahan, 2011
Muhammad Mudzakir, Kakek dan Guruku Al-Maghfurlah KH. M. Sanusi
Wawancara KH. Mudzakir (cucu Mbah Sanusi)
Wawancara KH Abdul Qohar (Pengasuh Pondok Pesantren Assanusiah lil Banat)
Wawancara Kiai Ali Munir “Pengasuh Pondok Pesantren Assanusi” (Cucu Mbah Sanusi)
Wawancara Ust. Muthohirin (kepala pondok Assanusi)
 Sumber : Tasamuh.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini