Jumat, 28 April 2017

Profil KH. Ma’shum Sufyan – Gresik

KH. Ma’shum Sufyan - File tasamuh.id
Forum Muslim - Di tengah geliat kebangkitan perjuangan melawan penjajahan, lahirlah seorang anak bernama Ma’shum Sufyan dari pasangan dua insan yang sholih dan sholihah, yaitu H. Muhammad Sufyan dengan Hj. Amnah di Desa Dukun Anyar bertepatan pada hari Sabtu Kliwon tahun 1334H/1913 M. Ma’shum Sufyan adalah putra pertama dari empat bersaudara.
Kiai Ma’shum Sufyan merupakan salah seorang keturunan Joko Tingkir dari garis silsilah nenek moyang yang bernama Mbah Kiai Onggoyudo (keturunan kelima dari Sultan Pajang alias Joko Tingkir). Berdasarkan silsilahnya yaitu Brawijaya IV à Raden Ayu Jayadiningrat à Sultan Adiwijaya/Mas Karebet (Joko Tingkir à Pangeran Benowo à Pangeran Selarong à Pangeran Kosumoyudo (Kiai Abdul Jabbar Jojokan) à Kyai Abdullah Sambo à Kyai Onggoyudo à Nyai Sarimah (Sidayu) à Nyai Siman à Kai Kudoleksonoà Nasli/Astro à Sa’ib à Amnah à Ma’shum Sufyan.
Menurut riwayatnya, semenjak kecil, Ma’shum Sufyan muda dikenal sebagai anak yang sangat tekun dalam belajar, terutama dalam bidang agama. Dikisahkan ketika Ma’shum Sufyan muda masih berusia sekitar 6 tahun, ia dibimbing mengaji oleh kakeknya sendiri yang bernama Kiai Amari yang terkenal mahir dalam soal membaca al-Qur’an. Oleh karenanya, dalam usia yang masih kecil, Kiai Ma’shum sudah nampak kepandaiannya dan kepiawaian dalam membaca ayat-ayat suci al-Qur’an.
Sebagai lazimnya anak-anak waktu itu, selain kegiatan mengaji al-Qur’an, Ma’shum Sufyan muda ingin menempuh pendidikan formal. Dan, pada akhirnya kedua orang tuanya mengizinkan untuk sekolah di Madrasah Islamiyah yang didirikan oleh KH. Faqih Abdul Jabbar yang tak lain adalah pendiri Pondok Pesantren Maskumambang, Dukun, Gresik. Bahkan, Ma’shum muda sempat berguru langsung kepada pendiri, Kiai Faqih Abdul Jabbar.
Berkat gemblengan langsung dari kakeknya, Ma’shum muda termotivasi untuk ngugemi al-Qur’an atau memegang al-Qur’an dengan erat dan keilmuannya supaya tetap abadi di dalam fikiran maupun hati. Untuk meneguhkan tekadnya tersebut, berangkatlah Ma’shum muda ke Sidayu, Gresik untuk berguru kepada Mbah Kiai Munawwar seorang ulama’ terkenal dalam tahfizh al-Qur’an. Kepada Mbah Kiai Munawwar lah Kiai Ma’shum Sufyan berguru dan mendapatkan sanad tahfidz al-Qur’an.
Sungguh takjub, kecerdasan dan ketekunan Ma’shum Sufyan muda telah mampu menghatamkan hafalan al-Qur’an 30 juz dalam usia 12 tahun. Untuk tahsin (fashohah) dibutuhkan waktu 3 bulan. Atas dasar sifat tawadhu’ yang kuat, banyak para santri dan masyarakat sekitar memuji begitupun Mbah Kiai Munawwar yang turut berbangga hati mendapati murid sehebat itu. Semenjak itulah, Kiai Ma’shum diminta menetap di pondok dan mengabdi kepada Mbah Kiai Munawwar yang telah mengangkatnya sebagai asisten dalam tahfizh al-Qur’an sembari memperlancar hafalannya.
Setalah 7 bulan mengabdikan diri, Ma’shum muda melanjutkan pengembaraan ngangsu kaweruh ke pondok pesantrennya Kiai Muhammad Sa’id di wilayah Sampang Madura. Di pondok ini, Ma’shum muda hanya menghabiskan waktu selama 3 bulan. Karena, berkat ketekunannya, waktu yang sesingkat itupun sudah dianggap cukup untuk memberikan manfaat, kemudian sowan kepada Kiai Muhammad Sa’id untuk pamit pulang. Kemudian, kembali ngangsu kaweruh kepada Kiai Faqih Abdul Jabbar sampai 5 tahun lamanya.
Ketika menginjak usia 17 tahun, Kiai Ma’shum akhirnya melepas status bujangnya dengan menikahi Masrifah binti H. M. Rusdi. Kemudian tinggal di rumah mertuanya sembari menghafalkan kitab Alfiyah Ibnu Malik pada waktu satu malam. Menurut cerita yang dihimpun penulis, proses menghafal Alfiyah Ibnu Malik dilakukan pada saat malam pertama. Dari pernikahannya dengan Ibu Nyai Masrifah, Kiai Ma’shum dikaruniai 13 keturunan. Dari 13 orang tersebut yang masih hidup hingga saat tulisan ini dipublikasikan adalah 8 orang. Adapaun 13 orang tersebut adalah Mahfud Ma’shum (alm.), Ma’mun Ma’shum (alm.), Mahfudz Ma’shum, Sakinah Ma’shum (almh.), Afif Ma’shum; Robbach Ma’shum, Muhammad Ma’shum (alm.), Sa’dan Maftuh Ma’shum, Sakinah Ma’shum, Robi’ah Ma’shum, Ahmad Mulaqqob (alm.), Maziyah Ma’shum, dan Wafiroh Ma’shum.
Dalam usia masih muda, tak heran dengan ketekunan dan kecerdasannya, waktu itu bukanlah suatu halangan untuk mendapatkan ilmu. Kiai Ma’shum pernah singgah untuk ngangsu kaweruh di beberapa pondok pesantren namun dalam kurun waktu yang tidak lama sebagaimana lumrahnya santri-santri yang lain.
Berangkatlah Kiai Ma’shum ke Jawa Tengah, tepatnya di daerah rembang untuk berguru kepada Mbah Kiai Kholil, Pengasuh Pondok Pesantren Kasingan Rembang. Kedatangan Kiai Ma’shum di pondok tersebut bersamaan dengan datangnya seorang pemuda yang bernama Kiai Mahrus Ali yang nantinya menjadi pemangku Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Perkenalan beliau dengan Kiai Mahrus ali itu semakin erat sehingga menjalin persahabatan sampai pada waktu ajal menjemput.
Merintis Pesantren
Pondok Pesantren Ihyaul Ulum bukanlah pondok pesantren pertama dan satu-satunya di Kabupaten Gresik khusunya di Kecamatan Dukun. Sebab jauh sebelumnya telah berdiri Pondok Pesantren Maskumambang yang didirikan oleh ulama’ kharismatik sekaligus gurunya bernama Kiai Faqih Abdul Jabbar. Selain itu, telah berdiri juga pondok pesantren yang diasuh oleh Kiai Ahyat yang tak lain adalah paman dari Kiai Ma’shum Sufyan. Di pesantren yang diasuh oleh Kiai Ahyat inilah, Kiai Ma’shum ketika masih muda mendarma baktikan ilmunya dan sorenya beliau menuntut ilmu kepada Kiai Faqih.
Pada tahun 1942, wilayah Dukun terkena musibah banjir bandang yang menyebabkan pondok pesantren Kiai Ahyat perkembangannya menurun. Dan, setelah wafatnya Kiai Ahyat, pondok pesantrennya tidak lagi berkembang karena tidak ada yang meneruskan. Begitu halnya dengan Pondok Pesantren Maskumambang, setelah wafatnya Kiai Faqih, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Kiai Amar Faqih.
Melihat merosotnya lembaga pendidikan di daerahnya, Kiai Ma’shum tak bisa tinggal diam. Terlebih dirinya pernah ngangsu kawaruh di pondok pesantren tersebut. Rasa prihatin ituah yang mendorongnya untuk mendirikan pondok pesantren yang kini cukup pesat perkembangannya, Pondok Pesantren Ihyaul Ulum. Waktu itu, beliau baru pulang dari menuntut ilmu di rembang sekitar tahun 1950.
Kiai Ma’shum mulai mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam di rumahnya sendiri karena kebetulan rumah beliau sangat besar dan bertingkat. Rumah yang terbuat dari kayu jati. Kegiatan belajar-mengajar pun dilaksanakan di bagian atas rumah sekaligus menjadi asrama santri.
Seiring berjalannya waktu, perjuangan Kiai Ma’shum mengalami kemajuan pesat. Banyak orang berdatangan untuk menimba ilmu kepadanya. Karena rumah yang dijadikan tempat belajar sudah tidak muat, membuat mertua beliau (H. Rusdi) membelikan rumah. Rumah tersebut akan digunakan untuk menampung para santri. Dengan bantuan masyarakat, dibangunlah sebah pondok pesantren pada tanggal 1 Januari 1951 yang diberi nama Pondok Pesantren Ihyaul Ulum (PPIU).
Nama “Ihyaul Ulum” sendiri merupakan inisiasi dari Kiai Ma’shum sendiri. Sebagaimana tujuan didirikannya, pondok pesantren yang baru didirikan ini semata-mata ingin menghidupkan kembali pengajaran dan pendidikan ilmu-ilmu agama di wilayah Dukun. Di samping itu, nama “Ihyaul Ulum” diambil dari kitab favorit beliau karangan Hujjatul Islam Imam Muhammad Abu Hamid Al-Ghozali berjudul “Ihyaulumuddin”.
Cita-cita luhur ini mendapat sambutan serta dukungan dari masyarakat. Wujud dukungan tersebut berupa mempercayakan putra-putrinya untuk dididik di pondok pesantren yang baru didirikan tersebut.
Perkembangan Pesantren
Tak berhenti mendirikan pondok pesantren saja, komitmen Kiai Ma’shum untuk pendidikan agama menuntunnya untuk mendirikan Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1955. Sejak saat itulah pondok pesantren ini dikenalkan dengan sekolah formal.
Suatu ketika, terjadilah pertentangan atau khilafiyah yang mengakibatkan adanya perpecahan antar umat Islam dan permusuhan sesama teman bahkan saling mengkafirkan. Begitu juga di wilayah Dukun. Badai khilafiyah tersebut berupa G30/S PKI.
Di tengah gejolak khilafiyah tersebut, banyak masyarakat yang bingung dan resah. Begitu pula dengan para wali santri yang tidak sefaham dengan apa yang diajarkan di Pesantren Maskumambang sampai pada akhirnya mereka menarik kembali putri-putri mereka. Akibatnya, banyak kader muslimah yang menganggur dan tidak meneruskan sekolah. Peristiwa tersebut terjadi setelah wafatnya Kiai Amar Faqih.
Situasi demikian mendorong Kiai Mahfduz Ma’shum (putra tertua) mendirikan pondok pesantren khusus putri pada tahun 1965, atas restu dari Kiai Ma’shum Sufyan. Peminatnya pun tak pernah surut. Sehingga mengharuskan untuk mendirikan jenjang pendidikan formal berupa Madrasah Tsanawiyah pada tahun 1960 yang dipimpin oleh Kiai Ma’shum sendiri. Dan, 5 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1965 didirikan lagi Madrasah Aliyah pada di bawah pimpinan Kiai Mahfudz Ma’shum.
Adapun metode yang di ajarkan di pondok pesantren ini seperti halnya pondok pesantren pada umumnya, yaitu weton dan sorogan. Kiai Ma’shum mengajar santri-santrinya ba’da ashar dengan mengaji kitab Riyadus Sholihin sedangkan ba’da maghrib mengaji kitab Alfiyah Ibn Malik.
Kiprah dan Teladan
Sepanjang perjalanan hidup, Kiai Ma’shum Sufyan dikenal sebagai sosok kiai yang berkecimpung dalam Nahdhatul Ulama’ dan patut dijadikan cermin kehidupan. Kepribadian beliau sangat sederhana, berwawasan luas, istiqomah dalam beribadah dan konsisten mendidik santri.
Kiai Ma’shum Sofyan adalah seorang kiai yang sangat tinggi kepeduliannya terhadap bangsa dan negara. Pada zaman perjuangan kemerdekaan, beliau termasuk pejuang yang gigih di daerahnya bahkan terkenal ahli strategi perang di kalangan teman-teman dan masyarakatnya. Satu di antara strategi yang pernah dilakukan dalam perang kemerdekaan Indonesia adalah “untuk mempertahankan dan melindungi wilayah Dukun dari kehancuran akibat peperangan, maka semua pejuang harus mempertahankan daerah Dukun di luar perbatasan.
Sebagai seorang kiai pemimpin pesantren, Kiai Ma’shum bukan hanya sebagai guru agama yang pintar dalam balaghoh maupun tafsir, namun juga sebagai guru keteladanan masyarakat. Oleh karenanya berbagai masalah kehidupan oleh masyarakat ditanyakan kepada beliau. Nasehat Kiai Ma’shum Sufyan yang selalu disampaikan kepada santri-santrinya adalah “jadikan dirimu bagaikan beras” artinya setiap hari selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Kalau tidak bisa jadi beras, “jadikan dirimu sebagai obat” artinya walaupun tidak dibutuhkan setiap hari, kadang-kadang dibutuhkan.”jangan sekali-kali menjadikan dirimu seperti binatang kala” artinya selalu ditakuti karena bahayanya.
Kiai Ma’shum memang termasuk kiai yang memilki kharisma luar biasa. Sambil mengajar di pondok pesantren, beliau nyambi bekerja di sawah dan tambak. Sungguh beliau salah seorang konseptor perjuangan islam yang memberikan corak kehidupan masyarakat sampai pada akhir beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Ahad Kliwon 25 Rabiul Awwal 1411 H/14 Oktober 1990.
Sumber:
Hasan Mahmud, Setengah Abad Pondok Pesantren Ihya’ul Ulum Dukun-Gresik 1951-2000. Gresik: Duta Print, 2000. 
http://pesantren-budaya-nusantara.blogspot.co.id/2011/01/kh-mashum-sufyan-sang-konseptor.html
Wawancara dengan H. A. Mulhamul Khoir, santri pendamping KH. Ma’shum Sufyan
Wawancara dengan KH. Machfudz Ma’shum (putra ketiga, dan pengasuh)
Sumber : Tasamuh.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini