Sabtu, 22 April 2017

Memilih Cara Mati

Foto: Sammar Hassan, menangis histeris setelah mobil yang ia tumpangi bersama orang tua dan kelima saudaranya dihujani peluru oleh tentara AS di pos pemeriksaan Tal Afar, Iraq. Kedua orang tuanya mati di tempat, sementara satu saudaranya, lumpuh karena terkena tembakan.

Forum Muslim - Mungkin, judul di atas terdengar absurd. Namun bagi penduduk sipil yang terjebak di wilayah konflik, tidak sama sekali.
Ada satu aspek menjijikkan dalam pola pikir media mainstream, terutama Barat, yang kini mulai menyusup ke kepala kita, menyangkut bagaimana menyikapi korban-korban sipil yang terus berjatuhan.
Pernahkah kita menonton berita kematian warga sipil di wilayah konflik yang disuarakan oleh penyiar televisi dengan nada, 'it's just another day in the middle east?'
Pernahkah jua kita menonton sebuah insiden yang kembali digelorakan siang dan malam oleh stasiun berita dan media massa, hingga kita jadi sulit tidur, dan menyimpan amarah saat terlelap?
Selagi media massa di tanah air berkiblat dan mengambil rujukan ke media mainstream, pola pikir 'bagaimana mereka mati' ini akan merasuk ke dalam bagaimana kita bereaksi.
Setiap kali mendengar kematian saudara-saudara jauh kita di sana, acapkali kita memulai tanggapan dengan pertanyaan. Bagaimana mereka mati? Apakah dengan pistol, mortar, granat? Ataukah serangan misil F16? Eksekusi publik, rajam, penggal kepala? Sarin atau klorin?
Kita tak lagi trenyuh saat mendengar fakta bahwa mereka mati karena ketidakadilan, namun tergugu saat mengetahui bahwa mereka tersedak cairan paru-parunya sendiri akibat gas kimia.
Matinya mereka, tak memiliki pengaruh apa-apa bagi kita. Namun bagaimana cara mereka mati, bisa menyulapmu menjadi orang yang 'berbeda' keesokan harinya.
'I think the price is worth it,' ujar Madeleine Albright dengan enteng, saat ia ditanya mengenai jumlah kematian sipil yang begitu besar dalam invasi Sekutu ke Iraq. Jumlah yang begitu besar, hingga media sekelas BBC, merasa harus mempertanyakan hal tersebut.
Madeleine, sekretaris negara AS kala itu, mengatakan bahwa kematian-kematian itu adalah 'justified' - dibenarkan, dan demi 'the greater good'. Kebaikan bersama.
Setengah juta anak-anak Iraq itu, mati, bukan karena peluru, granat, bom atau misil balistik. Mereka mati sebagai akibat langsung sanksi ekonomi luar biasa yang diterapkan AS ke Iraq!
Kau tak pernah berpikir sanksi ekonomi bisa membunuh, bukan?
Itu yang ingin mereka tancapkan ke dalam kepala kita. Mentalitas 'collateral damage', seperti pemakluman ribuan warga Pakistan dan Yaman, yang harus kehilangan nyawa dalam operasi 'mainan terbang' Pentagon dalam masa tugas Obama.
Namun, apa lacur. Kita begitu marah saat mendengar berita Daesh membantai tawanan dengan cara-cara mengerikan. Wajar dan sudah seharusnya kita marah. Namun sangat tidak pantas jika kita melupakan siapa yang menjadi partner utama Daesh sebagai bahaya utama bagi kemanusiaan.
Cara mati, mungkin menjadi pertimbangan utama Washington saat mereka memutuskan untuk menggelar rapat darurat di Dewan Keamanan PBB atas insiden Khan Shaykoun, yang kemudian diikuti oleh serangan 59 misil Tomahawk ke Syria.
Cara mati, mungkin juga menjadi dasar atas sikap diam AS atas kekejian yang berlaku di Rashideen terhadap penduduk Foua-Kafarya, yang menghancurkan tubuh puluhan anak-anak hingga hancur berkeping-keping.
Pemerintah AS dan perangkatnya, termasuk media, memiliki mentalitas menjijikkan yang sulit untuk ditutupi. Daesh dan AS, kini berlomba untuk menjadi pembunuh paling mutakhir. Namun, kepadamu, mereka akan tetap bersikeras, bahwa keduanya tak sama. Tentu saja, cara mereka membunuh, berbeda.
Ingatkah kamu tentang Highway of Death? Sebuah jalan raya panjang yang melintas dari ibukota Kuwait hingga Basrah, Iraq?
Pasukan Iraq yang kala itu ditarik mundur dari Kuwait, terjebak kemacetan berpuluh kilometer karena di ujung lainnya, AS mengebom aspal hingga tak mungkin dilewati kendaraan.
Saat itu, para tentara ini beranjak pulang, girang karena peperangan yang ada di depan mata dengan Kuwait (dan kemungkinan dengan Sekutu) urung terjadi.
Namun apa daya, jet-jet tempur AS menghujani mobil, truk dan tank dalam perjalanan pulang itu secara membabi-buta. Setiap mobil atau tank yang hendak keluar dari jalan raya dan menyelamatkan diri, disambut oleh artileri AS yang sudah mengepung.
Tahukah kamu apa yang diucapkan pilot-pilot AS saat melakukan kekejian ini?
"There’s just nothing like it. It’s the biggest Fourth of July show you’ve ever seen, and to see those tanks just `boom’, and more stuff just keeps spewing out of them … they just become white hot. It’s wonderful."
Baca, terjemahkan dengan Google Translate, lalu renungkan perlahan.
Namun tentu, sebagai pegiat utama Hak Asasi Manusia, Washington tidak serta merta buruk.
Dulu, pada 1998, Madeleine Albright juga sempat menunjukkan titik-titik isyarat bahwa ia juga manusia yang berhati lembut, saat ia menandatangani perjanjian 6 negara untuk melindungi kehidupan lumba-lumba.
Sayangnya, mungkin nyawa kita tak sama harganya dengan lumba-lumba itu.
Know your enemy. (Helmi Aditya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini