Sabtu, 11 Maret 2017

Cerita Jenazah Nenek yang Tidak Disalatkan di Mushola di Karet - Jakarta Selatan

Sunengsih dan foto almarhum Hindun
Forummuslim.org - Cerita soal jenazah seorang nenek bernama Hindun yang tak disholatkan di mushola jadi sorotan. Keluarga merasa Hindun ditolak disalatkan karena merupakan pendukung Ahok. Benarkah?

Sunengsih (46), putri Hindun, menuturkan ibunya meninggal Selasa (7/3) lalu. Dia menuturkan, setelah memandikan jenazah di rumah, dirinya lalu menghubungi pengurus musala Al Mu'minun yang berada di dekat rumahnya.

"Saya ngomong ke Ustaz Syafi'i (pengurus musala -red), 'Pak Ustaz ini ibu saya minta disalatkan di musala bisa nggak?' Pak Ustaz langsung jawab, 'Nggak usah, Neng, percuma. Udah di rumah aja. Entar saya pimpin'. Memang benar sih dia pimpin, saya bilang ya udah," tutur Sunengsih saat ditemui di rumahnya, Jl Kramat Raya 2, Gang CC, RT 9 RW 5, Kelurahan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (11/3/2017).

Meski menerima jenazah ibunya disalatkan di rumah, Sunengsih menyimpan penyesalan karena tak bisa memenuhi keinginan ibunya disalatkan di musala. Terlebih setelah muncul kabar musala Al Mu'minun memang menolak menyalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama.

Dua hari setelah jenazah Hindun dimakamkan, cerita Sunengsih ini mengalir dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga lurah dan camat. Lurah dan camat sampai datang ke rumah Sunengsih, yang kemudian mengadukan kabar soal penolakan menyalatkan jenazah di musala Al Mu'minun.

"Semalam sudah ngomong camat sama lurahnya, Pak Lurah ngomong ini (spanduk -red) ditutup. Kata relawan ditutup nggak bisa. Akhirnya kata Camat untuk turunkan spanduk tidak semudah itu, kita harus rembukan, segala macam. Tapi tadi katanya sudah diturunkan, saya belum lewat ke sana karena selama ibu saya meninggal saya pulang kerja selesai di rumah. Kalau saya bilang udah copot aja," ujarnya.

Singkat cerita, ada kerabatnya yang menghubungi wartawan. Berita jenazah Hindun pun tersebar dari satu grup WA ke grup WA lainnya. Wartawan lain pun berdatangan ke rumah Sunengsih.

Dari pemberitaan, Sunengsih mengetahui bahwa pengurus RT dan pengurus musala beralasan tak mensalatkan jenazah Hindun karena hujan deras. Sunengsih menepis alasan itu.

"Begitu wartawan yang mungkin udah ke sana (Pak RT dan pengurus musala -red) ya, alasannya berubah, alasan hujan deras kata Pak RT. Hujan deras? Saya bilang ke wartawan, panggil dua-duanya kemari. Waktu saya minta ibu disalatkan, posisi nggak ada hujan. Benar hujan, tapi ketika ambulans masuk TPU. Jadi hujan deras begitu mayat mau masuk TPU," tuturnya.

Sunengsih beranggapan jenazah ibunya ditolak disalatkan di musala. Soal kabar bahwa penolakan itu karena ibundanya memilih Ahok, Sunengsih menyesalkan jika memang itu alasannya.

"Kalau itu (penolakan karena pilih Ahok -red) iya benar, maka ini saya bilang disangkutpautkan ke situ. Memang pada waktu pilkada itu TPS 14 kita semua ke sana, yang nggak bisa ibu, karena sakit nggak bisa jalan," ujar Sunengsih.

Oleh karena ibunya tak bisa ke TPS, maka Tim TPS yang menghampiri ke rumah. Hindun pun mencoblos di rumah. Sunengsih menyampaikan penyesalan karena pilihan ibunya tak dirahasiakan.

"Memang tim TPS datang, yang saya dan keluarga sayangkan, kenapa kertas (surat suara -red) digelar , dilihat orang jelas-jelas, kenapa enggak ditutup?" tuturnya.

Meski demikian, Sunengsih mengakui bahwa dirinya dan keluarganya memang memilih Ahok. Dia menegaskan pilihannya itu hak politik, tak seharusnya menjadi alasan ibunya tak disalatkan.

Tetangga Sunengsih, Syamsul Bahri, menuturkan cerita berbeda. Dia mengatakan warga membantu mengurus jenazah Hindun. Warga juga datang untuk melayat.

"Waktu itu saya baru pulang dari kantor, berita duka terdengar di musala-musala RW 5. Itu pergerakan secara otomatis, kalau warga RW 5 itu untuk berita duka cepet gotong royongnya. Saya bersama pengurus masjid, Ustaz Syafii, langsung ambil pemandian mayat di masjid lainnya, kita dorong, kita siapkan, kita hubungin pemandi mayat," tutur Syamsul.

"Pemandi mayat orang PKS, tapi mereka nggak lihat pilihan, yang mandiin, papan, sampai ambulance mereka menghubungi Golkar dan PDIP itu enggak ada, lagi penuh. Akhirnya dari timses Gerindra. Dari RW punya inisiatif untuk memanggil ambulance. Akhirnya datang, ambulance Anies-Sandi. Itu kan tidak melihat perbedaan, tetap dukung, karena itu kan warga kita," sambungnya.

Soal jenazah Hindun yang tidak disalatkan di musala, Syamsul memberi penjelasan. Menurut dia, waktunya tak memungkinkan.

"Ustaznya salatin dan warga ikut salatin. Untuk klarifikasi bahwa musala tidak mau mensalati itu salah. Karena waktu yang membuat seperti itu. Kenapa? Meninggal pukul 13.30 WIB. Pemandian jam 17.00 WIB, pemandiannya, rempah-rempahnya itu butuh waktu. Abis dari pemandian selesainya jam 17.30 WIB masuk ke rumah, karena kebetulan rumahnya gangnya sempit. Warga ngelayat langsung pulang, karena kalau tidak langsung pulang rumahnya penuh," ujar Syamsul.

"Sampai situ mandiin, kafanin, doain, keluarga cium itu ada proses waktu. Kira-kira selesainya jam 18.00 WIB kurang. Cuaca waktu itu sudah gelap, mau hujan besar. Kalau kita ke musala lagi, itu akan memakan waktu, jangan sampai ke kuburan itu malam. Akhirnya inisiatif ustaz dan tokoh-tokoh abis mayat ditutup langsung disalatin di situ. Kebetulan kalau di musala jemaah kita belum pada pulang kerja, ada yang berdagang," sambung Syamsul.

"Sampai selesai salatin jam 18.00 WIB lewat, langsung ke ambulance biar enggak kemaleman, sesudah di ambulance pas perjalanan di Kuningan macet, sampai di Kuningan hujan besar itu jam 18.30 WIB. Sampai selesai jam 19.00 WIB kurang. Ada warga yang ikut ada yang enggak ikut, karena ada yang punya keperluan, jadi saya klarifikasi warga pada ikut, tokoh-tokoh juga ikut termasuk Ustaz Piih (Syafii -red) dan pengurus musala," sambungnya lagi.

Ketua RT 9 RW 5, Abdurrahman (40), mengamini semua cerita Syamsul Bahri. Dia mengatakan warga ikut membantu mengurus jenazah Hindun. Dia juga menyatakan ikut membantu surat menyurat kematian Hindun. Soal salat jenazah, Abdurrahman mengatakan bisa di musala, bisa juga di rumah. Soal salat jenazah di rumah merupakan hal biasa, menyesuaikan dengan kondisi.

"Semua, RW sini, kalau ada kejadian meninggal di rumah kalau salat bisa di rumah bisa di musala. Almarhumah Bu Hindun di rumah karena waktunya mepet kali ya," tutur Abdurrahman.

Abdurrahman memang tak ikut terlibat langsung dalam mengurus jenazah Hindun. Namun dia ikut membantu surat menyurat, termasuk soal sosialisasi di RW. Dia juga ikut membantu pembagian tugas mengurus jenazah.

Soal spanduk penolakan mensalatkan jenazah yang sempat dipasang di Musala Al Mu'minun, Abdurrahman tak mau bicara banyak. Dia mengatakan itu merupakan inisiatif warga. Namun dia mengaku tak tahu siap yang memasang.

"Dalam arti perbedaan tidak ada masalah memang berbeda-beda. Spanduk ada, ya itu jemaahnya atas persetujuan jemaah yang massa Islam mungkin," ujarnya.

Ustaz Syafii tak ada di musala, dia sedang ke luar kota sehingga belum bisa ditemui. [detik]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini