Selasa, 21 Februari 2017

Para Cendekiawan yang Dungu

Oleh : Ach. Fauzi MF.

Sejak iblis dikeluarkan dari surga, dendam kesumat untuk menyengsarakan Nabi Adam dan keturunannya tidak pernah lekang. Seperti yang telah dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur'an yang artinya:
Artinya : Iblis menjawab : "Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, maka aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al-a'raf : 007: 16-17)

Sesumbar iblis ini tidak hanya ditujukan kepada keturunan Nabi Adam yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, tapi juga ditujukan kepada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi. Imam al-Ghazali dalam karyanya Ashnâful-Maghrûrîn menyatakan bahwa terdapat sebelas kelompok orang-orang alim yang telah masuk dalam perangkap iblis. Di antara sebelas kelompok itu adalah:

Pertama, orang-orang yang mendalami ilmu-ilmu syariat dan ilmu-ilmu yang lain tapi tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa dan ia mengabaikan ajaran-ajaran syariat. Mereka adalah orang-orang berilmu yang yang ilmunya tidak bermanfaat. Mereka mengira bahwa dirinya sudah memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah sebab ilmu yang telah mereka miliki. Mereka mengklaim tidak akan mendapat siksa dari Allah dan diperkenankan memberi pertolongan terhadap hamba-hamba yang sengsara di akhirat. Mereka juga mengira bahwa segala dosa dan kesalahannya tidak akan pernah diurus oleh Allah.

Penyebab utama seseorang terjerumus dalam kubangan kelompok ini adalah karena terlena dengan kemilau dunia. Mereka mengira bahwa ilmu yang mereka miliki bisa menyelamatkannya kelak di akhirat tanpa harus diamalkan. Orang-orang ini oleh Imam al-Ghazali diibaratkan seorang dokter yang mengobati pasiennya padahal dia sendiri sedang sakit. Sebetulnya ia bisa mengobati dirinya tapi enggan melakukannya.

Kedua, kelompok yang menekuni berbagai disiplin ilmu dan tekun mengamalkannya, namun mereka tidak meninggalkan sifat-sifat tercela, seperti sifat sombong, ingin disanjung, iri dengki, mencari popularitas, dan lain sebagainya. Mereka lebih cenderung menata aktivitas lahiriah tanpa menghiraukan batiniah. Padahal, bila hati kotor, aktivitas lahiriah menjadi kurang berguna. Ibarat seorang yang terkena penyakit borok. Dokter menyarankan agar menggunakan pengobatan luar dan dalam, tapi dia hanya menggunakan pengobatan luar, sehingga tampaknya dari luar sudah sembuh tapi sebenarnya virus penyakit itu masih bersarang kuat di dalam tubuhnya.

Faktor yang menyebabkan seseorang masuk dalam golongan ini adalah karena mereka tidak mengindahkan sabda Rasulullah swt yang menjelaskan bahwa sifat-sifat di atas memiliki dampak besar dalam kehidupan seseorang. Di antara Hadis-Hadis tersebut adalah sebagai berikut :

Artinya: Riya adalah syirik yang kecil
Artinya: Iri hati akan menghapus kebaikan laksana api yang melalap kayu bakar
Artinya: Gila harta dan kedudukan menumbuhkan kemunafikan dalam hati bagaikan air yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan

Ketiga, orang-orang yang tahu tentang sifat-sifat tercela dan faham akan akibatnya, tapi karena mereka bangga dengan ilmu yang dimiliki dan amal yang dilakukan, lalu mereka mengira sudah terlepas dari sifat-sifat tidak baik itu. Mereka merasa tidak layak untuk diuji dengan sifat-sifat itu. Mereka memiliki asumsi bahwa sifat-sifat itu hanya diperuntukkan sebagai ujian bagi orang-orang yang tidak berilmu.

Orang-orang semacam ini dianggap terpedaya oleh Imam al-Ghazali karena mereka mengira apa yang dilakukannya bukanlah kesombongan dan kecongkakan melainkan sebagai penegak agama dan penyebar ilmu pengetahuan. Mereka lupa bahwa sebenarnya iblis menertawakan mereka. Mereka juga tidak mengenang bagaimana sikap tawaduk (rendah hati) yang diekspresikan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya.

Keempat, golongan yang memiliki ilmu pengetahuan dan menghiasi diri dengan nilai-nilai ibadah serta menjahui berbagai macam kedurhakaan. Mereka tekun ibadah dan tidak memiliki sifat-sifat tercela. Namun mereka tidak memperhatikan bahwa di relung hatinya masih tersisa tipu-daya setan yang bisa menghapus nilai-nilai baik yang telah mereka lakukan. Virus-virus kecil yang mampu menghancurkan nilai bakti yang besar itu adalah seperti terlintasnya rasa sombong ketika menghindar dari keramaian, menilai remeh orang lain, dan kadang-kadang memperbaik tatanan dirinya dengan tujuan agar tidak dinilai sebagai orang tertinggal, dan lain sebagainya.


Kelima, sekelompok orang yang menyibukkan diri dengan berfatwa seputar perselisihan yang kerap terjadi dan transaksi-transaksi duniawi, hingga mereka menyandang predikat al-faqîh (pakar fikih). Namun kelompok ini kadang-kadang tidak menjauhkan dirinya dari perbuatan haram, seperti tidak menjaga lidahnya dari perbuatan ghîbah (menggunjing), membiarkan barang haram masuk ke dalam perutnya, suka mendatangi para peguasa atau pejabat, memupuk rasa sombong, riya, dan iri dengki bersarang dalam hatinya.



Terdapat dua unsur pokok yang mengantarkan mereka masuk dalam golongan ini, yaitu unsur perbuatan dan unsur ilmu pengetahuan. Mereka kurang memperhatikan penyakit-penyakit yang menggerogoti dari dalam dan mengira bahwa dirinya bisa masuk dalam golongan penyelamat (al-munjî), dan bisa mengantar orang lain menuju Allah (al-mûshil) dengan cara demikian. Padahal, pangkat seperti itu (al-munji dan al-mûshil) hanya bisa dimiliki dengan rasa cinta kepada Allah.



Keenam, golongan yang senang belajar ilmu kalam, perdebatan, dan mengcounter argumen-argumen lawannya. Golongan ini juga lebih senang mendalami ilmu-ilmu kontroversial dan metode-metode perdebatan. Mereka ada yang disebut dhâllah mudhillah (tersesat dan menyesatkan) dan al-muhiqqah (jelas tersesat). Mereka tergolong sesat dan menyesatkan karena tidak menyadari kesesatan dirinya dan meyakini sebagai golongan yang selamat. Sedangkan yang jelas tersesat karena mereka menilai bahwa agama seseorang tidak akan sempurna sebelum mengadakan riset dan penelitian terhadap dalil-dalil yang menunjukkan adanya Allah, sehingga mereka menganggap orang yang mempercayai keberadaan Allah tanpa melalui riset dan dan penelitian sebagai orang yang belum beriman.



Ketujuh, orang-orang yang suka memberikan wejangan (orator) yang menganggap dirinya sudah memiliki hal-hal yang disampaikan kepada orang lain. Golongan ini dinilai Imam al-Ghazali lebih parah dan lebih sulit untuk diperingati daripada golongan-golongan sebelumnya, karena mereka merasa sudah memiliki semua perangai baik dan sebagai pecinta Allah dan Rasul-Nya, padahal mereka sebenarnya tergolong budak nafsu. Dengan arti lain mereka bersembunyi di balik layar pidatonya.



Kedelapan, golongan yang melenceng dari norma-norma sebagai pemberi wejangan. Yaitu golongan yang lebih suka memamerkan bahasa-bahasa yang berlawanan dengan aturan syariat. Mereka lebih senang dengan sastra-sastra dan syair-syair yang diungkapkannya. Mereka bangga bila di majelisnya banyak orang yang berjubel dan berbondong-bondong sekalipun melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Golongan inilah yang disebut dengan syayâtinul-insi (setan berujud manusia) yang tersesat dan menyesatkan umat.



Kesembilan, orang-orang yang tergiur dengan komentar dan perkataan orang-orang yang zuhud (tidak menyukai gemerlap dunia). Golongan ini biasanya suka berada di tengah-tengah khalayak ramai dengan meniru dan mengulang kata-kata yang dilontarkan orang-orang zuhud dengan tanpa terkendali dan mengerti maksud dan tujuannya. Mereka meyakini bahwa dirinya selamat dari siksa Allah dan mendapat ampunan-Nya karena telah menjaga dan memelihara perkataan orang-orang zuhud, padahal tak sedikitpun perkataan itu ia amalkan dalam kehidupannya.



Kesepuluh, pengisi waktu dengan cara memperbanyak mendengar dan mengodifikasikan Hadis. Golongan ini suka memiliki sanad-sanad asing hingga rela berkelana ke berbagai negeri. Namun tak satupun Hadis-Hadisnya yang diamalkan. Golongan ini ibarat hewan yang membawa gulungan daun lontar yang berisikan ajaran-ajaran Allah tapi tak satupun ajaran itu dimengerti. Mereka dinilai tersesat karena mereka tidak menggunakan kesempatannya untuk memahami dan mengerti ajarannya.



Kesebelas, orang-orang yang menyibukkan diri dengan belajar ilmu-ilmu alat, seperti gramatika Arab, ilmu syair, ilmu bahasa, dan berbagai disiplin ilmu alat lain. Golongan ini mengkultuskan diri sebagai penegak agama dan ajarannya dengan dalih ajaran agama bisa diselami lebih dalam dengan menggunakan ilmu-ilmu tersebut. Keterpedayaan golongan ini karena mereka telah menggunakan banyak waktu untuk memperdalam ilmu-ilmu alat tanpa mempelajari ilmu-ilmu agama dan ajarannya.



Nah ! lengkaplah kesebelas golongan yang oleh Imam al-Ghazali dinyatakan tertipu dan terpedaya dengan kecerdasan-kecerdasannya untuk menangkap dan menyerap berbagai ilmu zahir tanpa memperhatikan ilmu batin. Agar kita tidak tercatat dalam golongan-golongan di atas, maka hiasilah diri kita dengan ilmu-ilmu batiniah yang mampu mengekang dan mengendalikan diri kita dari berbagai perbuatan yang diprakarsai oleh setan, musuh utama kita, karena hanya ilmu itulah yang mampu menyelamatkan kita dari keabadian dan kekekalan di neraka.



Mudah-mudahan segala keterpedayaan, kelalaian dan kercerobohan kita senntiasa mendapat pengampunan dari Allah. Amîn yâ Rabbal-آlamîn. []



(Disarikan dari kitab Ashnâful-Maghrûrîn karya Imam al-Ghazali dalam bab Fashlun: fî Bayânil-Maghrûrîna wa Aqsâmi Kulli Shinfin)



Sumber : Buletin Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan – Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini