Rabu, 01 Februari 2017

Kiyai Ma'ruf Amin, NU dan Bela Islam


Oleh ; Tony Rosyid
Ketika awal membaca kabar bahwa Kiyai Ma"ruf Amin dibidik ahok, umat serasa mendapat mukjizat. Kebenaran seolah menemukan puncak eskalasi yang selama ini diperjuangkan.

Kiyai NU yg sekarang menjadi ketua MUI ini adalah icon Umat Islam. Kekuatan simbolnya melampui HRS dan sejumlah ulama yang selama ini mewakafkan diri mengambil resiko atas perjuangan bela Islam . Yg lbh menggembirakan bagi umat beliau adalah Kiyai NU, ormas yang dikenal memiliki fanatisme dan militansi berorganisasi yang sangat kuat.
Dalam tradisi pemahaman NU seringkali terbaca sensifitasnya terhadap simbol, ajaran dan tokoh NU. Sejumlah kader militan NU yg semula tidak sejalan dengan HRS dan sdh jadi kebiasaan sikapnya senang membuat pilihan sendiri dan berada di luar barisan umat, akan bersedia masuk di barisan umat, bahkan mungkin akan berada di garis depan perjuangan ketika simbol NU atau prinsip dasar Nahdhiyin disentuh.

Bagi umat Islam, ini rahmat. Masuknya NU yg notabebe adalah ormas dengan jumlah massa terbesar di negeri ini dalam barisan Umat tidak hanya akan menyatukan Umat, tetapi juga akan menyempurnakan kekuatan gerakan Umat untuk melawan kezaliman rezim yg oleh banyak kalangan bawah dan menengah, diantaranya termasuk oleh presiden ke-enam SBY telah dianggap sangat meresahkan dan melampui batas.

Proses silent conflic antara rezim dengan sejumlah lawan politiknya telah memasuki babak baru dengan ditandai munculnya para tokoh-tokoh penting dan berpengaruh di negeri ini di posisi yang berlawanan secara terang2an. Keresahan Umat selama ini memanggil mereka yang semula untuk sekedar hadir sebagai penengah dan penasehat, namun belakangan kehadiran mereka direspon dan dicurigai secara berlebihan serta diposisikan sebagai pihak yang berseberangan.

Kegalauan rezim yang teramat sensitif terhadap setiap kritik dan perbedaan justru telah mendorong terciptanya cluster politik di kubu lawan yang semakin membesar.

Serangan kepada Kiyai Ma'ruf Amin oleh rezim yang diwakili ahok merupakan ekspresi kekhawatiran tingkat dewa dalam drama pengadilan yang mulai tak terkendali. Kesaksian Ketua MUI di pengadilan yang menegaskan adanya penistaan terhadap al-Quran dan ulama oleh ahok seolah menjadi kartu troop yang menentukan arah hakim membuat sebuah keputusan hukum.

Situasi ini mengingatkan kita pada sejarah awal polri meminta dan menunggu fatwa MUI untuk menentukan penilaian kasus ahok. Setelah fatwa MUI keluar dan tidak sejalan dengan harapan sejumlah pihak, kemudian muncul pernyataan bahwa MUI menjadi sumber kegaduhan bangsa.

Pernyataan di atas memang sempat menimbulkan banyak protes, terutama dari kalangan muslim kelas menengah dan akademisi. Namun protes tersebut terlalu softly, karena MUI tidak memiliki massa pengikut fanatik, bahkan dalam beberapa hal sering diabaikan fatwa2nya.

Berbeda dengan Kiyai Ma'ruf Amin. Tokoh fenomenal ini meski dalam fatwa diposisikan sebagai tokoh MUI, namun dalam perseteruannya dengan ahok, ia adalah icon NU karena posisinya sebagai Rois Aam NU. Merendahkan Kiyai Ma'ruf Amin sama halnya dengan merendahkan NU.

Masuknya NU di dalam barisan Umat Bela Islam akan menjadi lokomotif gerakan yang merepresentasikan seluruh Umat Islam yang menjadi warga negara terbesar di negeri ini. Tidak ada lagi Umat Islam yang tersisa di luar kecuali sejumlah kecil orang yang telah dicloning oleh kepentingannya.

Gerbong Umat Islam setelah masuknya NU tidak berlebihan jika dipahami sebagai suara mayoritas rakyat yang mesti dipenuhi tuntutannya dalam sistem dan logika demokrasi. Jika suara mayoritas diabaikan atau malah ditekan, maka dalam perspektif sejarah akan potensial menjadi petaka revolusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini