Minggu, 22 Januari 2017

Transmigrasi Ilmu Dari Dunia Islam ke Eropa



Oleh: Dr Syamsuddin Arif
– Sir Isaac Newton
HAMPIR setiap orang kenal –meski hanya lewat buku pelajaran di sekolah- siapa Robert Boyle (1691), Isaac Newton (1727) atau Charles Darwin (1882). Mereka adalah saintis-saintis asal England yang namanya cukup akrab di telinga kita. Tetapi coba kita perhatikan angka-angka yang menunjuk tahun kematian mereka, niscaya timbul pertanyaan: Apakah yang dikerjakan oleh orang-orang Inggris sebelum tahun 1600?
Apakah penduduk Britania sebelum abad itu tahunya cuma berburu dan berkelahi seperti halnya bangsa-bangsa barbarik lain di Eropa?
 Dalam sepucuk surat yang ditulisnya untuk Robert Hooke sahabat karibnya, Newton sempat menyadari bahwa jika ia pandangannya menjangkau lebih jauh maka hal itu lantaran ia berdiri di atas pundak para raksasa ("If I have seen further, it is by standing on the shoulders of giants").
Pernyataan ini patut mengingatkan kita bahwa saintis tidak muncul sekonyong-konyong dari langit biru. Para saintis belajar dari apa yang diwariskan oleh para pendahulunya. Mereka mewarisi para ilmuwan terdahulu. Kalau sebelum Newton ada yang namanya Galileo Galilei (1642) dari Itali dan Nicolas Copernicus (1543) asal Polandia, dua tokoh yang kerap disebut sebagai pelopor sains modern, maka patut ditanya siapakah saintis-saintis yang giat menggarap penelitian, melakukan temuan-temuan dan terobosan kreatif-inovatif pada abad-abad sebelumnya? Sedikit sekali diantara kita yang tahu ternyata Kepler dan Copernicus itu terinspirasi oleh al-Battani yang kitabnya diterjemahkan ke bahasa Latin dengan judul De scientia stellarum.
Jawaban yang kerap kita dengar umumnya terkesan naïf dan distortif: bangsa Eropa memang sudah hebat 'dari sononya' –bermula sejak zaman Yunani kuno hingga runtuhnya imperium Romawi pada abad ke-5 Masehi diteruskan dengan 'tidur panjang' ratusan tahun lamanya sampai terbitnya cahaya Islam mengakhiri apa yang mereka sebut sebagai Zaman Kegelapan. Soal adanya 'mata-rantai yang hilang' dalam rentetan sejarah keilmuan yang mencakup filsafat, sains, dan teknologi ini belakangan mulai banyak disadari. Hal ini telah ditegaskan antara lain oleh Michael H. Morgan: "Most Westerners have been taught that the greatness of the West has its intellectual roots in Greece and Rome, and that after the thousand-year sleep of the Dark Ages, Europe miraculously reawakened to its Greco-Roman roots" (lihat: Lost History: The Enduring Legacy of Muslim Scientists, Thinkers, and Artists (Washington D.C., 2007, hlm. Xv. Tetapi pada saat yang sama terdapat upaya untuk menenggelamkan fakta sejarah ini oleh segelintir orang seperti Sylvain Gouguenheim yang sempat membuat heboh beberapa waktu lalu.
Dari Alexandria ke Baghdad
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa warisan intelektual Yunani kuno dalam berbagai cabang ilmu telah dipelihara dan dikembangkan oleh orang-orang Islam. Seiring dengan sukses mereka menyebarkan Islam ke seluruh jazirah Arabia, Afrika Utara (Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko), Syria, Palestina, Mesopotamia (Iraq), Persia (Iran), Transoxiana (Asia Tengah), semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) dan terakhir India, kaum Muslim terdorong mempelajari dan memahami tradisi intelektual negeri-negeri yang ditaklukkannya. Mulailah diterjemahkan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani (Greek) dan Suryani (Syriac) ke dalam bahasa Arab pada zaman pemerintahan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah.
Akselerasi terjadi setelah tahun 750 M, menyusul berdirinya Daulat 'Abbāsiyyah di Baghdad. Seperti dinasti sebelumnya, penguasa 'Abbasiyah banyak merekrut kaum terpelajar setempat sebagai pegawai dan staf ahli. Sebutlah, misalnya, Ibn al-Muqaffa' (w.ca. 759 M) dan Yahyā ibn Khālid ibn Barmak (w. ca. 803 M), cendekiawan dan politisi keturunan Persia yang diangkat jadi menteri pada masa itu. Lalu pada zaman pemerintahan Khalifah al-Ma'mūn (w. 833 M) digaraplah proyek penerjemahan, riset dan pengembangan secara masif. Ia mendirikan sebuah research centre dan perpustakaan yang dinamakan Bayt al-Hikmah.
Di antara mereka yang aktif sebagai penerjemah dan peneliti tersebutlah nama-nama semisal Hunayn ibn Ishāq dan anaknya Ishāq ibn Hunayn, Abu Bishr Mattā ibn Yūnus, dan Yahyā ibn 'Adī. Di akhir abad ke-9 M, hampir seluruh korpus saintifik Yunani telah berhasil dialih-bahasakan ke Arab, meliputi berbagai bidang ilmu, dari kedokteran, matematika, astronomi, fisika, hingga filsafat, astrologi dan alchemy (Lihat: Ibn an-Nadīm, Kitāb al-Fihrist, ed. G. Flügel, 2 jilid (Leipzig, 1871), 1: 248-51; Franz Rosenthal, The Classical Heritage in Islam (London, 1965); F.E. Peters, Aristoteles Arabus (Leiden, 1968); dan Max Meyerhoff, "Von Alexandrien nach Baghdad. Ein Beitrag zur Geschichte des philosophischen und medizinischen Unterrichts bei den Arabern," Sitzungs- berichte der Preussischen Akademie der Wissenschaften. Philosophisch-historische Klasse (1930): 389-429.
Maka tak lama kemudian muncullah Jābir ibn Hayyān (w.ca. 815 M), pakar kimia terkenal, al-Kindī (w. 873), ahli filsafat dan matematika, Abu Ma'syar (w. 886 M), ilmuwan astronomi, al-Khwārizmī (w.ca. 863 M), pelopor matematika modern, Ibn Sīna (w. 1037 M) begawan metafisika dan kedokteran, Ibn al-Haytsam (w. 1040 M) ahli fisika, al-Bīrūnī (w. 1048 M), pengasas anthropologi modern, al-Idrīsī (ca. 1150 M) pakar geografi, dan masih banyak sejumlah nama besar lainnya. Rincian kontribusi mereka bisa disimak dalam: The Encyclopedy of the History of Arabic Science, ed. Roshdi Rashed, 3 jilid (London, 1996); The Legacy of Islam, ed. Joseph Schacht dan C.E. Bosworth  (Oxford, 1974); Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Cambridge, 1968); Eilhard Wiedemann, Aufsätze zur arabischen Wissenschaftgeschichte, 2 jilid (New York, 1970); Edward S. Kennedy, Studies in the Islamic Exact Sciences (Beirut, 1983); J.L. Berggren, Episodes in the Mathematics of Medieval Islam (New York, 1986)..
Kegemilangan ilmiah ini berlangsung selama beberapa ratus tahun, ditandai dengan produktifitas yang tinggi dan orisinalitas yang luar biasa. Sebagai ilustrasi, al-Battānī (w. 929 M) telah mengoreksi dan memperbaiki sistem astronomi Ptolemeus, mendesain katalog bintang, merancang pembuatan pelbagai instrumen observasi, termasuk desain jam matahari (sundial) dan alat ukur mural quadrant. Kritik terhadap Ptolemeus juga dikemukakan oleh Ibn Rusyd (w. 1198 M) dan al-Bitrūjī (w.ca. 1190). Dalam bidang fisika, Ibn Bājjah (w. 1138) mengantisipasi Galileo dengan kritiknya terhadap teori Aristoteles tentang daya gerak dan percepatan. Demikian pula dalam bidang-bidang saintifik lainnya. Bahkan dalam hal teknologi, pada sekitar tahun 800an M di Andalusia, Ibn Firnas telah merancang pembuatan alat untuk terbang mirip dengan rekayasa yang dibuat oleh Roger Bacon (w. ca. 1292 M) dan belakangan diperkenalkan oleh Leonardo da Vinci (w. 1519 M).
Dari Arab ke Latin
Proses yang sama terjadi di Eropa pada abad ke-12 dan ke-13 Masehi. Karya-karya ilmuwan Muslim dalam pelbagai bidang telah diterjemahkan secara massif ke dalam bahasa Latin yang hingga abad ke-18 merupakan lingua franca sekaligus bahasa agama dan ilmu pengetahuan. Ceritanya bermula dari Perang Salib yang berlangsung antara 1096 hingga 1192 Masehi dan  Reconquista (perebutan kembali Andalusia oleh orang Kristen) yang terjadi antara tahun 790 hingga 1300 Masehi. Hubungan diplomatik dan konflik militer ini dibarengi dengan kontak intelektual dan kultural antara orang Eropa yang waktu itu masih terbelakang dan biadab dengan orang-orang Islam yang hidup makmur, terpelajar dan cemerlang di segala bidang ilmu pengetahuan. Tak heran jika kemudian orang-orang Eropa merasa perlu mempelajari buku-buku ilmiah yang ditulis orang Islam. Seperti kata Edward Grant, mereka tidak punya pilihan lain kecuali menerjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa yang mereka pahami, yaitu Latin. Sebab, kalau tidak begitu, niscaya mereka bakal terus-menerus berada di dalam jurang kebodohan:
"Latin scholars in the 12th century recognized that all civilizations were not equal. They were painfully aware that with respect to science and natural philosophy, their civilization was manifestly inferior to that of Islam. They faced an obvious choice: learn from their superiors or remain inferior forever. They chose to learn and launched a massive effort to translate as many Arabic texts into Latin as was feasible. Had they assumed that all cultures were equal, or that theirs was superior, they would have had no reason to seek out Arab learning and the glorious scientific history that followed might not have occurred."(Lihat: The Foundations of Modern Science in the Middle Ages (Cambridge, 1996), 206)
Kasus cukup menarik bisa kita lihat pada Adelard Bath (hidup antara 1080-1150 M), yang kini dijuluki 'ilmuwan pertama Inggris' (the first English scientist)–jauh sebelum Boyle dan Newton. Adelard lahir dan dibesarkan pada zaman dimana kaum bangsawan Inggris memperoleh pendidikan dan pengajaran dari guru-guru privat alias tutor, kalau bukan dari sekolah-sekolah yang ber-afiliasi ke gereja setempat. Itu pun paling banter hanya sampai tingkat menengah. Adapun untuk tingkat yang lebih tinggi, maka mereka harus merantau ke Paris, Roma, Toledo atau bahkan Timur Tengah. Tak terkecuali Adelard. 
Dikisahkan bahwa ia membawa serta murid-muridnya untuk melanjutkan pelajaran mereka di Laon, sebuah kota kecil di timur-laut Paris yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi waktu itu. Ia sendiri kemudian pergi mengembara sampai ke Antioch (Syria), Tarsus (Turki) dan Sicily (Itali)–yang hingga tahun 1072 masih termasuk wilayah Islam, dalam rangka menimba 'ilmu orang-orang Arab' (studia Arabum).
Ketika tujuh tahun kemudian Adelard pulang ke England dan bertemu lagi dengan mantan muridnya tamatan dari Laon, ia menyimpulkan kalau dibandingkan dengan ilmu orang Arab, maka ilmu orang Perancis itu ketinggalan jauh, beku dan bikin otak tumpul. "Satu pelajaran penting yang kudapat dari guru-guruku orang Arab: jadikan akal sebagai pemandu. … Apa gunanya kita punya otak, kalau tidak bisa berpikir sendiri?! (I have learned one thing from my Arab masters: with reason as guide. … So what is the point of having a brain, if one does not think for oneself?)," tukasnya. Dan ternyata Adelard bukan satu-satunya orang yang menilai kaum Muslim saat itu lebih maju dan lebih tinggi peradabannya.
Peter Abelard, teolog masyhur yang hidup sezaman dengannya pun berkesimpulan sama. Baginya, Islam itu identik dengan rasionalitas dan toleransi. Maka ketika ditekan lantaran kasus hubungan gelapnya dengan puteri seorang petinggi gereja, ia pun sempat mengancam akan pindah agama atau kabur ke negeri orang Islam yang dikenal berpikiran terbuka lagi toleran. Mirip dengan kasus Henry II, raja England, beberapa tahun sesudahnya (yaitu pada 1168), yang juga mengancam akan masuk agama Sultan Nuruddin Zangi, penguasa Aleppo, jika Paus di Roma enggan mencopot Thomas Becket dari jabatan Kepala Uskup (Archbishop) England waktu itu.
Menyadari betapa penting ilmu pengetahuan bagi setiap masyarakat yang ingin maju, kaum terpelajar seperti Adelard pun berinisiatif melakukan penerjemahan, baik secara perorangan maupun bersama. Ia sendiri mengalih-bahasakan karya geometri Euclid dan tabel astronomi al-Khwarizmi dari Arab ke Latin. Diriwayatkan bahwa Gerbert Aurillac (945-1003) yang belakangan menjadi Paus (Sylvester II), sempat mengembara ke wilayah utara Spanyol untuk belajar matematika, astronomi dan cara-cara menggunakan astrolabe yang dibuat kaum Muslim. Kemudian, masih di abad yang sama, seorang intelektual yang hanya dikenal sebagai Constantinus dari Carthago, Afrika Utara, telah memboyong buku-buku berbahasa Arab karya Hunayn ibn Ishaq, 'Ali ibn 'Abbas dan Ibn al-Jazzar dalam bidang kedokteran untuk diterjemahkannya ke dalam bahasa Latin.
Namun, proyek penerjemahan secara besar-besaran dan lebih terencana dikerjakan di Toledo, sebuah kota kecil di wilayah tengah Spanyol. Di sana Dominicus Gundisalvi, ketua gereja setempat yang hidup sampai tahun 1190, bersama cendekiawan Gerard de Cremona (1114-1187) melatinkan kitab-kitab rujukan penting berkenaan psikologi, metafisika, logika, geometri, fisika, astronomi dan kedokteran.
Selain mereka juga aktif sejumlah pakar seperti Abraham ibn Dawud (Avendauth), John dari Seville, Hermannus Alemannus dari Carinthia, Alfred Shareshill, dan Michael Scot.
Pengalih-bahasaan ini didorong oleh sejumlah faktor, antara lain semangat memburu ilmu para pelakunya, permintaan dari golongan terpelajar dari kalangan gereja maupun istana, disamping anjuran para pemuka agama Kristen agar masyarakat disuguhi bahan bacaan berbahasa Latin sebagai pengganti literatur Arab.
Gerakan penerjemahan ini belakangan diperkuat dengan keikutsertaan John Salisbury, Robert Ketton, Peter Alphonsi dan banyak lagi pada abad selanjutnya. Informasi lengkapnya dapat kita ikuti dalam: Ferdinand Wüstenfeld, Die Übersetzungen arabischer Werke in das Lateinische seit dem XI. Jahrhundert (Göttingen, 1877) dan Marie-Thérèse d'Alverny, La transmission de textes philosophiques et scientifiques au Moyen Age (Aldershot, 1994). 
SECARA kronologis tampak bahwa proses penerjemahan dari Arab ke Latin itu terjadi secara bertahap dalam kurun waktu 400 ratus tahun lamanya. Pada mulanya (yakni sekitar tahun 1150 Masehi), buku-buku yang diterjemahkan masih seputar filsafat, kosmologi dan psikologi karya al-Kindi, al-Farabi, Ikhwan as-Shafa' dan terutama Ibn Sina. Pada babak berikutnya (sekitar 1250 Masehi) keinginan untuk memahami pemikiran Aristoteles telah mendorong penerjemahan karya-karya Ibnu Rusyd baik berupa ringkasan maupun komentar panjang dan menengahnya.  Cendekiawan Yahudi turut berperan dalam gerakan ini, dimana mereka berinisiatif menulis komentar tersendiri.
Maka pada tahap sesudahnya (sekitar 1450 Masehi), tatkala kaum intelektual Eropa sedang gandrung-gandrungnya kepada teks klasik, orang-orang Yahudi menjadi sumber rujukan dan banyak menolong mereka menerjemahkan ulang kitab-kitab Ibn Sina, al-Ghazali dan Ibn Rusyd. Kemudian pada awal abad keenam belas (sekitar 1520 Masehi), karya-karya lainnya pula diterjemahkan ke dalam bahasa Latin seperti ar-Risalah as-Syamsiyyah karya al-Qazwini dan kitab Ta'lim al-Muta'allim karya az-Zarnuji. Di abad-abad berikutnya hingga zaman sekarang pun penerjemahan masih terus dilakukan, bukan ke dalam bahasa Latin tentunya, melainkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa yang lain sebagaimana kita semua maklum.
i. Periode Awal
Adalah Constantinus Aphricanus yang tercatat sebagai pelopor. Selain menguasai beberapa bahasa, Constantinus berjasa memboyong puluhan buku-buku ilmiah dari wilayah Islam ke Eropa untuk kemudian diterjemahkannya sendiri ke dalam bahasa Latin. Robert Guiscard, yang pada tahun 1075 menjadi penguasa di Salerno, mengangkat Constantinus sebagai juru tulisnya. Namun tak lama, karena kedengkian sebagian orang di sana Constantinus akhirnya memutuskan untuk pergi ke Monte Cassino dan mengasingkan diri sebagai biarawan Ordo Benedictine sampai wafatnya pada tahun 1085. Buku-buku yang ia alih-bahasakan termasuk: Liber regius (=Liber completus artis medicae qui dicitur regalis dispositio dalam versi Stephanus) karya 'Ali ibn 'Abbas (w. 994 M), yang aslinya berjudul Kamil as-Shina'ah at-Thibbiyyah dan naskahnya masih tersimpan di Basel (edisi 1539); Himpunan kata-kata Hippocrates berikut penjelasan Galen yang diberi judul Hippocratis Aphorismorum liber cum Galeni commentario; dan kitab kedokteran Abu Bakr ar-Razi yang diterjemahkan menjadi Abubecri filii Zachariae Rhasis Divisionum liber (tersimpan di Oxford Coxe Pars II. Colleg. St. Joh. Bapt. No. 85).
Demikian pula Gerard dari Cremona, yang dijuluki 'Tuan Guru' (doctus magister) di Toledo, telah menerjemahkan dari bahasa Arab ke Latin tak kurang dari tujuh-puluh buku. Termasuk diantaranya buku Analytica Posteriora, Physica, Meteorologia dan De Generatione et Corruptione karya Aristoteles, empat risalah karya al-Kindi, satu risalah Ikhwan as-Shafa' dan kitab Ihsha' al-'Ulum karya al-Farabi.
Pada saat yang sama kitab as-Syifa' karya Ibn Sina juga diterjemahkan oleh tim pakar terdiri dari Abraham ibn Dawud alias Avendauth, Dominicus Gundissalinus (1161-1181) dan Johanes Hispanus.  Mereka juga melatinkan kitab Maqasid al-Falasifah dan kitab Tahafut al-Falasifah karya Imam al-Ghazali; kitab al-Kalam fi Mahdh al-Khayr yang merupakan petikan 20 proposisi teologi Proclus dalam versi Arab, dilatinkan menjadi Liber de causis. Sebagian dari karya-karya ini lalu dijadikan bahan perkuliahan di universitas Oxford pada abad ke-12, yang salah seorang pentolannya Alfred dari Shareshill kemudian menerjemahkan karya Nicholas dari Damascus mengenai tanaman (De plantis) serta bagian mineralogi dan geologi dari kitab as-Syifa' karya Ibn Sina.

ii. Periode kedua
Penerjemahan kitab as-Syifa' yang terdiri dari ribuan halaman karya Ibn Sina itu berlanjut di abad ke-13. Kitab al-Hayawan (zoologi) karya Aristoteles dilatinkan oleh Michael Scot (w. sekitar tahun 1236), sementara kitab ilmu-ilmu alamnya (yang belum semuanya digarap oleh penerjemah sebelumnya)  yang dialih-bahasakan ke Latin adalah kitab fi as-Sama' (De caelo), al-Kawn wal Fasad (De generatione et corruptione), al-Af'al wal Infi'alat (De actionibus et passionibus), dan al-Ajram wal Atsar al-'Ulwiyyah (Meteorologia) oleh Juan Gonsalvez atas permintaan Gonsalvez García de Gudiel, Uskup Burgos (1275-1280) berdasarkan manuskrip tunggal yang tersimpan di gereja Toledo.
Namun, hasil terjemahan itu jarang dibaca. Barangkali karena karya-karya tersebut sukar dipahami apa adanya. Itu sebabnya mengapa orang Eropa itu lantas menerjemahkan buku-buku Ibn Rusyd yang dalam pelbagai ukuran memberikan penjelasan, ulasan ataupun ringkasan terhadap semua karya Aristoteles.
 Michael Scot, yang pergi meninggalkan Toledo ke Sicily, Itali untuk mengabdi kepada raja Frederick II, melatinkan sejumlah komentar panjang-lebar Ibn Rusyd atas karya Aristoteles mengenai kosmologi, psikologi, fisika, dan metafisika. Sementara itu pakar lainnya yang juga bekerja di istana itu, yakni Theodore dari Antioch, menerjemahkan bagian pendahuluan (Proemium) yang ditulis Ibn Rusyd untuk buku fisika Aristoteles, manakala William Luna mengalih-bahasakan komentar menengah Ibn Rusyd atas buku Categoria dan Peri Hermeneias karya Aristoteles serta buku Isagoge karya Porphyrius. Komentar Ibn Rusyd lainnya atas buku Rhetorika, Poetica dan Ethica Aristoteles digarap terjemahannya oleh Hermannus Alemannus sekitar tahun 1256. Karya-karya Ibn Rusyd ini tersebar luas di kalangan akademisi dan intelektual di pusat-pusat pembelajaran tingkat tinggi di Eropa. Begitu kuat dirasakan pengaruhnya sehingga rektor universitas Paris waktu itu, Étienne Tempier, yang juga merangkap ketua gereja lantas menerbitkan 'fatwa sesat' (condemnation) pada tahun 1277.

iii. Periode Ketiga
Pada masa ini yang banyak berperan sebagai penerjemah adalah para cendekiawan Yahudi. Mungkin karena kaum terpelajar Kristen ketika itu untuk sementara waktu 'tiarap' akibat 'fatwa sesat' yang dilontarkan oleh Etienne Tempier. Namun begitu, aktivitas penerjemahan berjalan terus. Hal ini diperlihatkan misalnya oleh Calonymus ben Calonymus ben Meir, intelektual Yahudi yang menerjemahkan kitab Tahafut at-Tahafut karya Ibn Rusyd untuk memenuhi permintaan Robert Anjou, raja Napoli. Tetapi yang lebih menarik lagi, mulai akhir abad ke-13 dan setelahnya, kebanyakan terjemahan ke bahasa Latin dibuat melalui bahasa Ibrani dulu, dan bukan langsung dari versi Arabnya. Sekurang-kurangnya terdapat 38 karya Ibn Rusyd yang tersimpan –yakni diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani ataupun disalin menggunakan aksara Ibrani (bukan Arab atau Romawi). Tersebutlah Jacob Anatoli dan, pada kurun selanjutnya, Moses ibn Tibbon, Levi ben Gerson (alias Gersonides), Shem Tov ibn Falaquera dan Moses Narbonsis yang masing-masing punya andil menyediakan versi Latin dari karya-karya Ibn Rusyd.
Mereka semua inilah yang memuluskan jalan bagi para cendekiawan Renaissance yang haus ilmu semacam Pico della Mirandola, Kardinal Domenico Grimani dan Paus Leo X. Tokoh-tokoh ini mensponsori penerjemahan karya-karya Ibn Rusyd oleh: (1) Elias del Medigo (komentar menengah atas Meteorologi I-II, masalah-masalah berkenaan Analytica Priora, pengantar buku Lambda dari Metafisika, komentar menengah atas Metafisika I-VII and komentar menengah atas Republica Plato); (2) Paulus Israelita (komentar menengah atas de Caelo); (3) Abram de Balmes (ringkasan dari Organon, komentar menengah atas Topica, Sophistica, Rhetorica dan Poetica, komentar panjang atas Analytica Posteriora, dan satu risalah Ibn Bajjah; (4) Johannes Burana (ringkasan dan komentar menengah atas Analytica Priora dan Analytica Posteriora; (5) Vitalis Nissus (ringkasan De generatione et corruptione); dan (6) terutama Jacob Mantinus (w. 1549).
Jacobus Mantinus yang berasal dari Tortosa ini diberi tugas oleh Girolamo Bagolino, Romolo Fabi dan Marco degli Oddi, tiga orang penggarap proyek ambisius penyuntingan seluruh karya Aristoteles lengkap dengan komentar Ibn Rusyd (dan akhirnya berhasil juga diterbitkan oleh Tommaso Giunta di Venizia pada tahun 1550-1552), untuk merevisi semua terjemahan karya Ibn Rusyd. Namun sayangnya, tatkala ia selesai melatinkan ulang sepuluh karya besar Ibn Rusyd, termasuk komentar atas 'Republica' Plato, Jacobus meninggal dalam perjalanan ke Damaskus pada 1549. Itulah sebabnya dalam edisi tersebut dicetak kedua versi lama dan baru sebagaimana bisa kita lihat sampai sekarang.

iv. Periode Keempat
 Memasuki abad ke-16 orang-orang Eropa tak surut minatnya untuk mempelajari khazanah keilmuan Islam. Sebuah buku tata-bahasa Arab beserta kamusnya karya Pedro Alcalà terbit pada tahun 1505 di Spanyol. Seorang ilmuwan Muslim yang diculik dan diberi nama baru 'Leo Africanus' oleh Paus Leo X, (disuruh) menghimpun data bibliografi karya ilmiah yang ditulis orang Islam semenjak tahun1518. Pemburuan dan pengumpulan manuskrip semakin gencar dilakukan. Naskah Arab dari Ennead IV-VI yang bertajuk Uthulujiya Aristhathalis dari  Damaskus berikut versi Latinnya oleh Moses Arovas dan Pier Nicolas Castellani diterbitkan di Roma pada tahun 1519. Masih di Damaskus, Andrea Alpago merevisi terjemahan kitab al-Qanun fi at-Thibb karya Ibn Sina dan menerbitkan dua risalah psikologi Ibn Sina yang lain. Kemudian pada tahun 1584 di Roma, Giovan Battista Raimondi berkat dukungan para Medici telah mendirikan percetakan Arab. Kajian Islam semakin marak dengan diangkatnya Guillaume Postel sebagai guru besar bahasa Arab di Paris pada 1535, Thomas Erpenius di Leiden pada tahun 1613. Adapun di Oxford, Edward Pococke menerbitkan karyanya yang berjudul Specimen historiae Arabum dan menerjemahkan novel filsafat Ibn Tufayl (w. 1185), Hayy ibn Yaqzan, yang konon menjadi sumber inspirasi bagi penulis Robinson Crusoe.

Penutup
Tak bisa kita pungkiri fakta terjadinya pertukaran, peminjaman dan saling mempengaruhi ketika dua bangsa, masyarakat atau peradaban berhubungan satu sama lain. Tidak ada peradaban yang berdiri sendiri ataupun menjiplak seratus persen peradaban lain. Sejatinya setiap peradaban memiliki ciri-ciri khas, elemen-elemen unik yang mungkin tidak terdapat ataupun tidak berkembang dalam peradaban lain. Tetapi bisa dipastikan juga terdapat unsur-unsur yang dipetik, diambil atau ditiru dari peradaban lain yang telah ada sebelumnya dan diseki-tarnya. Inilah yang dinamakan dengan teori 'interdependence' (bukan 'total dependence' dan bukan pula 'absolute independence'. Sebagaimana orang-orang Yunani kuno berhutang- budi kepada orang Mesir dan Babylonia, begitu juga orang-orang Barat (Eropa) berhutang budi kepada orang Islam. *
Penulis adalah Associate Professor CASIS-UTM Malaysia

sumber: hidayatullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini