Sabtu, 03 Desember 2016

Suka Duka di Balik “Aksi Damai 411”










Hampir dua minggu Aksi Damai 411 telah terlewati. Mungkin agak usang, tapi berangkat dari rasa ingin berbagi, maka penulis bergerak untuk menulis opini ini. Sebagai orang yang terjun langsung dalam lautan massa, sedikit banyak penulis merasakan atmosfer yang dirasakan ketika itu mulai dari masjid Istiqlal, bundaran Monas, hingga depan gedung Istana.
Sebelum hari H (4 November) penulis sudah banyak membaca di medis sosial (medsos), grup, dan televisi terkait pro kontra yang muncul tentang Aksi Bela Islam II ini. Bahkan, saudara-saudara saya (satu alumni pondok pesantren) terjadi perbincangan yang cukup alot. Ada yang berpendapat bahwa aksi demo ini merupakan aksi tak wajar. Tapi, banyak juga yang mendukungnya.
Terkait pro kontra di atas, penulis teringat dengan opini saudara Raden Ridwan Hasan Saputra dengan judul ‘IMSO dan Aksi Damai 411’ (Republika, 09/11). Dia menyebutkan bahwa cara berpikir di dunia ini ada dua, berpikir rasional dan suprarasional. Dan peserta Aksi Damai ini dipengaruhi oleh cara berpikir suprarasional. Yaitu, berfikir pada sesuatu yang tidak terukur, terkadang tidak masuk akal, tetapi hasilnya nyata. Para ulama, kiyai dan elemen masyarakat mengikuti aksi damai dengan ikhlas datang ke Istiqlal untuk menuntut seseorang yang dianggap penista al-qur’an. Tujuannya bukan semata-mata materi tetapi nilai-nilai tertentu yang diyakininya. Dan Aksi Damai 411 ini ternyata punya dampak tak terduga sebelumnya oleh banyak orang.
Kembali ke permasalahan awal kondisi demo pada 4 November kemarin. Penulis merasakan sendiri kumpulan manusia dari segala penjuru Indonesia yang berpusat di sekitar bundaran Monas dan masjid Istiqlal. Mulai dari Medan, Aceh, Makassar, dan bahkan yang membuat mata penulis berkaca-kaca ada utusan dari Madura, yang nota bene adalah tanah kelahiran penulis sendiri. Kemudian saya bergeming, bagaimana saudara-saudara kita menjalani perjalanan berhari-hari dengan modal sendiri. Tidak hanya mengorbankan materi tapi juga harus meninggalkan anak dan istri. Dan ini yang dimaksud dengan cara berfikir suprarasional yang tak semua orang bisa merasakan.
Penulis memang hanya dua kali mengikuti aksi demo. Pertama di Bekasi kala aksi demo pabrik baja dan kedua Aksi Damai tanggal 4 November ini. Sangat dirasakan aksi demo kali ini memang benar-benar berbeda, penuh kedamaian. Penulis mengatakan demikian bukan hanya menerima informasi dari media-media yang belum valid shahih tidaknya. Tetapi sekali lagi, karena penulis terjun langsung di lapangan kala itu.
Masih jelas betul bagaimana para pendemo saling bahu membahu memungut sampah di jalanan. Ada yang memegang karung dan plastik besar untuk dijadikan tempat sampah. Ada yang menggenggam sekop dan sapu lidi. Larangan untuk menginjak tanaman selalu mereka dengungkan demi menghilangkan stigma negatif yang telah diisukan oleh salah satu channel televisi tak bermoral.
Shalawat dan takbir bergemuruh di titik pusat ibu kota. Bahkan, dengan aparat sekali pun para pendemo tidak ada kesan anarkis. Para polwan (polisi wanita) dengan senyumannya berbagi air mineral dengan para demonstran yang foto-fotonya pun ramai di media. Ini mengindikasikan bahwa peserta demo adalah manusia yang beradab.
Ada suatu moment yang sungguh menggetarkan hati dan menurut hemat penulis peristiwa ini tidak banyak yang mengetahuinya, begitu juga media. Ketika para demonstran berbondong-bondong pergi ke masjid Istiqlal untuk melaksanakan shalat jumat. Ada pemandangan lain di taman depan gedung istana.
Ada sekitar seribu pendemo yang melaksanakan shalat jumat di sana. Para polri pun berbaur untuk melaksanakan shalat jumat bersama. Salah seorang polri bertugas menjadi muadzin (yang mengumandangkan adzan). Dan bahkan khotib yang berasal dari salah satu pendemo menyampaikan khotbah dari atas mobil Barracuda milik polisi. Sungguh ini merupakan peristiwa langka dan sangat jarang terjadi sebelumnya. Ini adalah bukti betapa harmonisnya jalinan tali persaudaraan antar pendemo dan aparat keamanan.
Walaupun ada sedikit kericuhan pada waktu malam, hal ini bukan karena ulah para pendemo, akan tetapi ulah provakator yang ingin menodai aksi damai bela islam 2 ini. Dari foto yang beredar sangat jelas bahwa penyebab kericuhan buka berasal dari peserta demo. Hal ini terbukti karena para demonstran kala itu dianjurkan memakai pakaian putih. Sedangkan di foto tampak bukan dari peserta demonstran.
Tapi, secara umum aksi 411 kemarin adalah aksi damai yang tujuannya satu, yaitu agar memproses gubernur Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait penistaan agama yang dilakukannya pada 28 September lalu di kepulauan Seribu, bukan untuk bertindak radikal dan anarkis. Setidaknya aksi bela islam 2 ini telah membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama damai buka agama penuh kekerasan seperti yang telah diprediksikan oleh orang-orang anti islam. Sungguh bangga, bahagia dan penuh suka cita menyaksikan semua ini di depan mata.
Namun, di balik kebahagiaan tersimpan kekecewaan yang sangat mendalam. Telah menjadi saksi bersama bahwa demo yang berkisar jutaan orang tidak mendapat perhatian dari bapak Presiden. Presiden lebih sibuk mengontrol proyek dari pada mendengarkan jeritan hari rakyat. Ibarat menggosokkan garam di atas luka yang menganga, sikap apatis presiden sudah cukup menusukkan belati di hati para rakyat yang haus keadilan.
Padahal, aksi ini hanya meminta keadilan dari pemangku kekuasaan di negeri ini. Bahwa, siapa pun yang bersalah harus diproses hukum tanpa pandang bulu. Maka, tak salah jika sikap presiden mendapat respon negatif dari masyarakat seluruh negeri ini. Orang nomor satu di Indonesia ini terkesan melindungi Basuki Tjahja Purnama. Ah sudahlah, bukan suatu hal yang baru penguasa selalu terkesan adigang, adigung, adiguna.
Yang jelas penulis tidak paham apa yang ada di benak bapak Presiden. Penulis tidak akan membahas terlalu lebar tentang arah kebijakannya. Biar masyarakat sendiri yang mengkaji dan menganalisisnya. Yang terpenting saat ini, karena hanya ulah satu orang, jangan sampai saudara seiman dan seagama bercerai-berai apalagi bermusuhan. Tugas kita sekarang bagaimana negeri ini sehat dan aman dari segala makar yang dapat merusaknya. Mengutip perkataan kiyai Abdullah Gymnastiar dalam acara ILC (Indonesia Lawyer Club) yang bertema ‘Setelah 411’, sebaiknya kita fokus pada tiga hal. Pertama, kita harus punya semangat bersaudara. Kedua, semangat kita semangat solusi. Dan ketiga, semangat sukses bersama. Wallahu a’lam bisshowab. (dakwatuna)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini