Jumat, 09 Desember 2016

Sebuah Catatan Ide Gila Santri Ciamis Jalan Kaki Menuju Jakarta Untuk Melakukan Aksi Super Damai 212 (5)












Akhirnya tepat jam 17.00 kita sampai ditujuan pertama Pesantren
Miftahul Huda Usmaniyah. Di sana seluruh santri sudah berjejer dengan
masyarakat menyambut kafilah mujahid sambil mengacungkan tangan takbir
menggema. Peserta merasa gembira karena banyak kaum anshor datang
menyambut dengan hangat.

Peserta istirahat di Pesantren Cikole sekalian solat magrib dijamak
dengan isya. Di sana sudah Ada KH Syarif Hidayat pimpinan pesantren Al
Hasan yang menyambut. Beliau baru datang dari Jakarta dan langsung
bergabung dengan kafilah. Wartawan berkerumun menanyakan apakah
perjalanan dilanjut atau hanya sampai sini. Saya menjawab nanti
keputusannya sesudah sholat magrib.

Saya betul-betul dibuat sibuk dan harus bertanggung jawab pada seluruh
peserta plus melayani wartawan. Beres solat magrib kita melakukan
rapat dengan Kiyai Maksum dan sesepuh pesantren lainnya.
Keputusannya,, peserta bermalam di Cikole dan perjalanan dilanjut
besok pagi, dan untuk santri putri juga anak santri yang sambil
sekolah dikembalikan ke pondok masing masing, jumlahnya ada sekitar
3500 orang. Semua pimpinan masuk mesjid dan kita mengumumkan hasil
keputusan rapat di hadapan peserta dan wartwan. Pekik takbir menggema
setiap point keputusan dibacakan. Jam 19.00 para pimpinan pesantren
banyak yang idzin balik ke pondok dulu dan berjanji besok pagi
bergabung lagi dan hanya tinggal saya seorang diri yang menjadi pusat
komando. Waktu semakin larut malam, lelah dan ngantuk mulai menyerang,
saya merebahkan diri ke karfet masjid berbantalkan ransel yg agak
basah, puless tak ingat apa-apa,,

Waktu menunjukan pukul 06.00, santri sudah siap lagi untuk melanjutkan
perjalanan, tapi Kiyai Maksum sebagai sohibul bait masih menahan
keberangkatan kami dari Pondok Pesantren Cikole yang terletak di
Kecamatan Cihaurbeti itu, beliau mengatakan "tidak boleh berangkat
sebelum sarapan dulu". Terlihat di dapur pesantren pengurus santri
sangat sibuk mempersiapkan makanan. Teteh istrinya Kiyai hilir mudik
konsolidasi kesiapan piring dan tektek bengeknya. Hati saya berkata
aduhh kok jadi ngerepotin orang, tapi dari tampak wajahnya semuanya
memancarkan wajah gembira, maklum keluarga pejuang bagi beliau-beliau
hal itu bukan beban melainkan anugerah.

Tibalah saatnya semua peserta Jalan kaki sarapan pagi, maklum
jumlahnya ribuan tidak semuanya kebagian piring sehingga banyak di
antara mereka makan beralaskan daun pisang yang diambil di kebun Kiyai
bahkan banyak pula yang pakai plastik mereka tak peduli, yang penting
perut terisii.

Tepat jam tujuh saya umumkan semunya siap-siap berangkat, namun tidak
boleh meninggalkan sampah secuilpun. Sambil jalan mereka pungut sampah
serempak sehingga lingkungan pondok bersih nyaris tanpa meningalkan
sampah.
Kiayi Maksum berjalan paling depan dekat Mobil komando, seluruh santri
Cikole putra putri ikut bersama rombongan dan saya agak belakangan
dengan maksud menyapu peserta takut ada yang ketinggalan. Hebatnya
banyak ibu-ibu yang umurnya sudah di atas 60 tahun ikut kafilah
mengantar sampai ke perbatasan Tasikmalaya. Dengan setamina yang masih
segar bugar kita terus berjalan menyusuri Jalan utama. Selang beberapa
menit Kiyai Titing gabung lagi dan kita sepakat berjalan pada shaf
paling depan untuk memberikan motivasi para santri agar tetap
semangat.

Tiga puluh menit berjalan sampailah kita di perbatasan Tasikmalaya, di
sana sudah banyak sekali masyarakat yang menyambut kami sepanjang
perjalanan plus aneka makanan dan minuman. Bahkan ribuan santri dan
anak-anak sekolah berjejer baris menyemangati kami dengan pekikan
takbir dan nasyid perjuangann makin semamgat kita berjalan. Di daerah
Tasik saya dipeluk seorang kyai sambil menangis haru, saya tak kuat
menahan air mata sehinga kami berpelukan saling mendoakan, dia berkata
" teruskan perjuanganmu saudaraku, saya menyusul hari jumat,,". Saya
menjawab "mohon doanya aja,,". Sambil salaman dia ngeluarin amplop
dari saku bajunya dan mengatakan ini tambahan amunisi untuk berjuang.
Makin tak kuat saya merasakan betapa hebatnya denyut iman menumbuh
ukhuwah.
(sumber : facebook.com/nonop.hanafi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini