Jumat, 23 Desember 2016

Prahara Aleppo (2)



brookingsThe NGOs

Berbagai NGO (Non-Government Organization) atau LSM, bersama lembaga-lembaga “think tank” (pusat studi) memiliki rekam jejak dalam upaya penggulingan rezim di berbagai penjuru dunia. Di Mesir, misalnya, aksi-aksi demo penggulingan Mobarak dimotori oleh aktivis NGO yang dilatih oleh AS (melalui Freedom House dan National Endowment for Democracy/NED) agar mahir menggalang massal. FH dan NED (dan LSM bernama CANVAS) juga bermain di Suriah. Bedanya, bila di Mesir aksi demo bisa tereskalasi (jumlah pendemo sangat masif) sehingga Mobarak terguling dengan mudah, di Suriah modus ini gagal total. Yang muncul malah demo tandingan yang jauh lebih masif, menunjukkan dukungan kepada Assad.[1] Kejadian sama juga terlihat di Libya, aksi demo tidak pernah tereskalasi, bahkan yang terjadi demo luar biasa besar di Tripoli mendukung Qaddafi. [2]

Nah karena aksi demo “damai” tidak berhasil di Libya dan Suriah, masuklah para jihadis untuk melakukan tugas mereka. Kali ini tentu saja mereka tidak membawa isu demokrasi, melainkan khilafah (dan khusus di Suriah, mereka membawa isu Sunni-Syiah, yang terbukti sangat efektif dalam menggalang pasukan dan dana dari seluruh dunia). Terbukti, ketika khilafah terbentuk di Libya, tetap saja kapitalis Barat yang menguasai ekonomi; sang khalifah sibuk bertempur melawan rakyatnya, serta melebarkan sayap pertempuran ke Suriah.

Jadi, dalam menganalisis soal Suriah, penting untuk menoleh tajam ke arah NGOs dan think-tank yang berkeliaran di sana (atau bersuara berisik dari luar negeri). Di awal konflik, Amnesty International dan Federation of Human Rights (FHR) menggalang aksi demo massa di jalanan Paris dengan membawa bendera Suriah era mandat Prancis (hijau-putih-hitam). FHR didanai oleh NED. Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, yang awalnya ditugasi menjadi mediator perdamaian di Syria, ternyata adalah trustee (penasehat) di International Crisis Group (ICG), bersama tokoh-tokoh Zionis, seperti George Soros, Zbigniew Brzezinski, dan Shimon Peres. Brooking Institution juga berperan, antara lain menerbitkan desain perubahan rezim di Libya, Suriah, dan Iran. Baik NED, ICG, Brooking, dll, didanai oleh Big Oil (Conoco-Philips, Chevron, ExxonMobil), Coca Cola, Bank of America, Microsoft, Standard Chartered, Citigroup, Hilton, McDonald, GoldmanSach, dll. (Note: Goldman Sachs dan Rockefeller juga berada di belakang MSF, baca Aleppo-1).[3]

Ada dua LSM yang sering sekali dikutip media Barat (dan media jihad), Syrian Observatory of Human Rights dan Syrian Network of Human Rights yang berkantor di Inggris. Keduanya seolah paling tahu atas setiap serangan, jumlah korban, nama-nama, dan berbagai hal soal Suriah (dan datanya jelas beda dengan data yang dimiliki media-media alternatif). Donaturnya, Uni Eropa dan Soros. Silahkan browsing, rekam jejak Soros dan upaya penggulingan rezim di berbagai negara, terutama Eropa Timur (juga penggulingan Soeharto). Soros juga ada di balik CANVAS. Aliran dana untuk the White Helmets juga terlink dengan Soros (baca Aleppo-2).

Semua data yang saya tulis di bagian 1,2,3 hanya sebagian kecil saja dari sangat banyak bukti link antara upaya penggulingan rezim dengan kekuatan kapitalis global yang sebagian besarnya orang Zionis. Merekalah yang kini sedang berupaya keras menggulingkan Rezim Suriah, dengan memanfaatkan muslim naif yang mau diiming-imingi janji bidadari surga (pahala jihad), serta sebagian muslim lainnya yang dengan sukarela menyebarkan berita bohong tentang jihad palsu ini sambil merogoh koceknya untuk menyumbang. [4]

——

[1] https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/03/29/tangan-terkepal-di-syria/

[2] Ini rekaman demo pro-Qaddafi (mulai 2:03, perhatikan menit suara Qaddafi yang terbata-bata dan tercekat karena terharu melihat dukungan rakyatnya).


-Ini video kompilasi data-data soal Suriah (perhatikan pidato emosional Syekh Hassoun, mufti Suriah (Sunni) saat pemakaman anaknya yang dibunuh jihadis/teroris)

[3] Sulaeman, Dina. 2013. Prahara Suriah. Jakarta: IIMaN

[4]Alasan kapitalis global ingin menggulingkan Assad: faktor Israel (Assad selama ini penyuplai logistik untuk pejuang Palestina) dan migas.

Penggalangan dana juga dilakukan di negara-negara Barat, antara lain oleh The White Helmets (yang terlink dengan jihadis, baca Aleppo-2).

 


MSF (Médecins Sans Frontières atau Dokter Without Borders) oleh sebagian orang dikenal sebagai LSM yang baik karena menolong orang di berbagai wilayah konflik. Tapi kiprahnya di Suriah terlihat “aneh”, namun ini bukan kejutan bagi yang terbiasa melihat siapa di balik apa [1]

Berikut ini hal-hal mencurigakan di balik “dibom”-nya RS Al Quds yang bikin banyak orang Indonesia histeris dan berteriak “save Aleppo”. (Ya, Aleppo memang harus diselamatkan, tapi dari cengkeraman mujahidin dan NATO; sementara mereka yang histeris itu mengira Aleppo harus diselamatkan dari “kekejaman Assad dan Rusia”). Saya sarikan dari tulisan Rick Sterling, jurnalis independen asal AS yang terjun langsung ke Suriah (dan bahkan anaknya pun lahir di RS Al Dabeet di Aleppo yang pada 3 Mei 2016 dibom mujahidin).[2] Di catatan kaki, saya tambahkan berbagai info.

RS Al Quds (RSQ) diklaim sebagai RS tempat beroperasinya MSF. Pada tanggal 27 April, konon RSQ dibom. Staf MSF Pablo Marco, saat diinterview oleh CNN dan PBS Newshour pada 28 April, mengatakan, “Ada 2 barrel bombs yang jatuh dekat RSQ, lalu bom ketiga jatuh di pintu depan RSQ”. Tetapi, press rilis MSF justru kontradiktif, “RSQ dihancurkan oleh minimalnya 1 serangan udara yang secara langsung menimpa bangunan dan membuatnya jadi puing2 (rubble).” Tapi foto yang ditunjukkan tidaklah berupa “puing-puing”. Versi berita mana yang benar?

Jumlah korban bervariasi, mulai dari 14, lalu muncul berita, lebih dari 50, mana yang benar?
Staf MSF, Pablo Marco dan Muskilda Zancada menyatakan serangan pada RSQ adalah serangan yang disengaja karena ‘RSQ sudah berfungsi sejak 4 tahun yll, tidak mungkin [pengebom] tidak tahu’. Sebaliknya, Sterling menemukan bahwa umumnya warga Aleppo tidak pernah mendengar nama RSQ. Kalau benar RSQ ada, seharusnya MSF punya foto dan dokumen bahwa di lokasi itu benar ada rumah sakit dengan 34 tempat tidur perawatan (seperti yang diklaim MSF). Yang terlihat dari foto adalah kemungkinan bahwa RSQ sekedar klinik medis yang beroperasi di bawah tanah di sebuah apartemen rusak. [3]
Kementerian Pertahanan Rusia, segera setelah dituduh mengebom RSQ, merilis foto satelit yang memperlihatkan bahwa gedung yang diklaim sebagai RSQ dalam kondisi kerusakan yang sama seperti foto pada Oktober 2015. [4]
Banyak video dari RSQ yang menampilkan anggota the White Helmets. [5] Bila dibandingkan antara video serangan ke RSQ dengan video serangan mujahidin ke kawasan Aleppo barat, termasuk RS Al Dabeet, terlihat bedanya antara serangan ‘asli’ dan serangan ‘buatan’. [6]
MSF di Suriah disebut-sebut didanai pemerintah Kanada. Kanada sendiri pernah mengakui pada 2012 bahwa “alasan mengapa $2 juta disalurkan lewat Canadian Relief for Syria, bukan kepada PBB atau Palang Merah Intl, adalah karena memang bantuan itu dimaksudkan untuk kelompok-kelompok oposisi dan bukan bantuan kemanusiaan.” [7]
Video kematian ‘dokter anak terakhir’, Dr. Moaz, yang menjadi viral, sangat mencurigakan. Disebutkan bahwa video itu rekaman CCTV pada detik-detik sebelum RSQ diserang bom. Aneh sekali bila gedung RSQ hancur jadi puing, tapi kamera CCTV tetap selamat.

[ Dina Sulaeman ]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini