Minggu, 18 Desember 2016

Iran akan Bangun Kapal-Kapal Bertenaga Nuklir





Iran bertekad akan membangun kapal bertenaga nuklir sebagai langkah balasan atas pelanggaran kesepakatan program nuklirnya oleh Amerika. Demikian seperti dilaporkan kanto beritaAFP, 13 Desember lalu, dengan mengutip pernyataan Presiden Iran.

 Dalam pidato yang disiarkan televisi Iran, Presiden Hassan Rouhani, hari Selasa (13 Desember), memerintahkan para ahli Iran untuk membangun kapal-kapal yang digerakkan oleh energi nuklir sebagai respon atas ditetapkannya sanksi-sanksi baru oleh Amerika terhadap Iran.

Menurut Rouhani, hal ini adalah pelanggaran nyata terhadap kesepakatan internasional mengenai program nuklir Iran tahun lalu. Dalam pidatonya itu Rouhani meminta para pakar nuklir Iran untuk 'merencanakan produksi dan disain reaktor-reaktor nuklir untuk transportasi laut'. Ia juga mengatakan telah memerintahkan Menteri Luar Negeri untuk melayangkan protes kepada komisi internasional yang mengawasi perjanjian nuklir Iran. Di bawah kesepakatan yang ditandatangani Iran bersama negara-negara besar (Amerika, Rusia, Cina, Inggris, Perancis dan Jerman) pada Juli 2015, negara-negara internasional sepakat untuk mencabut sanksi-sanksi terhadap Iran setelah Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya hingga tidak memungkinkan Iran membuat senjata nuklir. Namun, para anggota Congress Amerika baru-baru ini memilih untuk memperpanjang sanksi terhadap Iran yang sudah berumur selama 10 tahun, dengan alasan Iran telah melanggar larangan ujicoba rudal ballistik dan pelanggaran HAM.  Presiden Obama diperkirakan akan menandatangani sanksi tersebut dalam beberapa hari mendatang.

 Para anggota parlemen Iran telah mendukung rencana pembangunan kapal-kapal bertenaga nuklir pada tahun 2012 lalu, saat ketegangan dengan Amerika dan negara-negara barat pada posisi tertinggi, terkait dengan program nuklir Iran. Times of Israel menyebut bahwa pengumuman Rouhani tersebut sebagai 'gertak sambal belaka', mengingat bahwa pembangunan reaktor nuklir untuk transportasi laut membutuhkan biaya besar dengan keuntungan tidak seberapa. Namun, pada tahun 2012 kepala program nuklir Iran Fereydoon Abbasi Davani mengatakan bahwa Iran mampu untuk membangun reaktor nuklir untuk kapal, namun belum ada rencana untuk merealisasikannya.

 Paska penandatanganan kesepakatan program nuklir Iran, negara itu telah menerima peningkatan pendapatan sektor migasnya. Namun, harapan Iran untuk mendapatkan investasi asing ke dalam negeri terhambat oleh sanksi-sanksi yang masih diterapkan Amerika. Bank-bank internasional menolak terlibat dalam pembiayaan proyek-proyek di Iran karena khawatir dengan sanksi Amerika. 


Kegagalan implementasi perjanjian nuklir Iran telah membuat kredibilitas Hassan Rouhani melorot, meski awalnya ia mendapat dukungan publik setelah penandatanganan kesepakatan program nuklir Iran. Ia dituduh telah memberikan konsesi terlalu banyak kepada Amerika, khususnya, tanpa imbalan yang memadai. Untuk menghindari kecaman-kecaman itu, ia pun berdalih bahwa setiap tahap perundingan tentang program nuklir Iran dengan negara-negara besar telah dikonsultasikan dengan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sementara Khamenei sendiri di depan publik sering mengingatkan Rouhani untuk tidak terlalu percaya dengan Amerika, khususnya dalam perundingan program nuklir Iran.(ca)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini