Minggu, 18 Desember 2016

Hukum Menggunakan Uang Orang Lain yang Tertinggal Tanpa Izin

Terkait hukum menggunakan uang orang lain yang tertinggal tanpa izin
sedangkan kita tidak lagi mengetahui keberadaan pemilik uang atau ahli
warisnya, ulama secara jelas menyatakan bahwa kita tidak boleh
menggunakan harta yang bukan milik kita tanpa izin semacam akad tawkil
dan akad lain sejenis, atau semacam surat kuasa.

Para ulama menyebut penggunaan harta yang bukan milikinya dengan
istilah tasharruf fudhuli (pengelolaan yang berkaitan dengan urusan
orang lain) yang jelas tidak sah. Tetapi para ulama mewajibkan orang
yang menggunakan harta orang lain untuk mengganti kerugian dari harta
tersebut.
Kewajiban seseorang mengembalikan harta milik orang lain disebutkan
secara jelas oleh Imam Al-Ghazali dalam karyanya Minhajul 'Abidin yang
kami kutipkan berikut ini.


فما كان في المال فيجب عليك أن ترده عليه إن أمكنك فإن عجزت عن ذلك لعدم
وفقر فتستحل منه فإن عجزت عن ذلك لغيبة الرجل أو موته وأمكن التصدق عنه
فافعل وإن لم يمكن فعليك بتكثير حسناتك والرجوع إلى الله بالتضرع
والابتهال أن يرضيه عنك يوم القيامة


Artinya, "Adapun yang berkaitan dengan harta, Saudara harus
mengembalikannya kepada pemiliknya jika mungkin dilakukan. Kalau tidak
sanggup karena ketiadaan dan fakir, saudara harus meminta kerelaannya.
Kalau tidak sanggup karena yang bersangkutan entah di mana atau sudah
wafat, maka sedekahlah yang pahalanya ditujukan untuk yang
bersangkutan jika mungkin. Tetapi kalau itu pun tidak mungkin,
perbanyaklah berbuat baik dan bertobat kepada Allah dan memohonlah
kepada-Nya agar di hari Kiamat kelak yang bersangkutan merelakan
haknya yang ada padamu," (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Minhajul Abidin,
Semarang, Karya Toha Putra, tanpa tahun, halaman 11).

Dalam konteks kita memegang uang seseorang yang sudah kehilangan jejak
dimana alamat yang bersangkutan. Tentu sebelumnya kita harus berupaya
mencari tahu alamat atau kontak yang bersangkutan. Kalau sudah
betul-betul kehilangan jejak, kita bisa menggunakan uang orang
tersebut dengan catatan menggantinya ketika yang bersangkutan kembali
ke tempat kita.
Sesuai dengan saran Imam Ghazali, kita dapat menyedekahkan uang
tersebut dengan niat pahalanya diperuntukan bagi yang bersangkutan.
Kalau pun kita tidak mampu, kita bisa memperbanyak kebaikan yang
pahalanya ditujukan bagi orang yang bersangkutan.

Imam Al-Ghazali lebih jauh menyarankan secara teknis bahwa kalau
dengan mengembalikan uang yang jumlahnya tidak seberapa misalnya akan
mengundang fitnah atau mendatangkan mudharat yang kemungkinan terjadi
seperti pembunuhan dan lain sebagainya, kita sebaiknya tidak perlu
mengembalikan. Tetapi kita cukup berbuat baik yang banyak yang
pahalanya untuk orang tersebut. Kita juga harus bertobat dan berdoa
kepada Allah dengan harapan yang bersangkutan tidak menuntut haknya
kepada kita di akhirat kelak.

Tapi cara yang difatwakan oleh Imam Al-Ghazali ini hendaknya tidak
dijadikan jurus andalan bagi kita untuk menzalimi hak milik orang
lain. Teknik tawaran Imam Al-Ghazali ini merupakan langkah darurat dan
jalan alternatif terakhir.
(Alhafiz Kurniawan, nu.or.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini