Sabtu, 17 Desember 2016

Halusinasi Buya Syafi'i Ma'arif, Antara Buih dan Air



Sebuah status Fb milik seorang Ahoker non-Muslim menjadi viral di
medsos. Dalam status tersebut, Ahoker wanita ini dengan jujur
mengungkapkan kebenciannya pada orang-orang Muslim yang menjadi
pendukung Ahok namun tetap mempertahankan baju Islam-nya. Menurutnya
hal itu merupakan bentuk kemunafikan dan pengkhianatan.
Salah satu 'halusinasi' para penganut Islam liberal adalah bahwa sikap
mereka mendukung kelompok-kelompok minoritas non-Islam telah membuat
mereka dicintai orang-orang non-Islam. Saking kuatnya 'halusinasi'
tersebut hingga mereka dengan terang-terangan telah menselisihi Al
Qur'an yang telah mengingatkan bahwa orang-orang non-Islam tidak
pernah senang dan ridho kepada mereka hingga mereka meninggalkan
Islam.
'Halusinasi' serupa telah menjangkiti mereka, orang-orang Islam yang
telah menjadi pendukung Ahok. Seperti Buya Syafi'i Ma'arif yang telah
menulis opini di Republika berjudul Antara Buih dan Air. Mereka
menyangka telah melangkah di jalan Tuhan, sementara sebenarnya mereka
telah melangkah di jalan Iblis. Sebagaimana Iblis yang juga
berhalusinasi sebagai mahluk paling mulia. Padahal Tuhan telah
menetapkan manusialah yang paling mulia di antara semua mahlukNya.


Buya Syafi'i Ma'arif memang masih cukup sopan dengan tidak mengklaim
pendapatnya tentang perumpamaan air dan buih dalam tulisannya di
Republika beberapa waktu lalu sebagai pihak yang membela Ahok dan yang
menolak Ahok. Namun, tentu saja secara tersirat, dan itu adalah
esensinya, ia telah mengklaim bahwa dirinya dan para pembela Ahok
sebagai air dan para penentang Ahok sebagai buih. Lihat saja
tulisannya: "Teologi semacam ini muncul ke permukaan pada saat orang
merasa berada dalam posisi tak berdaya. Karena tidak berdaya, akhirnya
menjadi kalap dalam suasana mental yang sangat labil dan memilukan.
Sebagian dunia Muslim sedang berkubang dalam suasana mentalitas kalah
ini. Buih disangka air."

Dari tulisan itu tampak jelas bahwa Buya Syafi'i Ma'arif menganggap
ummat Islam sebagai ummat yang tidak berdaya dan sebagai
konsekuensinya segala pemahaman mereka tentang segala hal serba salah.
Termasuk pemahaman tentang kasus penistaan Al Qur'an oleh Ahok. Ini
berangkat dari mental beliau yang masih mengidap sindrom 'inferior
complex', yaitu orang-orang yang berasal dari kalangan marginal yang
tiba-tiba masuk ke lingkaran kekuasaan. Dalam budaya Jawa disebut
dengan istilah 'kere munggah bale'. Orang-orang yang mengidap penyakit
ini akan melihat masa lalunya, lingkungan asalnya beserta semua
isinya, termasuk manusianya, adalah dalam keterbelakangan dan
kebodohan. Di sisi lain ia melihat lingkungan barunya sebagai
kemajuan.


Seperti sudah pernah ditulis oleh politisi Golkar Indra Piliang, Buya
Syafi'i Ma'arif berasal dari sebuah dusun terpencil di Sumatera Barat
yang bahkan belum memiliki aliran listrik. Namun kemudian ia berhasil
memasuki lingkungan baru yang jauh lebih maju, kuliah di kota besar
hingga mancanegara, kemudian menjadi tokoh masyarakat yang dihormati.
Sayangnya, banyak orang yang tidak siap mental menerima kemajuan yang
serba cepat seperti ini. Mereka menjadi sombong karenanya. Mungkin
saja Buya Syafi'i Ma'arif bukan orang yang matre dan korup seperti
pengakuan Indra Piliang, tapi yang pasti ia sangat menikmati
kemasyuran dan penghormatan yang diterimanya, sehingga terbuai dan
terus berhalusinasi. Lihatlah, bagaimana ia menyambut kedatangan
Jokowi ke rumahnya pada masa kampanye pilpres 2014 lalu. Meski ia
tidak mengetahui pasti masa lalu Jokowi dan yang pasti Jokowi bukanlah
seorang tokoh di bidang tertentu kecuali orang yang beruntung bisa
mendapat tiket sebagai calon presiden, namun Buya Syafi'i Ma'arif
menyambutnya bak seorang anak kandung yang sangat disayanginya. Buya
Syafi'i Ma'arif menghormati Jokowi bukan karena prestasinya karena
memang Jokowi belum berprestasi, atau karena ketinggian ilmunya,
melainkan karena menganggap Jokowi adalah sesama anggota klub
eksklusif.

Hal yang sama, di mata Buya Syafi'i Ma'arif, berlaku bagi Ahok. Tidak
peduli bahwa Ahok adalah manusia yang akhlaknya buruk, yang penting ia
adalah sesama anggota klub.
Kalau saja Syafi'i Ma'arif mau berintrospeksi, merendahkan dirinya di
hadapan Tuhan dan menyadarkan diri dari halusinasinya. Ia akan melihat
dengan jelas siapa manusia yang dibelanya mati-matian dan para
pendukung lainnya.Ia akan bertanya, mengapa ia bersama orang-orang
'kafir' yang sebagaimana disebut dalal Al Quran amal-amalnya sia-sia
seperti buih di laut, penggiat LGBT, manusia berakhlak rendah yang
kencing sembarangan usai mengikuti aksi PKI 4-12, koruptor, dan
manusia-manusia tamak yang merampas sebagian besar kekayaan negara
dan hanya menyisakan sedikit untuk yang lainnya.
Di sisi lainnya, ia akan melihat orang-orang yang dibencinya adalah
orang-orang yang lemah-lembut, sayang-menyayangi sesamanya, yang
bercucuran air matanya ketika disebutkan nama Allah, yang rela
mengorbankan harta dan tenaganya untuk membantu peserta aksi 212 dan
menangis setelah mengetahui harta dan tenaga yang dikeluarkannya masih
kurang banyak. Ia juga akan melihat di antara yang dibencinya itu
adalah anak kecil yang melakukan long-march dari Ciamis ke Jakarta
dalam keadaan basah kuyup dan bertelanjang kaki karena sendal jepitnya
putus beberapa kilometer sebelumnya. Ketika ia ditanya mengapa mau
melakukan hal itu, ia pun menjawab bahwa apa yang dilakukannya adalah
amal yang diperuntukkan bagi almarhum ayahnya.

Saya tidak yakin bahwa Sapi Marif akan bisa menangis mendengar kisah
para peserta aksi 212 seperti saya menangis saat menulis artikel ini.
Dan saya akan dengan bangga bersaksi di hadapan Rabb kelak bahwa apa
yang dilakukan peserta aksi 212 dan anak kecil dari Ciamis itu adalah
'air', dan apa yang dilakukan Sapi Marif dan para Jokower-Ahoker
adalah 'buih'.(ca)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini