Sabtu, 26 Maret 2016

Biografi KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa (2)

Pada tahun pertama Kiai Dalhar mengaji di Makkah, terjadi peristiwa
penyerangan Hijaz oleh tentara Sekutu. Tanah Hijaz yang masuk dalam
kuasa Turki Utsmani diserang oleh tentara sekutu. Syekh Muhammad
al-Jilani mendapat tugas untuk berjuang membantu perlawanan tanah
Hijaz, setelah 3 bulan mengaji. Sedangkan, Kiai Dalhar beruntung dapat
terus mengaji selama 25 tahun di tanah suci.

Di tanah Hijaz, nama "Dalhar" menemukan sejarahnya, yakni pemberian
dari Syaikh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani, hingga tersemat nama
Nahrowi Dalhar. Kiai Dalhar memperoleh ijazah mursyid Thariqah
Syadziliyyah dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul
Khairat dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani.

Dari jalur thariqah inilah, Kiai Dalhar dikenal sebagai mursyid, sufi,
ulama 'alim, sekaligus penggerak perjuangan pada masa kemerdekaan di
Indonesia. Kiai Dalhar menurunkan ijazah thariqah syadziliyyah kepada
3 orang muridnya, yakni Kiai Iskandar Salatiga, Kiai Dhimyati Banten,
dan Kiai Ahmad Abdul Haq.

Ketika mengaji di Makkah, secara istiqomah Kiai Dalhar tidak pernah
buang hadats di tanah suci. Ketika ingin berhadats, Kiai Dalhar
memilih pergi di luar tanah Suci, sebagai bentuk penghormatan. Inilah
bentuk ta'dzim sekaligus sikap istiqomah Kiai Dalhar yang telah
teruji.

Kiai Dalhar dikenal menulis beberapa kitab, di antaranya: Kitab Tanwir
al-Ma'ani, Manaqib Syaikh as-Sayyid Abdul Hasan Ali bin Abdullah bin
Abdul Jabbar as-Syadzili al-Hasani, Imam Tariqah Saydziliyyah. Kiai
Dalhar juga menjadi rujukan beberapa kiai yang kemudian menjadi
pengasuh pesantren-pesantren ternama. Di antara murid Kiai Dalhar,
yakni Kiai Ma'shum (Lasem), Kiai Mahrus Aly (Lirboyo), Abuya Dhimyati
(Banten), Kiai Marzuki Giriloyo serta Gus Miek.
Gus Miek juga dikenal dekat dengan Kiai Dalhar.

Dalam catatan Ibad (2007: 31), Gus Miek bisa membina hubungan dengan
Mbah Jogoroso, Kiai Ashari, Gus Mad putra Kiai Dalhar, Kiai Mansyur
dan Kiai Arwani. Kemudian, mata rantai berlanjut, dari Kiai Ashari,
Gus Miek membina hubungan dengan Kiai Abdurrahman bin Hasyim (Mbah
Benu) dan Kiai Hamid Kajoran. Lalu, dari Kiai Hamid Kajoran, Gus Miek
berinteraksi dengan Mbah Juneid, Mbah Mangli dan Mbah Muslih Mranggen.

Perjuangan kebangsaan
Ketika era perjuangan melawan rezim kolonial, peran Kiai Dalhar tidak
bisa dilupakan. Para pejuang di kawasan Magelang, Yogyakarta, Banyumas
dan kawasan Bagelen-Kedu datang ke pesantren Kiai Dalhar untuk meminta
doa. Oleh Kiai Dalhar, para pejuang diberi asma', doa dan ijazah
kekebalan, serta diberi bambu runcing yang telah diberi doa.

Dikisahkan, ketika para pejuang menggempur Belanda di kawasan Benteng
Ambarawa, dimudahkan oleh Allah dengan semangat dan kekuatan. Dorongan
doa dan semangat yang diberikan Kiai Dalhar serta beberapa kiai
lainnya, menambah daya juang para santri untuk bertempur mengawal
kemerdekaan.

Pertempuran laskar santri dan pemuda melawan tentara sekutu, meletus
pada 21 November 1945. Atas desakan laskar dan tentara rakyat, yang
dikomando oleh Jendral Soedirman, tentara sekutu mundur ke Semarang.
Namun, mundurnya Sekutu juga membuat ribut di Ambarawa, yang kemudian
disebut Palagan Ambarawa. Pada perang ini, Laskar Hizbullah dari
Yogyakarta dan kawasan sekitar, bersatu dengan beberapa tentara rakyat
mengepung Ambarawa.

Laskar Hizbullah Yogyakarta mengirim Batalyon Bachron Edrees, tepatnya
di kawasan Jambu dan Banyubiru.
Front Ambarawa dikepung dari beberapa penjuru. Kawasan Selatan
dikepung pasukan gabungan dari Surakarta dan Salatiga. Utara ditempati
pasukan Kedu dan Ambarawa, dari sisi Timur hadir pasukan Divisi IV BKR
Salatiga. Pihak Belanda dan tentara Sekutu bermarkas di Kompleks
Gereja Margo Agung, serta pos militer di perkebunan. Laskar santri di
bawah komando Bachron Edress berhasil mengakses front Ambarawa.
Laskar-laskar santri dan pemuda yang bertempur di Ambarawa, sebagian
besar sowan ke Kiai Dalhar Watucongol dan Kiai Subchi Parakan untuk
minta doa sebelum bergerilya.

Mbah Kiai Dalhar mencatatkan sejarah dalam jaringan ulama Nusantara,
sebagai rujukan keilmuan, perjuangan serta sufisme dalam tradisi
pesantren.

Kiai Dalhar wafat pada 23 Ramadhan, bertepatan dengan 8 April 1959.
Jasad Kiai Dalhar dikebumikan di pemakaman Gunungpring, Watucongol,
Muntilan, Magelang. Kisah perjuangan dan keteladanan Kiai Dalhar
menjadi bukti betapa penting jaringan ulama-santri dalam mengawal
negeri, menjemput kemerdekaan Indonesia.
(nu.or.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini