Kamis, 05 November 2015

Konflik Berdarah Di Suriah Dalam Renungan

Masih ingatkah kita dengan awal-awal konflik berdarah di Suriah?

Informasi apa yang kita dapat mengenai Bashar Assad? Melalui

media-media yang mengklaim diri sebagai media Islam, Assad disebut

sebagai penguasa tiran, anti Islam, kafir, Syiah, membunuhi rakyatnya

yang Sunni, lebih dari itu Assad mengaku diri sebagai Tuhan dan

memaksa rakyatnya untuk menyembahnya.





Faktanya, Bashar Assad adalah seorang muslim Sunni. Ia shalat

bersedekap, tidak dengan meluruskan tangan sebagaimana muslim Syiah.

Ia dari kalangan Alawi, yang artinya termasuk Habaib. Tidak semua

Alawi itu Syiah, sebagaimana Habaib di Indonesia, yang mayoritasnya

justru Sunni.





Meski berpaham sekuler, Basar Al Assaad lebih dekat dengan alim ulama.

Ia rajin shalat berjamaah. Di mushallah kantor kepresidenan, ia

meminta pimpinan atau anggota dewan mufti agung Suriah yang menjadi

imam shalat, sekaligus memberi kultum setiap habis shalat, ia adalah

pendengar ceramah yang khusyuk.





Shalat dhuhur di kantor kepresidenan disiarkan live setiap harinya dan

disiarkan di televisi nasional. Lewat ketetapannya, di Suriah tidak

boleh ada buku yang dicetak lebih indah dari mushaf Al-Qur'an. Coba

cek, kualitas di pasar Al-Qur'an di Mekah dan Madinah, cetakan

Al-Qur'an dari Suriahlah yang kualitasnya paling bagus.





Dia juga diantara penguasa Arab yang terdepan membela Palestina, dia

menyediakan kamp pengungsian untuk rakyat Palestina, Kamp Yarmouk, di

antara pengungsian terbesar dan terbaik yang menampung pengungsi

Palestina. Di Damaskus, dia mengizinkan HAMAS berkantor, dengan biaya

sepenuhnya ditanggung pemerintah Suriah.





Sikapnya yang anti AS dan sering mengkritik penguasa Arab yang pro AS

tentu sangat merepotkan dan mengusik eksistensi Israel. Untuk

menjatuhkannya, ditebarlah fitnah dan berita hoax yang bohongnya tidak

ketulungan, dia disebut mengaku diri sebagai Tuhan. Logiskah, mengaku

Tuhan tapi masih shalat dan menjadi makmum? logiskah alim ulama Suriah

tetap memberi dukungan pada Bashar Assad sementara dia melakukan

kekufuran yang nyata?





Dia diklaim membunuhi rakyatnya yang Sunni? mungkinkah membunuhi

rakyatnya sendiri hanya karena Sunni sementara rakyat Palestina

dipikirkan nasibnya, dibela dan diberi pengungsian yang layak padahal

mereka Sunni? mungkinkah Kepala Mufti Agung Suriah, Perdana Menteri

Suriah, Menteri Pertahanan Suriah, Menteri Dalam Negeri Suriah yang

kesemuanya Sunni mendiamkan dan membiarkan sang Presiden membantai

rakyatnya yang Sunni?. Mungkinkah setelah dibuatkan dan diberi

pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bertahun-tahun lantas

dibunuhi hanya karena rakyatnya Sunni? Mungkinkah OKI mendiamkan

Bashar Assad membunuhi rakyatnya yang Sunni, dengan tetap membiarkan

Suriah menjadi anggota OKI dan tidak memberikan kecaman apapun?.





Fitnah lebih keji dari pembunuhan. Moammar Qadafi telah menjadi korban

dari fitnah, negara yang ditinggalkannya sekarang porak poranda,

rakyat yang dulu disatukannya sekarang bercerai berai dan saling

berebut kekuasaan, kekayaan negerinya yang dulu diolahnya sehingga

mampu menjadikan Libya disegani dan terkaya di Afrika, sekarang

dikuras habis untuk kepentingan korporasi asing. Libya sepeninggalnya,

masuk dalam list negara miskin dan terancam bangkrut dengan tingkat

keamanan berada dilevel terendah..





Akankah Suriah menjadi korban selanjutnya, dan kau turut memberi andil

didalamnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini